Kerinduan Yang Terpendam

WhatsApp Image 2022-03-12 at 19.47.17

Ditulis Oleh : Sdri. Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 63:1-5

.

.

.

.

Semua berawal dari bagaimana insiden itu membawa suatu kisah dan kerinduan untuk selalu bersamanya. Kala itu, aku melangkahkan kaki ku mengikuti irama musik yang ku dengarkan melalui earphone. Alunan musik lembut mengiringi langkahku disepanjang trotoar jalan raya menuju ke suatu supermarket. Mentari pagi memperlihatkan senyumannya yang begitu indah, hingga membuat seakan tidak ada satu tempat pun yang dapat luput dari senyumannya. Selaras dengan hal itu, laju kendaraan yang melintas di sepanjang jalanpun berharap untuk mampu menciptakan alunan musiknya sendiri.

.

.

Sesampainya di Supermarket, aku pun langsung berlari kecil untuk mencapai benda yang mencuri perhatianku, dan pastinya sangat aku butuhkan untuk saat ini. Tanpa aku sadari, ketika tangan ini mencoba meraih benda tersebut, ternyata satu tanganpun ikut meraih benda itu. ‘Sorry, aku duluan’ katanya lembut namun dengan suara bariton khas seorang pria. Namun apalah daya, terdesak oleh keinginan yang kuat hingga tangan inipun mengerti apa yang harus dilakukannya – mempertahankan benda itu. Hingga akhirnya, pria ini pun menyerah dan memberikan benda itu kepadaku, dengan satu syarat. Aku harus memberikan nama dan nomor hp ku.

.

.

Berawal dari pertukaran no hp itulah, kini kami semakin dekat bahkan mengenal satu dengan yang lain. Satu hari tanpa pesan darinya atau pertemuan dengannya, seakan kita hidup di dunia yang berbeda. Pertemuan itu menciptakan kerinduan yang selalu hadir dan memenuhi hari-hari ku. Senyumannya, suaranya, alunan musik yang ia mainkan tiap kali bertemu, bahkan setiap detik kebersamaan kami adalah sebuah rasa yang ingin selalu aku abadikan.

.

.

Berdasarkan ilustrasi di atas, kita dapat sama-sama belajar tentang bagaimana sebuah pertemuan, perkenalan, dan hubungan akan terus menimbulkan rasa ingin selalu bersama dengan seseorang yang kita kasihi. Itulah yang juga di alami oleh Daud. Pertemuan hingga pengenalannya akan Allah membuatnya ingin selalu berada di dalam hadirat Allah. dalam keadaan apapun, Daud tetap merasakan bahwa ia selalu memiliki kerinduan yang terpendam, yaitu kerinduan untuk selalu dekat dan bercengkraman dengan Allah. Lantas, bagaimana dengan kita sebagai orang percaya saat ini? Sudahkah kita mengenal-Nya secara pribadi? Sudahkah kita membangun hubungan dengan-Nya? Dan sudahkan kerinduan yang terpendam itu selalu hadir dan memenuhi hari-hari kita? Sehingga kita ingin selalu untuk berada di dalam hadirat-Nya..

.

.

Sebagai orang percaya kita sering menganggap bahwa persekutuan keluarga, ibadah Minggu, serta beberapa kegiatan pendalaman Alkitab sudah cukup untuk membangun relasi dengan Tuhan. Kita sering beranggapan bahwa Alla mengerti ketika kita sibuk, Allah mengerti ketika kita lelah, dan Allah juga mengerti ketika kita melakukan semua pekerjaan untuk membawa kehidupan menjadi lebih baik, sehingga dapat memberikan persembahan terbaik setiap Minggunya. Dari semuanya hal itu, sadarkah kita bahwa Allah hanya menginginkan satu hal, yaitu persekutuan pribadi dengan-Nya. Dari kisa Daud kita dapat belajar beberapa hal tentang ciri seorang percaya yang memiliki kerinduan terpendam kepada Allah, yaitu :

.

.

  1. Kekosongan Hidup Tanpa Kehadiran Allah (ay.2)

    “….Seperti tanah yang tandus tiada berair.” Daud menyadari tentang betapa kosong dan hampa hidupnya tanpa kehadiran Allah. Itulah yang seharusnya dirasakan juga oleh setiap orang percaya. Ketika kita sadar bahwa kehadiran Allah dalam hidup kita adalah segalanya, maka kita akan senantiasa merasakan kekosongan hidup apabila – meskipun kita melakukan banyak kegiatan sekalipun – kita melupakan waktu pribadi bersama dengan-Nya.

  2. Keterpesonaan Akan Keajaiban Allah (ay.3)

    Ada kalimat yang berkata: “Jika tak kenal maka tak sayang.” Mengenal seseorang berarti kita pernah mengalami pengalaman bersama dengannya, sehingga kita mampu mengerti respon dan tindakan darinya dalam meghadapi kehidupan. Begitupula dengan hubungan kita kepada Allah, jika kita hanya sekedar tahu tetapi tidak pernah mengalami dan menyadari setiap perbuatan-Nya bagi kita, maka kita tidak akan pernah mengalami keterpesonaan yang terus-menerus akan setiap hal yang Allah lakukan dalam kehidupan kita.

  3. Kehidupan Yang Memuji & Menceritakan (ay.4-5)

    Dari kesemuanya itu, kekosongan hidup, serta keterpesonaan kita akan setiap keajaiban yang Allah lakukan dalam hidup ini, maka kita sebagai orang percaya pasti akan meresponi hal tersebut dalam keseharian kita. Ya, kehidupan yang memuji dan menceritakan kasih Allah kepada semua orang. Sehingga, melalui hal tersebut orang lain bisa merasakan dan mengalami hal yang sama dengan yang kita alami, yaitu pengalaman pribadi dengan Alla. Dan melalui itu semua, kitapun pasti akan merasakan seperti apa yang Daud rasakan, dimana kerinduan kita kepada Allah seakan menjadi kerinduan yang terpendam, karena kita selalu ingin berada dalam hadirat Allah. Tuhan Yesus menyertai.

“When we knew God and built our relationship with Him to understand what He want us to do. Believe it, that part of ourself will always need and miss Him in every second in life. It is called, true love.”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email

40 replies on “Kerinduan Yang Terpendam

Comments are closed.

Perjuangan Mengasihi

Ditulis Oleh : Pdt. Joni, S.Th. . .Pembacaan Alkitab : Amsal 14:21-35 . . Mengasihi sesama bukanlah perkara mudah. Sering kali kita terjebak oleh berbagai

Read More »