Kategori
Uncategorized

Kisah kasih ku dengan Dia

Ditulis Oleh : Sdri. Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.

.

Pembacaan Alkitab : Yesaya 43 : 4

.

.

.

.

Dengan langkah aku menyusuri derasnya hujan yang turun membasahi tanah. Hati ku tidak tahan untuk segera bertemu dengannya. Meskipun lupa membawa serta payung atau pun mantel sebagai pelindung tubuh, namun tekad ku untuk berjumpa di hari kasih sayang ini tidak pudar. Lampu-lampu jalan mengiringi setiap langkahku, bagaikan berada di sebuah pertunjukkan besar, ya pertunjukkan tentang perjuangan seorang wanita untuk menemui sang pemilik hati.

.

.

Sesampainya disebuah taman, ku letakkan tubuhku yang basah di suatu bangku. Menunggu dalam diam dan dinginnya hujan, akan kehadiran pemilik hati. Meski ditengah derasnya hujan yang turun, tubuh yang basah, serta dinginnya angin malam, namun secarik senyuman selalu mengiasi wajahku. Waktupun berlalu, menit berjalan ingga jam pun mulai beradu langkah. Dimanakah engkau? Tidakkah kau tahu diriku menunggumu saat ini? Apakah kau melupakan janjimu? Ataukah kau hanya mengulur waktu untuk memberikan yang terbaik sebagai hadiah? Apa kau pergi bersama yang lain?. Berbagai pertanyaan mulai menghiasi pikiranku. Rasa kecewa, marah, curiga, dan sedih bercampur menjadi satu.

.

.

Tepat pukul 23.00, aku memberanikan diriku untuk beranjak, beranjak dari dinginnya besi basah yang terbalut cat tempat ku meletakkan  tubuh ku. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, suatu pesan berbunyi di ponselku. Dengan gemetar, aku pun membuka pesan itu, sejenak tak bisa ku bayangkan apa yang terjadi. Namun yang pasti, semua kecurigaan itu hilang sepenuhnya, tergantikan dengan rasa kehilangan yang mendominasi ini. Ya, kekasihku telah pergi, pergi untuk selamanya, bukan karena melupakan janjinya untuk bertemu, bukan pula pergi untuk mencari yang lain. Tetapi, dia telah pergi, pergi untuk selamanya ketika hendak membawakan hadiah yang terbaik untukku, wanita yang sangat dihargainya, wanita yang sangat dicintainya. Pemilik hatiku, kini telah pergi bersama dengan semua kenangan indah dan telah menjadi hadiah terindah dalam hidupku.

.

.

Seringkali, kita sebagai orang Kristen berkata bahwa ‘Saya mengasihi Tuhan’, tetapi dalam praktik kehidupannya, kita justru mengecewakan Tuhan. Sekilas kisah diatas ingin menyampaikan pesan tentang bagaimana cerita kasih seorang wanita kepada seorang pria, dan pria tersebut juga sangat menghargai dan mencintai wanita itu, bahkan hingga maut yang memisahkan. Demikian pula dengan besarnya kasih Tuhan kepada kita semua.

.

.

Dalam Yesaya 43:4, ingin menyampaikan kepada kita semua tentang bagaimana bukti kasih Tuhan, penghargaan Tuhan atas setiap umat manusia. Bukti kasih ini bukan hanya sekedar ucapan, ataupun janji, melainkan perbuatan yang bahkan rela untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi semua umat manusia. Keberdosaan manusia tidak membuat Tuhan lari atau meninggalkan kita, melainkan Dia justru memberikan nyawa-Nya sebagai ganti dan penebusan dosa kita, sehingga kita (umat berdosa) tidak lagi terperangkap dalam jeratan maut.

.

.

Lalu, bagaimana cara kita agar dapat mewujudkan kisah kasih kita dengan Tuhan dalam kehidupan kita?

.

.

  • Realized that you are precious and His favorite

.

Menyadari bahwa kita berharga dan merupakan kesayangan-Nya, itu adalah hal terpenting bagi kita untuk dapat melangkah maju kepada step selanjutnya tentang kisah kasih kita kepada Tuhan. Keberhargaan, kemuliaan, dan kasih yang Tuhan berikan atas kehidupan kita memampukan kita menerima kehidupan kekal itu. sehingga, ketika kita senantiasa menyadari betapa pentingnya kehidupan kita di mata Tuhan, maka kita pun akan menghargai diri kita sendiri sebagaimana Tuhan Yesus menghargai kita.

.

.

  • Change your life and mindset

.

Mengubah cara pandang kita merupakan suatu langkah yang sulit, namun dapat menjadi penentu bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari kita. Ketika kita sadar betapa berharganya kita di mata Tuhan, maka pikiran dan kehidupan kita juga akan berubah. Berubah bukan berarti semudah membalikkan telaak tangan, tetapi berubah menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan. Hal terpenting ialah mau membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, sehingga kita dapat mengerti rencana-Nya dalam hidup kita.

.

.

  • Feel His Love and share it

.

Ketika sepasang kekasi merasakan suasana jatuh cinta setiap harinya, demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Ketika kita senantiasa membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, maka kasih itu akan terus membara dalam diri kita dan membuat kita ingin selalu berada dalam hadirat-Nya, serta berlanjut pada kerinduan kita agara semua orang juga dapat merasakan kasih itu. Inilah langkah yang tepat bagi kita untuk membagikannya kepada semua orang di sekeliling kita. Sehingga, bukan hanya kita saja yang dapat merasakannya, tetapi setiap umat manusia dan bangsa-bangsa juga turut merasakan besar dan hebatnya kisah kasih kita dengan Tuhan.

.

.

Melalui ketiga langkah ini, kita dapat membangun sebuah cerita indah tentang perjalanan kisah kasih kita dengan Tuhan, sampai kepada kekekalan nanti. Tuhan Yesus Menyertai.

.

.

“Share your love to each other, but don’t ever forget that you are loved by the Masterpiece of life, His name is Jesus Christ.”