Kategori
Uncategorized

DIKEMBALIKAN 100 KALI LIPAT.

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki, atau saudaranya perempuan, bapanya atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

(Matius 19:29)

.

.

.

.

Saat berbicara tentang mengikut Yesus, apakah yang kita pikirkan? Pikul salib? Sangkal diri? Atau upah apa yang akan saya dapatkan? Dalam ayat ini Petrus bertanya tentang apa upah mereka saat mengikut Yesus (ay. 27).  Mereka berpikir bahwa mereka sudah meninggalkan segala-galanya. Pertanyaan ini juga pasti mewakili pertanyaan murid-murid yang lain bahkan kita saat ini? Apa upah saya ketika melayani? Apa upah saya apabila saya setia pada Kristus?

.

.

Jika kita melihat konteks bacaan ini, maka pertanyaan ini dilandasi oleh peristiwa dimana seorang muda yang berpikir sudah melakukan seluruh hukum Taurat pulang dengan sedih karena dia tidak bersedia menjual semua hartanya dan memberikan hasilnya pada orang miskin untuk mengikuti Yesus. Petrus melihat jelas kami lebih baik karena kami meninggalkan segalanya. Muncullah pertanyaan itu.

.

.

Pertanyaan ini jelas muncul karena secara manusiawi dalam melakukan sesuatu akan selalu memikirkan untung rugi dari setiap perbuatannya. Bahkan jika mengorbankan sesuatu, apa yang akan didapatkan dari pengorbanan itu?  Dalam dunia bisnis pun pengorbanan yang dilakukan diperhitungkan secara cermat dalam memikirkan keuntungan besar apa yang akan didapatkan.

.

.

Bagaimana dengan mengikut Yesus? Apa yang kita dapatkan? Mengikut Yesus menderita. Apa akhirnya yang menjadi Ending dari penderitaan yang saya alami. Saat menonton film, kita melihat penderitaan dan pengorbanan dari pemeran utama yang akhirnya berbuah manis di ending film tersebut. Apakah seperti itu pengorbanan kita pada Yesus?

.

.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya tidak pantas untuk dipertanyakan karena dua alasan.

.


1. Tuhan sudah memberikan anugerah keselamatan bagi kita ketika kita percaya padaNya

.

2. Tuhan mahatahu dan mahasegalanya yang tahu bagaimana dia memberikan yang terbaik buat kita.

.

.

.

Namun Yesus menjawab pertanyaan ini dengan baik. Salah satu jawaban yang paling mencengangkan dan banyak dipakai oleh orang-orang masa kini adalah Tuhan akan mengembalikan semuanya saat kita mengutamakan Tuhan dibandingkan keluarga kita dengan nilai 100 kali lipat. Injil Markus juga menulis 100 kali lipat dan Lukas menulis lipat ganda. Intinya upah yang akan diterima melebihi dari yang kita korbankan. Bahkan dalam Lukas 18:30, janji itu akan diberikan pada masa kini yaitu saat kita masih hidup di dunia. Lalu apa upah yang 100 kali lipat itu?

.

.

Kita tidak mungkin mengartikan janji ini secara hurufiah karena akan berujung salah kaprah. Para rasul tidak menerima kembali jala, perahu, rumah dalam jumlah 100 kali lipat. Kita juga tidak bisa berpikir bahwa janji ini akan digenapi ketika kita sudah bersama Tuhan di bumi yang baru. Karena janjinya adalah masa kini. Kita juga tidak bisa mengartikan ayat ini dengan apabila kita mengorbankan uang 1 juta buat gereja akan diganti menjadi 100 juta karena dalam perikop sebelumnya bahwa orang kaya justru disuruh jual hartanya lalu menekankan bahwa lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum dibandingkan dengan orang kaya masuk surga. Bukan berarti tidak boleh kaya. Itu sebabnya kita tidak bisa mengartikan janji ini bersifat duniawi tetapi lebih kepada berkat-berkat rohani.

.

.

Kita punya keluarga yang baru yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya yaitu saudara-saudara seiman (Band. Mat. 12:46-50). Hudson Taylor berkata bahwa ia tidak pernah berhasil berkorban bagi Allah karena setiap kali ia mengorbankan sesuatu bagi Allah, ia menemukan begitu banyak berkat sehingga ia merasa lebih baik dan bukannya lebih buruk ketika menyerahkan apa yang dimilikinya. Matthew Henry berkata dalam mengikut Yesus, para rasul menerima banyak dalam hal kebaikan hati, anugerah, penghiburan, kasih Allah, dan berkat-berkat yang lain. Mereka sudah mendapatkan 100 kali lipat itu. Bukan harta mereka bukan isteri mereka tapi kebaikan-kebaikan Allah pada mereka.

.

.

Memiliki persekutuan dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam mengikut Yesus. Terkadang kita mendengar dalam ucapan-ucapan cinta, “asal bersamamu aku bahagia”. “Aku lebih butuh kamu dibandingkan hadiah yang kamu berikan itu.” Walaupun kalau tidak diberikan hadiah kecewa juga. Anak-anak lebih membutuhkan kehadiran ayahnya dibandingkan harta ayahnya. Di sini kita melihat bahwa “Di sini kita melihat bahwa persekutuan dgn Allah adalah harta yang sangat berharga”. Mari kita melihat beberapa tokoh.

.

.

  1. Polikarpus dari Smirna. Saat gubernur Romawi yang berniat membebaskan dia menyuruh menghujat Kristus. Polikarpus berkata, “ Selama 86 tahun aku telah mengabdi pada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja (Kristus) yang telah menyelamatkanku?” Setelah itu Polikarpus dibakar hidup-hidup. Dari sini kita menemukan bahwa persekutuan dengan Kristus adalah harta yang sangat berharga.

    .

  2. Fanny Crosby pencipta lagu “Ku Berbahagia” dalam Kidung Jemaat nomor 392. Buta sejak kecil. Tetapi justru mampu menemukan makna hidup. Mampu melihat keadaannya sebagai berkat yang harus disyukuri. Bahkan saat kehilangan putri satu-satunya, masih mampu menulis lagu Safe in tha Arms of Jesus (“s’lamat di tangan Yesus”). Lagu ini bisa kita lihat di Kidung Jemaat nomor 388. Lagu ini berisi kelegaan karena jiwa anaknya kini telah berada di surga bersama sang pencipta. Sebuah kalimat yang indah yang pernah diucapkannya adalah jika aku punya sebuah pilihan, aku akan tetap memilih untuk tetap buta … karena ketika aku mati, wajah pertama yang akan kulihat adalah wajah Juruselamatku. Dalam kisah ini kita juga menemukan bahwa hidup bersekutu dengan Tuhan adalah harta yang sangat berharga. Bukankah hati Yesus pedih ketika Dia terpisah dari Bapa saat menanggung dosa manusia?

    .

    .

Karena itu janji berkat Tuhan yaitu sukacita, damai sejahtera kita dapatkan dengan berlimpah di dunia ini di tengah-tengah penderitaan kita sebagai pengikut Kristus. Karena itu mari terus menjalin persekutuan dengan Tuhan dan menemukan upah 100 kali lipat di dalamnya. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Kategori
Uncategorized

Kepedulian terhadap sesama

Ditulis Oleh : Sdr. Dellis Zai

.

.

Pembacaan Alkiab : Galatia 6 : 1-10

.

.

.

.

 

Nats : Galatia 6: karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan seiman.

.

.

.

.

 

Hal yang paling diutamakan semua orang adalah rasa kepedulian kita terhadap sesama baik saudara, teman, pacar, dan sahabat. Menurut KBBI KEPEDULIAN merupakan suatu perihal yang sangat peduli, dengan kata lain adalah sikap mengindahkan (memperhatikan). Rasa Kepedulian ini sering kali terjadi dikalangan orang zaman sekarang, terutama dalam masa pandemic atau orang-orang  di luar sana mereka menunggu rasa peduli dari orang lain.  Namun, dalam kepedulian kita terhadap sesama jangan pernah sekali-kali bersungut-sungut dalam melakukannya. Tetapi dalam melakukan kepedulian harus tulus untuk melakukannya.

Perenungan firman Tuha hari ini mengajarkan kita bahwa, ada tiga point yang perlu kita lakukan dalam melakukan kepeluian kita terhadap sesama, sebagai orang yang percaya, antara lain:

.

.

 

  1. Jangan bermegah atas kejatuhan orang lain (ayat 1-3)

    .

    Dalam perenungan kita saat ini Paulus menegur keras terhadap orang yang bermegah atas kejatuhan orang lain, justru orang yang tidak jatuh kerena rohaninya kuat harus mampu menunjukkan sikap kristiani yang penuh kasih terhadap mereka yang jatuh. Sikap Kristiani itu adalah ujud kualitas kekristenan yang sejati ia tidak akan menghakimi saudara yang sedang jatuh dalam pergumulan. Kita yang rohaninya kuat harus menolong dan mendoakan supaya ke adaan mereka di pulihkan dan diteguhkan dalam Tuhan.

    .

    .

     

  2. .Orang yang melakukan kebaikan, akan menuai yang baik (ayat 4-8)


    Mengapa kita harus menabur kebaikan ? didalam Galatia ayat 7 menjelaskan kalau menabur dalam daging akan menuai kebinasaan dan kalau menunai dalam Roh akan menuai hidup yang kekal. Jadi, kesan Firman Tuhan pada kita taburlah yang baik, jangan tabur yang jahat. Jika engkau menolong orang akan diganti dengan engkau akan di tolong orang Ketika engkau memberkati orang lain kamu akan di berkati. Kenapa? Tuhan melihat semua yang kita lakukan itu, maka   hendaklah kita melakukan seuatu itu dengan ikhlas dan tidak mengharapkan imbalan dari orang yang kita tolong. Nah, Ketika kita melakukan itu Tuhan akan memberkati kehidupan kita.

    .

    .

     

  3. .jangan jemu-jemu berbuat baik (ayat 9-10)


    Jangan jemu berbuat baik. Orang bisa menjadi lemah, menjadi jemu dan orang berhenti berbuat baik. Tetapi, pesan Tuhan dalam ayat ini jangan jemu berbuat baik. Akan ada waktu menuai tapi jika sebelum waktu untuk menuai kamu berhenti menabur kebaikan, jangan-jangan kamu akan menuai yang tidak baik itu. Mengapa? Kalau kita melakukan yang tidak baik, kita akan menuai yang tidak baik itu. Jadi terus tabur saja yang baik itu. Terutama kepada kawan-kawan kita semua, baru kepada orang yang tidak seiman.

“lakukan lah kebaikan itu dengan setulus hati, dengan tidak bersungut-sungut “

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email