Kategori
Uncategorized

IMAN ADALAH KEPERCAYAAN

Kata Yesus kepadanya:”jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21)

.

.

Iman adalah anugerah Allah tetapi juga tanggung jawab manusia. Jika kita membaca ayat ini, jiwa kita mungkin bergejolak bahwa secara fakta kita jauh dari pernyataan Yesus tersebut. Dalam hal ini saya setuju dengan John Calvin (Tokoh Reformator) yang menyatakan bahwa ini kasus khusus yang hanya ditujukan pada anak muda tersebut bukan untuk semua orang. Namun, kita bisa mengambil pelajaran berharga dari ayat ini. Mari kita merenungkan dengan baik apa yang terjadi di sini.

.

.

  1. Seorang muda yang kaya. Menunjukkan bahwa anak muda ini adalah orang yang luar biasa, pekerja keras dan cerdas. Sehingga anak muda tersebut sukses dimasa mudanya.

    .

    .

  2. Anak muda ini memikirkan hidup kekal. Dibalik kesuksesannya, anak muda ini tetap memikirkan hidup yang kekal. Uniknya dia datang pada Yesus bukan para ahli Taurat. Dari pernyataannya bahwa Yesus adalah guru yang baik (Mrk. 10:17), menunjukkan bahwa dia sedang bertanya pada pribadi yang menurutnya baik dan contoh dalam perbuatan baik.

    .

    .

  3. Anak muda ini taat pada hukum Taurat. Tidak diragukan bahwa anak muda ini benar-benar sudah melakukan apa yang dikatakannya. Dia seorang yang sukses dimasa muda menunjukkan bahwa dia pasti memiliki integritas dan Yesuspun tidak membantahnya dalam kemahatahuanNya tentang pernyataan anak muda tersebut.

    .

    .

  4. Tetapi Yesus sedang menghadapi pribadi yang menganggap diri benar.

Banyak orang Kristen yang seperti anak muda ini yang merasa diri benar. Menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak pernah berdusta, tidak mengingini milik orang lain. Dengan melakukan semua itu maka merasa bahwa dia sudah benar-benar mengikut Yesus dan beriman pada Yesus. Yesus memberikan jawaban yang luar biasa terhadap anak muda ini. Jika ingin sempurna, jualah seluruh hartamu dan hasilnya bagikan kepada orang miskin.

.

.

Beberapa hal yang kita pelajari dari kisah ini:

.

.

  1. Tidak ada manusia yang sempurna dan yang mampu masuk surga dengan perbuatan baiknya. Untuk masuk surga itu berat. Yesus bahkan memberikan ilustrasi bahwa lebih muda seekor unta masuk ke dalam kerajaan Allah dibandingkan orang kaya. Ada banyak tafsiran mengenai unta ini tetapi lebih baik kita melihat dari perumpamaan itu bahwa keselamatan itu mustahil bagi kita. Dan itupun dikatakan oleh para murid (ay. 25). Karena itu keselamatan diberikan kepada kita secara Cuma-Cuma melalu iman kepada Kristus. Kesematan itu terlalu mahal bagi manusia.  Sehingga dengan tepat Kristus mengatakan bagi manusia itu tidak mungkin tetapi bagi Allah mungkin. Bersyukurlah karena kita sudah mendapatkan keselamatan itu karena iman pada Kristus.

    .

    .

  2. 10 hukum dibagi menjadi dua hukum kasih yaitu kasih pada Allah dan kasih pada sesama. Sekalipun dia benar tidak membunuh dan lain-lain, tetapi ternyata dia gagal dalam seluruh hukum itu. Dia tidak menjual hartanya. Artinya dia tidak mengasihi Allah. Dia tidak membagikan hasilnya kepada sesama. Artinya dia tidak mengasihi sesama. Satu saja yang tidak dilakukan maka dia melanggar seluruh hukum yang ada. Apa yang kita banggakan dari perbuatan baik kita?

    .

    .

  3. Sang anak muda, masih menjadikan hartanya sebagai berhala baginya. Berhala adalah sesuatu yang kita utamakan diluar Tuhan.

    .

    .

Apa yang Yesus mau dari anak muda ini? Yesus ingin Dia yang menjadi utama dalam hidup anak muda ini. Tinggalkan semua yang bisa membawamu kepada berhala dam ikutlah Aku. Yesus ingin anak muda ini ikut Yesus secara total. Mengapa harta harus dijual? Karena jika ikut Yesus masih ada beban keduniawian kita, kita akan sulit totalitas pada Kristus. Bukan berarti kita benar-benar menjual seluruh harta kita tetapi Tuhan ingin seluruh hidup kita, pikiran kita, hati kita tertuju pada Kristus. Itu adalah iman yang sejati.

.

.

Maka apa itu iman? Iman adalah percaya secara totalitas pada Allah. Anthony Hoekema menyatakan bahwa iman adalah berpaling dari diri sendiri dan bersandar secara penuh pada Kristus. Karena itu Yesus berkata dalam ayat 21 tersebut; “ikutlah Aku”. Iman adalah mengikut Kristus dan bersandar penuh pada Kristus. Iman itu bukan hanya melibatkan pengetahuan, persetujuan tetapi juga tindakan. Tindakan yang menyerahkan seluruh hidup pada Kristus ini diebut dengan kepercayaan (trust).

.

.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.  Kata “dasar” dalam kebanyakan terjemahan dalam bahasa Inggris adalah assurance yang berarti jaminan. Jika kita berbicara tentang jaminan maka pasti ada janji. Janji Kristus. Kita akan memperoleh seluruh berkat-berkat rohani. Artinya, iman kita bersandar kepada Kristus karena jaminan dari Kristus di masa yang akan datang yaitu kehidupan yang lebih baik (Ibr. 11:39-40). Kata “bukti” dalam kebanyakan terjemahan Inggris disebut conviction yang berarti pengakuan atau keyakinan. Maka arti keseluruhan Ibrani 11:1 mengenai iman adalah Keyakinan sepenuhnya untuk bersandar berdasarkan janji yang sudah dijamin yang belum kita lihat yang akan kita dapatkan saat kita bersama dengan Allah di kehidupan yang akan datang.

.

.

Maka iman ini terlihat pada Paulus saat berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Iman ini menghiasi seluruh tokoh-tokoh iman sejak zaman PL, PB, bahkan disepanjang zaman gereja. Mereka yang hidup untuk Tuhan dan mati dalam Tuhan.

.

.

Namun seringkali kita salah memahami iman Karena iman sering kita hubungkan dengan mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mengambil kalimat tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Iman yang besar bisa melakukan hal-hal yang besar tetapi iman yang benar adalah percaya pada seluruh rancangan Allah dalam hidup kita untuk kemuliaanNya. Tanpa meremehkan iman yang besar, mari kita mengejar iman yang benar. Iman yang benar akan timbul dari pengenalan akan Allah (Knowledge), percaya di dalam hati (Assent). Itu yang akan membawa kita pada penyerahan total pada Allah. Kejar iman yang benar dengan terus membangun hubungan dengan Tuhan melalui belajar kitab suci dan doa. Iman yang benar akan membawa kita kepada ketaatan dan kesungguhan di dalam Tuhan.

.

.

Teruslah bertumbuh dalam iman. Teruslah mendekatkan diri pada Tuhan. Serahkan seluruh hidup kita, hati kita, piiiran kita pada Allah. Kita bersandar pada Allah dengan terus mengingat bahwa apa yang kita miliki adalah milik Allah. Dan dalam kesulitan, kita percaya bahwa Allah sedang merancangkan hal yang terbaik dan indah bagi kita dalam kemuliaan-Nya. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email