Categories
Uncategorized

Membangun Bahtera

Ditulis oleh: Sdri. Ria Marissabell

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab: Kejadian 6:9-22

.

.

.

.

“Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” – Kejadian 6:22

.

.

.

.

.

Payung umumnya digunakan untuk melindungi diri dari hujan, namun tidak jarang dan tidak heran sekarang kita melihat orang juga menggunakan payung untuk melindungi diri dari sengatan terik matahari. Kita tidak akan melihat orang tersebut sebagai orang ‘bodoh’ ketika ia menggunakan payung di tengah hari yang panas, mungkin orang tersebut akan dinilai bijak karena dapat menggunakan payung itu dengan efektif. Tetapi bagaimana jika kita melihat orang membangun bahtera di tengah musim panas dan di tengah area yang jauh dari permukaan air laut? Apa yang akan kita pikirkan? Apakah kita akan memikirkan hal yang sama dengan yang kita pikirkan ketika melihat orang yang menggunakan payung di tengah terik matahari tadi?

.

.

Kala itu tidak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan datangnya hujan, tetapi Allah memberikan Nuh suatu perintah yang mengejutkan. Allah tidak memerintahkan Nuh untuk membuat payung sebanyak jumlah orang yang ada di rumahnya, tetapi Allah memerintahkan Nuh membuat bahtera besar. Terdengar sebagai suatu hal yang tidak masuk akal pada masanya, dan itu pulalah yang dipikirkan oleh orang-orang yang hidup di zaman Nuh. Orang-orang ini mungkin mengejek Nuh selama ia membangun bahtera, keluarga Nuh juga mungkin dikucilkan karena hal yang mereka anggap “aneh” tersebut. Tetapi Nuh memilih untuk tetap taat kepada apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Karena Nuh tau orang yang mengolok-oloknya adalah orang-orang yang tuli akan suara Tuhan. Sebab perintah Tuhan adalah suatu kebodohan bagi orang yang akan binasa (band. 1 Kor. 1:18). Apa yang dapat kita pelajari dari ketaatan Nuh di tengah situasi yang “tidak masuk akal”?

.

.

  1. .Iman 


    Allah memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera (ay. 14) karena Allah akan memusnahkan seluruh bumi dan isinya sebab bumi telah rusak dengan segala kejahatan dan kekerasan (Kej. 6:11,13,17), tetapi Allah juga memiliki rencana penyelamatan terhadap Nuh dan keluarganya (ay. 18) sebab ia adalah orang yang tidak bercela dan hidup bergaul dengan Allah (ay. 9). Mungkin jika Nuh menggunakan akal nya untuk mengukur dan memperkirakan kemungkinan terjadinya banjir besar di tempat yang jauh dari permukaan laut dan kemungkinan kecil terjadinya hujan besar, Nuh akan menolak melakukan perintah Tuhan karena “tidak masuk akal”. Namun, Nuh tidak menganggap pengetahuannya lebih besar dari kehendak Allah. Pergaulannya dengan Allah membuahkan iman yang teguh terhadap perintah-Nya. Nuh memilih untuk percaya sepenuhnya kepada rencana Tuhan dan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

    .


    Mungkin sering kali dalam hidup kita, Allah menaruh sesuatu dalam hati kita untuk dilakukan. Dari hal yang paling sederhana seperti memberikan senyum kepada orang yang kita temui atau mengambil sampah yang tergeletak di lantai, sampai kepada hal-hal yang terkadang terasa tidak masuk akal. Misalnya mengambil keputusan besar yang juga beresiko besar. Terkadang, karena keraguan kita untuk melakukannya, kita akan memikirkan berbagai alasan yang lebih masuk akal, untuk menolak suatu tugas yang “tidak masuk akal” yang diberikan Tuhan. Singkatnya, kita sering tergoda untuk menggunakan akal kita untuk berargumentasi dengan perintah Tuhan. Tetapi dari respon Nuh terhadap perintah Tuhan, kita dapat belajar bahwa ketaatan tidak berdiri sendiri, tetapi didasari oleh iman atau kepercayaan yang penuh kepada Sang Pemberi tugas. Dan beriman kepada Tuhan juga berarti bahwa kita mengerti dan sadar bahwa rancangan-Nya melampaui kemampuan akal untuk berpikir

    .

    .

  2. Kerja Keras

    .

    Allah memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera yang besar, bukan bahtera yang hanya dapat memuat 8 orang saja, tetapi bahtera yang juga dapat memuat setiap pasang dari mahkluk ciptaan yang hidup di bumi (ay. 19). Dibutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang besar untuk membuat bahtera sebesar itu dengan peralatan yang konvensional dan jumlah pekerja yang sedikit. Mungkin Nuh dibantu oleh anak-anaknya, tetapi tetap tidak sebanding dengan besarnya bahtera yang Tuhan perintahkan untuk ia buat. Tetapi salah satu bukti dari ketaatan Nuh terhadap perintah Tuhan adalah kerja kerasnya dalam melakukan perintah tersebut. Tidak mudah, tapi tidak mustahil. Sebab ia beriman kepada Pemberi tugas, dan taat kepada tugas yang diberikan. Sehingga ia dapat menyelesaikan apa yang ia kerjakan sesuai dengan yang diperintahkan Allah kepadanya (ay. 22).
    .

    Begitu juga dengan kita, tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita, menuntut kerja keras kita sebagai respon dari ketaatan terhadap perintah-Nya. Baik tugas di tempat kerja, di gereja, di sekolah, di tempat umum, dimana pun Tuhan percayakan kita pada suatu tugas, Tuhan menghendaki kita meresponi nya dengan ketaatan yang ditunjukkan dengan kerja keras. Sulit? Ya. Bahkan hal sederhana seperti perintah untuk mengasihi dengan tersenyum kepada orang yang membenci kita, mungkin terkadang terasa sulit. Tetapi apakah hal-hal sulit ini mungkin dilakukan? Ya. Pekerjaan di kantor, tugas yang menumpuk, bahkan masalah rumah tangga yang rumit, semua nya menjadi mungkin terselesaikan ketika kerja keras kita didasari oleh iman kepada Tuhan dan dorongan untuk menaati perintah-Nya.

.

.

Bayangkan jika ketika Nuh membangun bahtera, ia berhenti di tengah jalan sebab orang-orang mengolok-oloknya atau ia mulai meragukan tujuan dari perintah Tuhan tersebut. Mungkin tidak ada yang selamat dari air bah, tidak ada manusia, tidak juga ada ciptaan lain. Tetapi sekarang, kita dapat melihat bahkan merasakan sendiri buah dari ketaatan Nuh terhadap perintah Tuhan. Peradaban manusia yang masih sampai tahun 2022 ini, adalah salah satu buah dari ketaatan Nuh untuk membangun bahtera saat itu. Ketaatan Nuh menjadi berkat bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk begitu banyak orang yang hidup setelahnya. Mari kita renungkan, jika Tuhan memberikan perintah dalam hati kita untuk kita lakukan, apapun dan dimana pun, ada berapa banyak orang yang mungkin akan terberkati dengan kerja keras yang kita lakukan? Jangan biarkan perkataan orang lain atau bahkan keraguan kita sendiri untuk menghentikan kita “membangun bahtera” yang Tuhan perintahkan. Orang lain dapat berkata yang kita lakukan hanya “membuang-buang waktu dan energi”, “sia-sia”, “tidak masuk akal” dan lain sebagainya. Tetapi ketika kita percaya penuh bahwa perintah itu berasal dari Allah maka tidak ada “bahtera” yang dibangun sia-sia. Dan yang harus kita perhatikan dengan hati-hati adalah perlunya crosscheck keinginan di hati dengan perintah Tuhan. Apakah hal tersebut memang ditaruh Tuhan dalam hati kita sebagai perintah untuk kita lakukan? Atau kehendak kita sendiri? Jawabannya kita dapat kita temukan ketika kita bergaul dengan Allah, sebab dengan begitu kita mengetahui kehendak-Nya. Tuhan Yesus Memberkati! Shalom.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Iman Ditengah-Tengah Badai

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 3:1-9

.

.

.

.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan … (Roma 8:28). Frasa ‘segala sesuatu’ berbicara tentang apapun yang Allah kerjakan bagi kita. Jika kita melihat konteks ayat 17, 18, dan ayat 26, maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang hidup oleh Roh Allah mengalami penderitaan. Sehingga frasa ‘segala sesuatu’ mengarah kepada penderitaan yang sedang di alami oleh orang-orang percaya yang berada di Roma. Walaupun beberapa penafsir sering memutlakkan arti dari frasa ‘segala sesuatu’ namun tetap sependapat bahwa penderitaan adalah bagian dari ‘segala sesuatu’ tersebut. Karena itu penderitaan adalah badai yang kita alami tetapi itu diijinkan Allah untuk kebaikan kita. memberikan kita badai dengan tujuan membentuk kita, memulihkan kita untuk menjadi serupa dengan gambaran anakNya. Bagaimana kita mampu melihat kebaikan di tengah-tengah badai yang harus kita hadapi? Iman akan memampukan kita melihat semua kebaikan dari badai yang kita hadapi. Iman inilah yang membuat raja Daud mampu berdiri teguh di tengah-tengah badai yang harus dihadapi secara khusus dalam pemberontakan Absalom anaknya sendiri (2 Sam. 15). Kesuliatan yang dihadapi Daud adalah …

.

.

  1. Pergumulan emosional. Daud adalah seorang seniman. Seorang seniman memiliki kesulitan yang paling berat yaitu pergumulan emosioanal. Keuangan, kesengsaraan atau penderitaan fisik, pekerjaan berat adalah pergumulan yang masih lebih baik jika dibandingkan dengan pergumulan emosional. Daud harus menghadapi pergumulan dari dalam yakni anaknya sendiri.

    .

  2. Pergumulan menghadapi kelompok orang (ay. 2). Kesulitan lain yang harus dihadapi adalah adanya kelompok orang-orang yang memberontak. Absalom tidak sendiri. Absalom mengumpulkan semua pengikut-pengikutnya untuk memberontak. Penasihat Daud yakni Ahitofel yang justru memihak Absalom. Simei seorang yang berasal dari keluarga Saul terus menerus mengutuki Daud dengan menyebutnya sebagai penumpah darah atau orang dursila.

    .

  3. Takut jika hidup tanpa Allah (ay. 3). Seorang yang saleh adalah orang yang paling takut berpisah dari Allah. Yesus Kristus mengalami ini saat Dia berseru Allah-Ku-Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku? Daud tidak takut kehilangan takhtanya. Daud malah pergi meninggalkan takhtanya. Daud tidak takut kehilangan nama dan jabatan. Tetapi Daud takut berpisah dari Allah (Bnd. Mzm. 22:2-3).

.

.

Bagaimana dengan kita? Badai apa yang kita hadapi? Karena itu mari kita belajar bagaimana iman Daud dalam menghadapi badai. Iman yang membuat Daud semakin mengenal Tuhan.

.

.

  1. Daud memandang Allah sebagai pelindung (ay. 4). Tentu Tuhan melindungi Daud dari Absalom. Bagamana dengan kita? Kita dilindungi Tuhan dari panah si jahat. Musuh kita bukanlah daging dan darah melainkan roh-roh di udara. Allah kehidupan kerohanian kita dan tidak membiarkan Iblis menguasai hidup kita. Perlindungan seperti ini yang kita butuhkan walaupun kita tidak bisa pungkiri bahwa secara jasmani Allah tetap melindungi kita tetapi itu bukan yang utama.

    .

  2. Allah adalah kemuliaan Daud (ay. 4). Iman yang memberikan Daud sikap kerendahan hati yang tidak menempatkan kemuliaannya pada takhtanya atau pada orang-orangnya melainkan pada Allah. Daud dicaci maki dan dihina bahkan meninggalkan takhtanya. Tetapi bukan itulah kemuliaan Daud melainkan Allah. Apakah kita menempatkan kemuliaan kita pada Allah sehingga kemuliaan Allah yang menguasai hidup kita? Kita takut dihina dan dicaci maki. Kita tidak takut direndahkan orang lain. Kita menempatkan kemuliaan kita pada Allah. Dan kemuliaan Allah menjadi tujuan hidup kita.

    .

  3. Allah yang mengangkat kepala Daud. Kepala yang tertunduk berkaitan dengan kekalahan dan rasa bersalah. Maka ketika Tuhan mengangkat kepala raja Daud berarti pemulihan dan keselamatan yang diperoleh raja Daud adalah sebuah keyakinan dan kepastian dari Allah (Band. Ay. 5). Karena itu alangkah indahnya jika dalam kesulitan kita, kita tidak hanya mengenal kesulitan kita tetapi kita juga mengenal Allah kita.

.

.

Iman raja Daud dalam pernyataannya pada ayat 4-5 dibuktikan dengan sikap Daud pada ayat 6-7. Daud bisa tidur dengan tenang saat menghadapi kesulitan hidup dan dengan iman tetap percaya bahwa besok pagi akan bangun dengan kaki yang kuat karena ditopang oleh Tuhan walaupun daud dikepung beribu-ribu musuh.

.

.

Ayat 8 merupakan suatu doa yang lahir dari iman dalam pengalaman bersama dengan Tuhan di masa lampau. Bukan permohonan agar Allah memahami posisi kita karena Dia pasti tahu posisi kita melainkan kita berdoa agar kita bisa memahami Allah. Kita mengenal sifat dan cara kerja Allah dalam hidup kita. Sehingga kita mampu bertahan dalam badai yang kita hadapi.

.

.

Dari perenungan kita kita melihat bahwa kesulitan pasti kita hadapi tetapi Tuhan memampukan kita dan melindungi kita sehingga kita tidak jatuh dalam belenggu kuasa gelap. Kita tetap berdiri kokoh dalam iman dan badai tidak akan pernah mampu memisahkan kita dari kasih Kristus. Sehingga pada ayat 9 kita melihat sebuah kesimpulan dari isi Mazmur 3 ini bahwa tidak ada yang mudah, tidak ada yang instan. Ada harga yang harus kita bayar dalam penyempurnaan kita supaya menjadi seperti Kristus. Iman kita dibentuk dan didewasakan oleh Tuhan melalui pergumulan hidup kita. Dan raja Daud mampu melihat bahwa berkat Tuhan bukan hanya kita rasakan sendiri melainkan semua umat Allah.

.

.

Saya memberikan kutipan yang menarik bagi kita:

Kekuatan Kristen yang sejati lebih terdapat dalam keamanan dan ketenangan pikiran yang berasal dari Tuhan, dalam menahan dan menanti dengan sabar, daripada dalam keberanian nekat yang mengandalkan pedang di tangan.

Matthew Henry

 

Tuhan bukan tidak sanggup untuk mengubah realitas namun seringkali Dia membiarkan realitas yang tidak menyenangkan kita itu tidak berubah, karena Dia lebih tertarik untuk mengubah dan membentuk kita daripada realitas.

Billy Kristanto.

 

Kiranya melalui renungan ini, kita akan terus berdiri dengan iman di tenga-tengah badai dan iman kita terus mengalami pertumbuhan melalu penderitaan kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

ANAK-ANAK TERANG

Ditulis Oleh : Sdr. Adiman Hulu

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Efesus 5 : 1-21

.

.

.

.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” Efesus 5:8

.

.

.

.

Kejatuhan manusia di dalam dosa, mengakibatkan hubungan manusia dengan Allah sebagai penciptanya rusak. Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah pada mulanya, tidaklah bertahanlah lama, sebab manusia atas kehendak bebasnya lebih memilih melanggar apa yang Tuhan telah perintahkan kepada mereka. Akibatnya, manusia hidup dalam kegelapan (dosa).

.

.

Dalam surat Efesus, rasul Paulus berusaha menguatkan iman dan dasar rohani jemaat-jemaat yang ada di Efesus. Rasul Paulus menekankan bahwa penebusan dalam Kristus adalah penebusan yang dilakukan untuk gereja dan juga setiap orang. Paulus menentang kehidupan jemaat-jemaat Efesus yang masih hidup dalam kegelapan (ayat 3,4), dan menekankan kepada mereka bahwa mereka adalah terang dalam Tuhan dan seharusnya hidupnya sebagaimana anak-anak terang (ayat nats).

.

.

Sebagai orang percaya, kita juga sering mengalami seperti yang di alami oleh jemaat-jemaat di Efesus. Sadar tidak sadar, kita masih hidup dalam kegelapan (dosa). Seharusnya, ketika kita mengetahui bahwa kita adalah anak-anak terang, hendaklah juga hidup kita mencerminkan hal tersebut (menjadi surat terbuka bagi semua orang). Tuhan tidak menghendaki kita hidup di dalam kegelapan (dosa), tetapi Tuhan ingin kita mau bersekutu dengan-Nya.

.

.

Ada tiga poin penting yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, untuk menunjukkan bahwasanya kita adalah anak-anak terang, menurut pembacaan firman Tuhan hari ini.

.

.

  • Hidup Dalam Kasih (Ayat 2)

Puncak pengajaran agama Kristen ialah kasih. Artinya, orang percaya diharapkan bisa hidup dalam kasih, sebagaimana Yesus mengasihi manusia. Kasih tidak akan bermakna jika hanya teori saja, tetapi kasih sangat bermakna jika kita mampu menerapkannya dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.

.

 

  • Meninggalkan Perbuatan Kegelapan (Ayat 11)

Sebagai orang yang sudah percaya kepada Kristus, tentunya tidak hidup lagi dalam perbuatan-perbuatan kegelapan, sebab penebusan yang dilakukan dalam Kristus telah membebaskannya dari hal tersebut. Orang percaya adalah milik Tuhan (telah di tebus), untuk itu biarlah hidup kita sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan. “Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran” 1 Yoh 1:6

.

.

  • Mau Melayani Tuhan (Ayat 19)

Melayani Tuhan adalah sudah menjadi kewajiban setiap orang percaya, sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan, yang telah menebus kita dari belenggu dosa (maut). Jangan mengaku sebagai anak terang, jika saudara tidak mau ikut mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan untuk melayani Tuhan. “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” Roma 12:11

“DENGAN HIDUP DALAM KASIH DAN MENINGGAL SEGALA PERBUATAN-PERBUATAN KEGELAPAN, SERTA MEMBERI DIRI UNTUK MAU MELAYANI TUHAN, MERUPAKAN BUKTI BAHWA KITA ADALAH ANAK-ANAK TERANG”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

HADAPILAH MASALAH DENGAN TANGGUNG JAWAB

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Yakobus 1: 2-8

.

.

.

.

Selama kita masih hidup di dunia ini, persoalan akan tetap ada. Bahkan masalah sepertinya datang silih berganti, yang seringkali membuat kita merasa tidak mampu menghadapi semuanya. Jadi apabila saat ini kalau kita berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup ini tanpa masalah, itu berarti kita sendiri ada di dalam masalah, karena telah memiliki pola pikir yang salah. Tidak mungkin manusia hidup didunia ini tanpa masalah. Sebab saat manusia pertama kali jatuh kedalam dosa, ini merupakan sumber masalah yang terbawa sampai saat ini. Dengan pemahaman ini kita akan semakin mengerti bahwa setiap masalah yang datang kita harus tetap menghadapinya, dan bukan berusaha lari dari masalah yang kita hadapi.

.

.

Masalah yang datang harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab, dan berjuang dalam menghadapinya dengan tekun, karena sesulit apapun masalah yang kita hadapi, didalam Tuhan kita Yesus Kristus, pasti ada jalan keluarnya.

.

.

  1. Firman Tuhan mengajarkan kita supaya menganggap sebuah masalah sebagai suatu kebahagiaan. (Ayt.2)

    .

    Mungkin kita berkata bagaimana mungkin kita bisa menganggap setiap masalah sebagai suatu kebahagiaan ? Sebenarnya karena selama ini kita telah memiliki pola pikir yang salah, dimana yang kita inginkan hanyalah hidup tanpa masalah.Padahal dibalik sebuah masalah sesungguhnya kita sedang di didik, kita sedang di ajar oleh Tuhan, supaya kita lulus didalam ujian terhadap iman percaya kita kepada Tuhan. Karena dengan ujian itu maka kita akan semakin bertekun.

    .

    .

  2. Mengucap Syukur dalam setiap keadaan. (Ayt.2-3)

    .

    Kita harus sadar mulai saat ini. Tuhan menginginkan kita menjadi sempurna sama seperti Kristus.Jadi apapun yang sedang terjadi dalam hidup kita saat ini, kita akan tetap berkata kepada Tuhan “ Terima kasih Tuhan untuk segala pesoalan hidup yang harus saya hadapi saat ini”. Memiliki sikap hidup seperti ini, kita akan menjadi pribadi yang dikehendaki oleh Tuhan yaitu; orang yang tahu mengucap syukur didalam segala hal. Tuhan tidak membiarkan kita sendiri. Oleh sebab itu saat kita menghadapi masalah mintalah hikmat Tuhan yang akan menuntun kita untuk menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi.

    .

    .

  3. Meminta hikmat dalam menghadapi masalah bukan meminta Tuhan menjauhkan masalah (5-6)

    .

    Jadi jangan dengan mudahnya kita selalu meminta pertolongan Tuhan untuk mengangkat masalah yang kita hadapi. Tetapi mintalah hikmat Tuhan supaya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi dengan tanggung jawab. Tuhan telah memberikan potensi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya, supaya mampu untuk menghadapi apapun keadaan hidup saat ini. Hal ini juga bukan berarti kita tidak perlu mengharapkan pertolongan Tuhan, tetapi kita harus kerjakan apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kerjakan, sebagai manusia yang bertanggung jawab. Sebab sebagai anak-anak-Nya tanpa kita meminta pertolonganpun, Tuhan pasti menolong, asal saja kita setia didalam Dia. Karena Dia Bapa yang baik. Kita harus belajar menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan. Karena apabila kita tidak menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan, maka jangan pernah berharap Tuhan akan dengan mudahnya mengubah hidup kita

.

.

Dengan menjadi dewasa dalam iman percaya kepada Tuhan, kita akan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sehingga bila ada masalah yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita, kita akan tetap melihatnya bukan lagi menjadi masalah, karena kita tahu didalam Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara (Ayt. 7,8). Persoalan boleh datang, masalah yang kita hadapi boleh silih berganti, tetapi kita tidak akan menjadi takut lagi. Saat ini kita diajar untuk mengerti bahwa, masalah-pun kita telah mnganggapnya sebagai suatu kebahagiaan.

.

.

Jadi sebuah kebahagian hidup bukan hanya sesuatu yang enak untuk dinikmati, yang membuat kita bisa tinggal didalam rasa nyaman, tetapi masalah-pun bagi kita saat ini bisa menjadi sebuah kebahagiaan hidup, karena kita tahu didalam Tuhan kita Yesus Kristus dan oleh hikmat yang Tuhan karuniakan bagi kita, maka kita akan tetap melihat pasti ada jalan keluarnya. Lalu kita bisa berkata kepada Tuhan “Engkaulah kota benteng perlindunganku, disepanjang umur hidupku”.   Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Menyembah Dalam Roh dan Kebenaran

Diulis Oleh : Pdt. Joni, S.Th.

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Yohanes 4:23-24

.

.

.

.

 

Sejak dari semula manusia dicipta dan dirancang Tuhan untuk menyembah Dia, karena itu secara naluriah manusia memiliki kecenderungan untuk menyembah sesuatu.  Sayang, tidak semua manusia menyembah Tuhan, malah menyembah obyek yang salah:  menyembah dewa-dewa, patung, binatang, pohon, gunung, batu, kuburan, matahari dan sebagainya.  Padahal tiada lain yang layak disembah selain daripada Tuhan.  Adapun arti dari penyembahan  (proskuneo)  adalah sikap tubuh yang menyembah sampai ke tanah yang menunjukkan suatu penghormatan, pengaguman dan kasih kepada Tuhan.

.

.

Penyembahan itu tidak berbicara tentang bakat atau talenta seseorang dalam hal bernyanyi.  Mungkin ada orang Kristen yang berkata,  “Suaraku tidak bagus, karena itu aku tidak bisa menyembah Tuhan;  karena aku seorang penyanyi yang sudah menghasilkan album rohani maka aku harus banyak menyembah Tuhan;  karena dipercaya melayani sebagai worship leader dan singer digereja, maka aku harus meluangkan banyak waktu untuk menyembah Tuhan.”  Jika kita memandang penyembahan itu hanyalah sebuah bakat atau talenta semata maka penyembahan kita tidak akan bertahan lama.  Perlu digarisbawahi di sini bahwa penyembahan itu adalah sepenuhnya tentang Tuhan.  Jika kita menyadari akan hal ini maka kita akan menjadikan penyembahan itu sebagai gaya hidup, di mana kita akan menyembah Tuhan di segala keadaan:  baik itu susah dan senang, saat baik atau buruk, kondisi sehat maupun sakit, berhasil atau gagal, keberkatan atau krisis, atau saat ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi sekalipun.

.

.

Penyembahan yang benar kepada Tuhan tidak terbatas pada ruang dan waktu, atau saat menghadiri ibadah di gereja atau persekutuan saja, tapi di mana pun kita berada dan kapan pun itu, karena kita tahu bahwa penyembahan adalah sepenuhnya untuk Tuhan, bukan untuk manusia;  Dialah yang menjadi alasan utama kita untuk tetap menyembah.

.

.

Inilah yang sedang Tuhan cari:  hati manusia yang dengan kerinduan dan kesadaran penuh datang menyembah Dia, bukan karena tradisi atau liturgi belaka.  Tetapi kerinduan untuk menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 4:23-24   Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

.

Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Amin. Tuhan memberkati.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

The Untold Feelings (Perasaan Yang Tak Terungkap)

Ditulis Oleh : Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Matius 11 : 28

.

.

.

.

Begitu sulit rasanya, ketika kita harus menahan dan menanggung semua perasaan akan setiap hal yang terjadi di dalam kehidupan ini. Ketika berlari tidak lagi membuat kita lelah, berjalan tidak lagi membuat kita melupakan semua hal yang terjadi dalam hidup ini, dan ketika beristirahat tidak lagi mampu menjadi waktu yang tepat untuk menghilangkan penat dalam pikiran maupun hati. Perasaan ini sangat mudah disakiti, perasaan ini juga sangat mudah untuk menyakiti. Namun, perasaan ini tidak mudah untuk mengampuni, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata ‘maaf’ kepada orang lain. Keegoisan diri mampu menjadi sebuah tembok yang kuat untuk tetap mempertahankan perasaan ini berpihak pada logika.

.

.

Kehadiran pribadi yang tepat akan memampukan kita untuk dapat memahami perasaan kacau yang terjadi di dalam diri kita. Kehadiran pribadi yang tepat juga mampu menunjukkan kepada kita tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk dapat mengampuni. Kehadiran pribadi yang tepat pula akan menolong kita untuk berjalan maju dan melupakan semua masa lalu yang menyakitkan.

.

.

Karena itulah, kehadiran pribadi ini sejatinya sangat dinantikan oleh semua umat manusia. Dimana kita dapat dengan bebas untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan dan juga mendapatkan jawaban tentang bagaimana kita harus bersikap.

.

.

Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang sanggup menghapuskan semuanya, menolong kita keluar dari keterpurukan dan kekacauan perasaan, bahkan dapat membuat kita sanggup mengampuni orang lain. Sesungguhnya, inilah yang sangat diperlukan untuk kehidupan manusia. Ya, kehadiran seorang Pribadi yang mampu menjadi tempat kita berkeluh kesah, marah, sedih, ataupun senang. Karena Tuhan Yesus telah mengatakannya sendiri, bahwa “Marila kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat.11:28).

.

.

Dalam hal ini, ada dua hal yang ingin Tuhan Yesus sampaikan kepada kita, setiap orang yang percaya kepada-Nya, bahwa:

.

.

  1. Tuhan Yesus adalah tempat kita berkeluh kesah

    .

    Disaat kita merasa lelah dengan semua hal dalam kehidupan ini, datanglah kepada-Nya dan ceritakanlah semuanya. Kita mungkin merasa bahwa Tuhan Yesus sangat jauh dan sulit untuk dijangkau, namun satu hal yang perlu kita  percayai bahwa Tuhan Yesus sejatinya selalu berada di samping kita dan mendengarkan apa yang terjadi pada kita, bahkan sekalipun kita belum menceritakannya kepada Tuhan Yesus. Karena itu, sadarilah dengan benar bahwa ada satu Pribadi yang tidak pernah melepaskan genggaman-Nya dari tangan kita. Dan ada satu Pribadi yang ikut merasakan apa yang kita rasakan.

    .

    .

  2. Tuhan Yesus sendiri yang akan memberikan kelegaan kepada kita

    .

    Hukum alam dalam kehidupan manusia ialah, ketika kita bercerita atau mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita maka dengan sendirinya kita pasti akan merasa lega. Namun, sadarkah kita bahwa ketika kita mengungkapkan semuanya yang ada di dalam hati, di saat itu jugalah Tuhan Yesus sedang menggantinya dengan damai yang sejati. Damai yang sejati tidak hanya bertahan dalam beberapa waktu saja, tetapi damai yang sejati adalah sebuah ketenangan hati yang memampukan kita untuk dapat menguasai diri kita. Sehingga, apapun yang terjadi, sesakit apapun itu, kita akan tetap mampu berkata bahwa ‘Tuhan itu teramat baik’

.

.


Inilah yang menjadi renungan singkat bagi kita, bahwasanya perasaan yang sulit untuk diungkapkan sesungguhnya adalah perasaan yang sudah terlebih dahulu Tuhan Yesus ketahui, bahkan sebelum kita membicarakannya. Akan tetapi, ketika kita ingin lepas dari jerat ketidaknyamanan hati kita, maka bagian kita adalah bercerita pada-Nya dan biarkan Dia menggantinya dengan damai sejati. Tuhan Yesus Menyertai.

God given us the ability to tell everything what we feel. So, He can change it to be the eternity peace from Him –

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

WAKTU TUHAN

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.(Pkh. 3:11)

.

.

.

.

.

.

Apa yang kita pikirkan saat kita berbicara tentang waktu Tuhan? Beberapa rekan memberikan jawaban bahwa waktu Tuhan adalah proses Tuhan, waktu yang diberikan Tuhan bagi umatNya untuk melakukan segala hal menyangkut jasmani dan rohani sesuai kehendak Tuhan. Kita juga pernah mendengar lagu tentang “waktu Tuhan”. Lagu yang menceritakan tentang segala sesuatu diijinkan Tuhan terjadi pada kita untuk kebaikan kita sesuai dengan waktu Tuhan. Lagu ini sangat memberkati banyak orang percaya.

.

.

Lalu bagaimana kita memahami waktu Tuhan? Yang pertama perlu kita sadari adalah Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan waktu diciptakan oleh Tuhan. Tuhan maha sempurna dalam kuasa, kebijaksanaan, dan pengetahuanNya. Tuhan kita berdaulat atas segala sesuatu dan apapun yang terjadi dalam hidup kita berada dalam kedaulatan Allah.

.

.

Ketika kita berbicara tentang waktu Tuhan maka kita berbicara tentang apa yang Allah kerjakan di waktu itu. Jadi ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi perenungan kita tentang waktu Tuhan.

.

.

  1. Waktu Tuhan ketika melepaskan kita dari cobaan. Alktitab tidak pernah membicarakan berapa lama waktu seseorang mengalami pencobaan dan kapan melepaskan kita dari cobaan tersebut. Yusuf mengalami pencobaan selama 13 tahun sejak usia 17 tahun dijual oleh saudaranya (Kej. 37) sampai menjadi orang kedua di Mesir pada usia 30 tahun (Kej. 41:46). Raja Daud tidak begitu pasti usianya saat diurapi menjadi raja oleh Samuel namun diperkirakan bahwa Daud diurapi menjadi raja oleh Samuel disaat usia masih belasan tahun dan baru benar-benar menjadi raja pada usia 30 tahun. Artinya lebih dari 10 tahun Daud harus mengalami masa ketakutan karena dikejar-kejar seperti musuh oleh raja Saul sebelum dia benar-benar duduk di atas takhta. Kita tidak pernah tahu berapa lama kita mengalami pencobaan tetapi Tuhan memberikan janji bahwa pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita bahkan memampukan kita menghadapi pencobaan tersebut (Band. 1 Kor. 10:13). Dalam suratnya pada jemaat di Filipi, rasul Paulus menjelaskan bahwa segala perkara dapat kita tanggung di dalam Tuhan  (Flp. 4:13).

    .

    .

  2. Waktu Tuhan dalam menjawab doa. Alkitab juga tidak pernah mencatat kepastian berapa lama kita berdoa lalu Tuhan menjawab. Ada yang cepat dan ada yang lambat bahkan ada yang tidak dijawab. Abraham dijanjikan akan menjadi bangsa yang besar pada usia 75 tahun dan dalam kejadian 15 Abraham berdoa meminta seorang anak. Tidak ditahu pasti berapa usia Abraham saat itu namun yang kita tahu adalah Abraham memiliki seorang anak yang dijanjikan itu pada usia 100 tahun (Kej. 21:25). Artinya ada 25 tahun sejak janji Tuhan akan menjadikan Abraham menjadi bangsa yang besar dan juga Abraham harus menunggu bertahun-tahun setelah mendoakan agar memiliki seorang  anak karena Sara mandul. Monika, ibu dari Agustinus dari Hippo seorang Bapa Gereja yang terkenal juga adalah seorang ibu yang mendoakan pertobatan suami dan anaknya Agustinus. Suami Monica adalah orang yang tidak percaya pada Tuhan dan anaknya Agustinus yang hidup dalam kekacauan (hidup bersama wanita tanpa ikatan perkawinan). 17 tahun mendoakan suami dan akhirnya suami bertobat dan bahkan ibu mertuanya dan agustinus beberapa tahun kemudian. Monika, berdoa selama 20an tahun lalu terjadi pertobatan kepada Agustinus.

    Kita tidak tahu kapan waktu Tuhan. Kita tidak tahu juga seperti apa jawaban Tuhan. Tetapi Alkitab mengajarkan kita untuk terus bertekun dalam doa (Mat. 7:7-11).

    .

    .

  3. Waktu Tuhan dalam mengakhiri segala sesuatu. Kapan kita mati? Kapan Yesus datang kedua kali? Tidak ada yang tahu tentang hal itu. Alkitab tidak pernah memberitahukan kapan waktunya tetapi semua itu pasti akan terjadi

Tetapi perikop kita mengajarkan bahwa semua akan indah pada waktunya. Alkitab juga mencatat bahwa segala penderitaan yang kita alami adalah untuk kebaikan kita yaitu untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (Roma 8:28-29). Alkitab mencatat bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera dan penuh harapan (Yeremia 29:11), janji Tuhan ini tentu bagi bangsa Israel yang berada dalam pembuangan tetapi mereka dijanjikan masa depan yang penuh harapan. Tetapi janji ini juga berlaku bagi kita. Masa depan kita penuh harapan. Alkitab tidak menjanjikan bahwa kita akan kaya dan sukses dalam bisnis kita. Bukan masa depan yang seperti itu yang Tuhan janjikan. Masa depan kita adalah masa bersama dengan Tuhan dalam kekekalan. Karena itu janji Tuhan akan indah pada waktunya adalah untuk kebaikan kita dari perspektif Allah. Kita sering tidak menyukai apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita padahal itu yang terbaik buat kita. Sama seperti kita tidak menyukai obat padahal itu baik buat kita. Kapan kita terlepas dari penderitaan? Tidak tahu. Kapan kita disembuhkan dari sakit saat sakit? Tidak tahu. Kapan doa kita dijawab? Tidak tahu. Tetapi yang kita tahu adalah Tuhan kita tidak pernah ingkar janji, Tuhan kita tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu bersama kita saat kita mengalami semua penderitaan kita.

.

.

Karena itu, yang perlu kita lakukan didalam segala kesulitan hidup kita yaitu:

.

.

  1. Tetap percaya pada Tuhan (Tuhan lebih memahami kita daripada kita sendiri). Manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir

    .

  2. Tetap memiliki pengharapan. Pengharapan dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan

    .

  3. Tetap sabar dan berjaga-jaga dengan hidup sesuai kehendak Tuhan. Semua itu agar semua orang takut akan Tuhan (ay. 14).

    .

  4. Tetap rendah hati karena apa yang Allah kerjakan bukan semata-mata untuk kita tetapi kemuliaan Allahlah yang menjadi tujuan pekerjaan Allah dan hidup kita. Marilah kita berpikir tentang kerajaan dan kemualiaan namaNya maka kita tidak terpuruk dalam kepedihan dan penderitaan yang kita alami.

Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Menjadi Alat Kristus

Ditulis Oleh : Dellis Zai

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 9 : 1-19a

.

.

.

.

Kis. 9:15

Tetapi Firman Tuhan “pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang -orang Israel.

.

.

.

.

Setiap orang yang percaya kepada Kristus  pasti ia menjadi alat dalam mengikut Kristus. Tetapi dalam menjadi alat harus rela berkorban untuk memberikan dirinya sebagai alat dalam untuk orang lain bukan hanya dalam gereja, di luar juga.  Menurut KBBI menjadi alat Yaitu benda yang dipakai untuk mengerjakan segala sesuatu.

Dalam menjadi alat Kristus  merupakan hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Memang dalam menjadi alat Kristus itu, tidak semudah yang kita pikirkan atau segampang membalikan telapak tangan untuk menjadi alat-Nya. Kalau kita lihat dalam konteks pembacaan kita, bagaiaman kehidupan Rasul Paulus sebelum ia menjadi alat Kristus walaupun latar belakang dia seorang pengaiaya Yesus atau murid Yesus.

Untuk menjadi alat kristus ada banyak 3 point yang perlu kita terapkan daln kehidupan kita sebagai orang yang percaya.

.

.

  1.  Rela menderita dengan kristus
    .
    Semua manusia pasti tidak mau menderita . Namun, dalam Thema kita merupakan sebuah hal yang mengajak kita untuk menderita dengan kristus. Memang jelas dalam mengikuti kristus banyak hal yang kita hadapai, seperti cobaan, masalah, dll. Tetapi, untuk menjadi alat kristus harus rela menderita, penderitaan yang kita alami jangan pernah mengatakan ini cobaan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan kepada setiap orang yang mau mengikuti dia, namun bagaimana kita harus sedia dalam menjadi alat-Nya.
    .
    .
  2. Menjadi alat yang setia

    Dalam menjadi alat yang setia, merupakan sebuah hal yang perlu kita terapkan dalam kehidupan kita maupun dalam diri orang lain. Bagaimana kita harus setia menjadi alatnya untuk memberitakan kerajaan-Nya ditengah-tengah banyak orang ada banyak orang Kristen zaman sekarang mereka percaya kepada Kristus, tetapi mereka tidak mau menjadi alat yang setia atau menjadi berkat kepada orang lain. Namun, kita sebagai orang percaya harus meneladai sikap kristus didalam kehidupan kita, baik kepada orang lain, maupun kepada sekitar kita.
    .
    .
  3. Melayani Tuhan dengan kesungguhan hati

    Artinya harus sungguh-sungguh untuk menjadi alat-Nya dimanapun kita melayani (Kol 3:23) ayat ini merupakan sebuah penguatkan kita dalam melayani Dia. Janganlah kita pernah memandang apa yang kita kerjakan dalam kristus, dan biaralah itu menjadi sebuah kerelaan hati kita untuk melakukan kesemua orang.

Jadilah alat yang berguna dan bermanfaat kepada semua orang, bukan menjadi batu sandungan kepada orang lain atau menunggu orang lain menjadi alat.

Categories
Uncategorized

CUBITAN CINTA

Ditulis Oleh : Adiman Hulu

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Galatia 4 : 16

.

.

.

.

“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?”

.

.

.

.

Saat saya masih kecil, saya sering mendapat cubitan dari kedua orang tua saya. Sebagai seorang anak kecil, yang belum tahu membedakan mana yang baik dan yang jahat, saya berpikir kalau cubitan yang diberikan oleh kedua orang tua itu, didasarkan atas dasar adanya rasa benci mereka terhadap saya (pikir saya, karena terasa sakit). Namun, setelah saya beranjak dewasa, saya baru memahami bahwa cubitan yang diberikan kedua orang tua saya selama ini bertujuan untuk mengubah perilaku saya, dari yang tidak baik menjadi baik.

.

.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa cubitan adalah sebuah tindakan mencubit yang bertujuan untuk menegur atau mengoreksi tingkah laku seseorang, yang di anggap salah/tidak benar. Dalam pembacaan firman Tuhan hari ini, rasul Paulus memberikan sebuah koreksi kepada kehidupan jemaat-jemaat yang ada di Galatia. Koreksi yang disampaikan oleh rasul Paulus bukanlah sebuah koreksi yang didasarkan atas rasa benci, melainkan koreksi yang di penuhi dengan cinta, agar jemaat-jemaat yang ada di Galatia kembali kepada iman mereka yang semula, yakni iman kepada Yesus Kristus.

.

.

Namun, respon jemaat-jemaat Galatia terhadap cubitan cinta yang disampaikan oleh rasul Paulus sangatlah tidak baik. Mereka justru menunjukkan sikap kebencian, permusuhan dan tidak senang terhadap rasul Paulus (ayat nats). Kehidupan orang percaya saat ini juga tidak terlepas dengan yang namanya koreksi (baik kita yang mengoreksi orang lain, maupun kita yang di koreksi oleh orang lain).

.

.

Ada dua poin penting yang harus kita ketahui bersama, supaya kita dapat memberikan cubitan cinta kepada orang lain dengan benar dan menerima cubitan cinta dari orang lain untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

.

.

  • Mengoreksi Diri Sendiri Sebelum Mengoreksi Diri Orang Lain

Artinya, sebelum kita mengoreksi orang lain, hendaklah kita mengoreksi diri kita terlebih dahulu. Sebagai orang percaya, hendaklah kita menjadikan diri kita terlebih dahulu sebagai teladan yang baik, yakni dengan menerapkan hal-hal yang benar dalam kehidupan kita. Karena pada dasarnya, koreksi yang kita sampaikan kepada orang lain akan sia-sia (tidak berdampak pada perubahan yang baik), jika hidup kita sendiri tidak benar.

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui” ( Matius 7:3 )

.

.

  • Menerima Koreksi Dari Orang Lain, Dengan Bijak

Artinya, sebagai orang percaya, hendaklah kita merespon segala sesuatu dengan bijak, tidak menerima secara mentah-mentah, melainkan menganalisa setiap koreksi tersebut, apakah benar atau tidak, apakah sesuai dengan standar iman percaya kita atau tidak. Jika kita di koreksi, anggaplah itu sebagai sebuah ujian, yang bertujuan untuk mendewasakan iman kita dalam Kristus Yesus.

“Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi” ( Amsal 15:32 )

.

.

”JIKA CUBITAN CINTA MEMBERI RASA SAKIT PADA DIRIMU, BIARLAH PERUBAHAN BAIK DARIMU,  SENANTIASA MENYENANGKAN HATI TUHAN”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

I’M A CHRISTIAN

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

.

Pembacaan Alkitab :1 Petrus 4:7-11

.

.

.

.

Hidup sebagai seorang Kristen pastinya Kita tidak malu atau segan lagi memberikan pernyataan “I’m a Christian”. Tetapi apakah sampai saat ini kita sudah benar-benar menghidupi cara hidup yang sesuai dengan pernyataan tersebut? Dalam renungan ini ada 3 Hal yang harus mampu Kita lakukan sebagai seorang Kristen:

.

  1. Mampu menguasai diri sendiri (Ayt. 7)

    Penguasaan diri adalah Kita mampu untuk menahan, mengekang, Dan menjaga diri dari dosa agar tidak di perbudak oleh dosa. Sebagai seorang pengikut Kristus Kita harus bisa menguasai diri Kita sendiri, hal ini memiliki tujuan yaitu supaya Kita dapat berdoa. Yang artinya sebagai seorang Kristen Kita harus menguasai diri supaya Kita selalu  membangun hubungan yang intim dengan Kristus
  2. Mampu mengasihi dengan sungguh-sungguh (Ayt. 8-9)

    Sebagai Kristen Kita “kasih” pasti bukan lagi kata yang asing untuk kita. Namun seharusnya kasih menjadi dasar hidup Kita sebagi pengikut kristus. Firman Tuhan kembali mengingat kan Kita sebagi orang yang berkata “I’m a Christian” harus mengasihi dengan sungguh-sungguh ini berarti Kita harus mampu mengasihi dengan segenap Hati , tekun, Dan tidak main main (Roma 2:9-10).
  3. Mampu mempergunakan segala sesuatu yang Tuhan Anugerahkan (Ayt. 10-11)

    Tuhan memberikan berbagai karunia yang beragam kepada setiap Kita sebagi seorang Kristen. Seharusnya Kita mampu mempergunakan semua itu kembali menjadi kemuliaan Tuhan. Dengan setiap Hal yang Tuhan Anugerahkan Mari Kita mempergunakan nya dalam melayani Dia, karena pada kesimpulannya adalah “Supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Kristus ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya” AMIN.
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email