Categories
Uncategorized

DOA BUKAN SEKEDAR PERMINTAAN

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Matius 7:7-11

.

.

.

.

Marthin Luther berkata bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya. Saat kita memiliki perspektif bahwa doa adalah sebuah permintaan, kita akan cenderung berdoa saat merasa butuh. Namun kita akan melihat doa dari perspektif yang lain berdasarkan ajaran Yesus dalam Matius 7:7-11. Ada 3 hal yang perlu kita renungkan dari bacaan kita saat ini.

  1. . . Kata “Mintalah”, “Carilah”, “Ketoklah” memiliki bentuk kata Present Imperatif yang berarti suatu perintah yang dilakukan secara terus menerus. Kita diajarkan untuk berdoa bukan hanya saat butuh tetapi setiap saat.
    .
    . . Hal lain yang bisa kita pelajari dari perintah ini adalah Allah sangat menyukai saat kita berdoa padaNya. Seorang anak bisa saja membuat kesal ayahnya saat meminta sesuatu secara terus menerus. Tetapi Allah kita berbeda. Allah justru sangat menyukai saat kita terus berseru padaNya. Karena itu marilah kita terus berdoa karena :
    a. Itu artinya kita sangat bergantung pada Tuhan
    b. Tuhan sangat menyukai saat kita terus berseru padaNya..
    ..
    .
  2. . . Ayat 8 merupakan penegasan bahwa Tuhan memperhatikan setiap doa kita. Abineno menjelaskan bahwa ketiga Passivum dalam ayat ini yakni menerima, mendapatkan, dan dibukakan pintu adalah futurm passive yang menyatakan sesuatu yang pasti terjadi.
    Future berbicara tentang masa depan. Karena itu kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan setiap doa kita di masa yang akan datang. Allah tidak mempermainkan doa kita.
    .
    .
  3. Jawaban Tuhan.
    .
    . . Pertama-tama Yesus memberikan sebuah gambaran tentang sikap seorang ayah dalam menanggapi permintaan seorang anak. Kita akan masuk ke kehidupan orang Yahudi saat itu:
    1. Tidak mungkin memberikan batu jika anaknya meminta roti. Batu kapur yang ada dipantai banyak yang mirip roti (William Barclay). Batu yang bundar mirip roti bundar (Abineno).
    2. Tidak mungkin memberikan ular jika meminta ikan. Ular yang dimaksud lebih kepada belut karena memang belut dilarang untuk dimakan.
    3. Tidak mungkin memberikan kalajengking jika meminta telur (Luk. 11:12). Di Palestina, Kalajengking besar warnanya mirip telur.
    .
    .

    . . Terlepas dari 3 penjelasan berdasarkan konteks situasi saat itu di Israel, Yesus ingin menyampaikan bahwa bapa yang jahat pun tidak akan memberikan pemberian yang menyakiti anaknya.
    .
    .

    . . Kata “jahat” dalam ayat 11 tersebut berasal dari kata poneros yang berarti serakah, mengingat diri sendiri (egois). Jadi, seorang ayah yang serakah dan egois ini pun tahu bagaimana memberi yang baik pada anaknya apalagi Bapa kita. Yesus memberikan penjelasan bahwa jawaban Tuhan adalah “yang baik” bukan yang mereka minta. Kalau Injil Lukas menjelaskan bahwa Allah memberikan Roh Kudus (Luk. 11:13). Untuk bisa memahami kaitan antara Roh Kudus dalam Lukas 11:13 dan “Yang Baik” dalm Matius 7:11, kita melihat sebuah synonymous parallelism pada Yesaya 44:3b dimana di sana dijelaskan bahwa Roh Tuhan = Berkat Tuhan. Itu sebabnya kita juga bisa memahami dalam injil Matius dan Lukas Tersebut bahwa Roh Kudus = Yang Baik = Berkat Tuhan.
    .
    .

    . . Apa arti “yang baik” di ayat ini?
    .
    . . Injil Lukas menggabungkan khotbah Yesus ini dengan “Doa Bapa Kami” sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa frasa “yang baik” yang dimaksud oleh Yesus adalah segala sesuatu yang ada dalam “Doa Bapa Kami”. Mengingat Allah adalah satu-satunya pribadi yang baik (band. Matius 19:16-17), maka kita bisa memahami bahwa “yang baik” yang dimaksud adalah segala sesuatu yang baik menurut kehendak Allah, bukan menurut kehendak kita.
    .
    .

    Tentu ini menjadi sukacita besar bagi kita karena:
    1. Allah kita adalah Allah yang baik dan kita memanggilNya Bapa.
    2. Bapa kita lebih mengerti apa yang kita butuhkan dibandingkan diri kita sendiri.
    .
    .

    . . Maka kita bersyukur Tuhan menjawab doa kita berdasarkan kehendakNya bukan berdasarkan keinginan kita karena itu bisa menjerumuskan kita sendiri.
    .
    .

    . . Orang Yunani memiliki cerita dimana dewa mereka senang menjawab doa-doa para penyembahnya tetapi jawabannya selalu mengandung duri. Misalnya Aurora (dewi fajar) yang jatuh cinta pada manusia biasa bernama Tithonus meminta agar Tithonus diberi hidup kekal tetapi lupa meminta awet muda. Dewa Zeus mengabulkan untuk hidup kekal. Tetapi Tithonus tidak awet muda. Kekal tetapi tua. Itulah Dewa Zeus yang suka mempermainkan para pemohonnya sehingga jawaban doa malah jadi seperti beban dan kutukan.
    .
    .

    . . Allah kita tidak akan mempermainkan kita dengan doa kita. Dari cerita Yunani tersebut kita bisa melihat bahaya jika Tuhan mengikuti semua yang kita katakan. Karena kita sering tidak tahu apa yang kita butuhkan
    .
    .

Allah kita adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia ingin kita bergaul erat denganNya. Dia ingin kita selalu bergantung padaNya. Dia memperhatikan setiap doa-doa kita. Dia begitu bersukacita saat kita berseru padaNya. Dalam kasihNya Ia juga tidak ingin kita terjebak dalam keegoisan untuk mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Atau terjebak dalam keserakahan bahwa Tuhan harus memberikan semua permohonan kita. Atau kebinasaan kekal karena permohonan kita justru membuat kita semakin jauh dariNya. Karena itu Dia memberikan “yang baik” yaitu yang sesuai dengan kehendakNya bagi kita sehingga kita menikmati hubungan yang indah dalam pergaulan kita bersama dengan Tuhan.

Karena itu doa bukan sekedar permintaan tetapi hubungan yang indah dan yang sempurna berdasarkan kasih antara yang tidak sempurna dan yang sempurna antara pribadi yang terbatas dan yang tidak terbatas.

Teruslah berdoa dalam hidup kita secara pribadi, keluarga, dan persekutan saudara seiman. Tuhan memberkati kita. Amin.

Categories
Uncategorized

MENJAGA SECARA TOTALITAS

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

AYAT BACAAN : Mazmur 121:1-8

.

.

.

.

.

.

. . . . Manusia cenderung mengharapkan rasa aman, karena pada kenyataannya manusia tidak bisa lepas dari rasa kekuatiran, ketakutan bahkan kegelisahan. Melihat keadaan saat ini banyak hal yang membuat rasa aman manusia terancam, untuk itu tidak sedikit orang menggunakan berbagai cara untuk melindungi diri dari berbagai ancaman bahaya, bahkan ada orang yang merelakan hartanya supaya memiliki rasa aman, contohnya menggunakan CCTV, maupun jasa keamanan dan sebagainya. Hal tersebut dilakukan supaya tetap merasa aman dalam berbagai situasi yang dapat mengancam keamanannya, namun hal ini tidak secara utuh dapat memberikan rasa aman atau usaha manusia untuk mendapat rasa aman tidak mampun menjaga secara totalitas. Lalu bagaimana kita bisa mendapatkan rasa aman dan ketenangan ketika situasi dan keadaan mengancam kehidupan kita sebagai manusia yang memerlukan perlindungan?.

.

.

. . . . Kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut dalam Mazmur 121. Dalam Mazmur ini diawali juga dengan sebuh pertanyaan, ayt. 1 “Aku melayangkan mataku kegunung-gunung darimanakah akan datang pertolonganku?”. Pemazmur menuliskan hal tersebut pastinya karena mengalami situasi sulit dan mengharapkan pertolongan. Dalam ayt. 2 Pemazmur menemukan asal pertolongan yang dapat menjaganya secara totalitas, “Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi”. Pemazmur sangat yakin bahwa Tuhanlah satu-satunya yang dapat menolong manusia karena Tuhan yang menciptakan segalanya (Langit dan bumi). Dalam pernyataan pemazmur ini juga mengingatkan kita pada orang-orang percaya pada saat ini bahwa yang mampu menolong, dan menjaga kita secara totalitas adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

.

.

. . . . Tuhan adalah penolong dan penjaga hebat. Tuhan bukanlah CCTV yang hanya menangkap gambar ketika kita dalam bahaya namun tidak dapat menolong kita dari bahaya, Tuhan juga tidak seperti para tenaga keamanan yang pastinya memiliki keterbatasan dalam memberi perlindungan, pertolongan maupun penjagaan, Tuhan tidak seperti alarm yang hanya dapat memberikan peringatan bahaya namun tidak dapat menolong. Tuhan adalah pribadi yang mampu menolong sekaligus memberikan jaminan keselamatan. Apa yang dapat dilakukan oleh Tuhan sebagai penjaga secara totalitas?

.

.

  1. Tuhan Tidak membiarkan orang percaya goyah (ayt. 3a).
    .
    .
  2. Tuhan tidak pernah lalai, tertidur dan terlelap (aty. 3b-4).
    .
    .
  3. Tuhan tidak hanya menjaga tubuh namun juga menjaga nyawa (5-7).
    .
    .
  4. Tuhan tidak menjaga hanya sampai hari ini, besok atau lusa namun Tuhan menjaga sampai selama-lamanya (ayt. 8).

.

.

. . . . Diawal tahun yang baru ini mari kita terus bersandar dan berharap kepada Tuhan karena keadaan pastinya tidak akan selalu baik-baik saja, semakin hari keadaan pasti semakin banyak masalah dan bahaya akan semakin bertambah. Dalam Efesus 5:16 “Dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat”, keadaan boleh semakin membburuk namun orang percaya akan terus aman karena ada pribadi yang mampu menjaga secara totalitas. Ketika kita terus berlindung dalam naungan Tuhan maka kita mampu menyaksikan pertolongan-Nya setiap  saat dan kita mampu berkata seperti yang dikatakan oleh rasa Salomo dalam Amsal 14:26 “Dalam takut akan Tuhan ada ketentraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya”.

.

.

. . . . Jika ditahun lalu kita telah melihat bagaimana penjagaan Tuhan dalam hidup kita maka ditahun yang akan kita lalui ini juga Tuhan pasti akan terus menjaga dan menolong kita secara totalitas sampai selama-lamanya.  Kiranya renungan singkat ini dapat meneguhkan dan memberkati kita semua, Tuhan Yesus memberkati. Amin

Categories
Uncategorized

Jangan Pernah Jemu dalam Melayani Allah

Ditulis Oleh : Bapak Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Kor. 15:58).

.

.

.

.

. . . Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1). Kalimat ini mengajarkan kita bahwa pelayanan adalah “all your activities”. Itu sebabnya pelayanan tidak hanya di gereja tetapi di tempat kerja, di sekolah pun kita melayani Allah. Tentu bukan dengan cara memuji Tuhan di sana tetapi dengan menjadi terang dan teladan. Perbuatan baik kita pun adalah pelayanan pada Allah. Karena itu, seluruh aktifitas kita, harus dilakukan untuk Kristus. Jika kita melakukan semua kebaikan, bukan untuk Kristus, maka itu tidak akan pernah berkenan pada Allah. Marthin Luther memberikan suatu konsep yang indah mengenai pekerjaan. Ia menyebut bahwa pekerjaan (sekuler) merupakan suatu panggilan. Ia melanjutkan bahwa yang membedakan seseorang melakukan pekerjaan sakral atau tidak bukan terletak pada jenis pekerjaannya, tetap terletak pada imannya pada Kristus.

.

.

. . . Ayat yang menjadi perenungan kita saat ini adalah suatu panggilan kita untuk tetap melayani Allah. Kita mungkin pernah gagal dan kecewa ditahun yang lama. Pelayanan kita tidak dihargai, kebaikan kita dianggap sampah. Tetapi ketika kita melakukan palayanan dengan tujuan memuliakan Allah, itu sangat dihargai oleh Allah sekalipun itu terlihat kecil dan sederhana.

.

.

. . . Latar belakang panggilan melayani dalam ayat ini adalah karena ucapan syukur (ay. 27). Landasan ucapan syukur dalam perikop ini adalah karena kita semua akan mengalami kebangkitan tubuh. Dari tubuh fana menjadi tubuh kemuliaan. Setelah itu tidak akan ada lagi kematian. Kita akan mengalami sukacita yang besar bersama dengan Tuhan. Rasa syukur inilah yang membawa kita pada panggilan untuk tetap melayani Allah. Karena itu ada 3 hal yang menjadi perenungan kita pada saat ini dalam penggilan Allah.

.

.

  1. . . . Berdiri teguh. Frasa selanjutnya “Jangan goyah” merupakan penekanan dari berdiri teguh karena memang jemaat Korintus sedang goyah. Apa maksud dari berdiri teguh? Perhatikan bahwa dalam pasal 15 ini, rasul Paulus sudah mengeluarkan frasa “berdiri teguh” pada ayat 1-2. Di sana rasul Paulus menyampaikan agar jemaat di Korintus berdiri teguh dalam Injil yaitu berita tentang kematian dan kebangkitan Yesus (ay. 3-4). Kematian dan kebangkitan Kristus berbicara tentang keselamatan yang kita peroleh melalui iman. Kita beriman pada Injil tentang kematian dan kebangkitan Yesus. Karena itu frasa “Berdiri teguh” tentunya berarti tetap kuat di dalam iman. Bukan iman yang besar melainkan iman yang benar. Pdt.Yakub Tri Handoko berkata bahwa “iman yang benar lebih penting daripada iman yang besar”. Pdt. Bigman Sirait berkata bahwa “iman yang besar dapat memindahkan gunung, tetapi iman yang sejati tetap percaya walaupun gunung tidak pindah”. Iman ini kita dasarkan pada Injil. Karena itu dalam pelayanan kita, jadikanlah injil yang menjadi pusat pelayanan kita. Kita terus belajar kebenaran Injil agar terus bertumbuh. Mari belajar kebenaran Injil baik melalui perenungan setiap hari, juga dalam mendengarkan kebenaran firman Tuhan baik di gereja maupun dipersekutuan-persekutuan yang ada.
    .
    .
  2. . . . Melimpah dalam pekerjaan Tuhan. Terjemahan bahasa Indonesia dituliskan bahwa giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Kata “giatlah” dalam bahasa Yunani perisseuō diterjemahkan dalam bahasa Inggris abounding (KJV) berarti “berlimpah”. Karena itu perisseuō artinya bukan sekedar rajin dan bersemangat tetapi lebih kepada kesungguhan dan keseriusan dalam pelayanan berusaha untuk terus memberi lebih dan lebih baik lagi untuk Tuhan. Saat kita melakukan pelayanan dengan seadanya, kita tidak menghargai Tuhan yang memberikan pelayanan itu. Kata perisseuō juga sudah muncul dalam (14:12) yang menunjukkan kesungguhan dalam membangun jemaat. Artinya dalam sebuah pelayanan, yang menjadi fokus kita adalah membangun orang lain. Itu sebabnya Paulus berkata bahwa nubuat lebih penting daripada bahasa Roh. Nubuat bukan sekedar berbicara tentang masa depan melainkan berbicara tentang membangun orang lain. Sedangkan bahasa Roh membangun diri sendiri. Karena itu, pelayanan bukan sekedar untuk memuaskan ambisi pribadi juga bukan untuk mendapatkan keuntungan tetapi kita memberikan yang baik dan lebih baik lagi untuk kemuliaan nama Tuhan dengan terus saling membangun satu sama lain baik melalui nasihat firman Tuhan maupun dengan bantuan baik dengan tenaga atau harta kita bagi orang yang membutuhkan.
    .
    .
  3. . . . Pelayanan di dalam Tuhan. Dalam terjemahan Indonesia yaitu “dalam persekutuan dengan Tuhan.” Dalam teks aslinya tidak menggunakan kata “persekutuan” sehingga akan lebih tepat diterjemahkan “sebab kamu tahu, bahwa di dalam Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.”

.

.

. . . Kata “di dalam Tuhan” menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan semua itu anugerah Allah. Pelayanan adalah anugerah. Karena itu, jerih payah bukanlah penekanan pada kalimat ini melainkan kata “di dalam Tuhan”. Artinya, keberhasilan dalam suatu pelayanan dimana kita berlimpah dalam pekerjaan Tuhan, itu bukan ditentukan jerih lelah kita melainkan anugerah Allah semata. Tentu kita tidak boleh menyimpulkan bahwa kita tidak perlu berjerih lelah tetapi ketika kita bisa berjerih lelah bagi Tuhan, itu adalah anugerah Tuhan bagi kita. Semangat dalam jerih lelah akan ditentukan dari kesadaran seberapa besar anugerah Allah dalam hidup kita. Jika kita merasa bahwa anugerah Allah biasa saja, maka pelayanan bukanlah sesuatu yang istimewa dalam hidup kita. Rasul Paulus adalah pribadi yang kita tahu sangat berdosa karena menganiaya jemaat. Tetapi kesadaran Paulus akan anugerah yang besar yang Tuhan berikan padanya membuatnya begitu berjerih lelah dalam pelayanan. Karena itu tumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa kita bahwa kita sudah mendapatkan anugerah yang besar. Sadari bahwa kita orang berdosa dan kebaikan-kebaikan kita bercampur dengan dosa. Sadari bahwa kita tidak berdaya dan sangat  membutuhkan Tuhan. Itu sebabnya, tidak ada yang sia-sia dalam Tuhan.

.

.

. . . .Karena itu, ditahun yang baru ini, mari kita tetap melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kegagalan-kegagalan di tahun yang lama biarlah itu menjadi pelajaran untuk kita bisa memberikan yang lebih baik lagi tahun ini. Kekecawaan karena marasa tidak dihargai dalam pelayanan kita buang jauh-jauh. Kita buka lembaran baru dengan tetap teguh dalam Injil, melimpah dalam pelayanan dan tetap percaya bahwa semua pelayanan kita adalah anugerah Allah. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

JATI DIRI

Ditulis Oleh : Sdri. Seventhina Harefa

.

.

Nats Alkitab : Matius 5 : 16

.

.

.

.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

.

.

.

.

. . . . Jati diri adalah suatu bentuk khusus atau gambaran spesifik tentang pribadi seseorang yang dapat mengungkapkan identitas diri yang orisinil. Setiap orang memiliki dorongan yang sangat kuat untuk berusaha menemukan jati dirinya. Menemukan jati diri tidak mudah, beberapa hal dapat dilakukan seperti pengenalan diri sendiri, perdamaian dengan diri sendiri dan menguji diri sendiri. Pengetahuan tentang jati diri/identitas diri dapat mendorong seseorang menemukan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya sehingga dapat mempermudah untuk menemukan satu titik pencapaian di masa depan.

.

.

. . . . Seorang anak Tuhan tidak perlu diragukan, karena mereka sudah memiliki jati diri/identitas diri tersebut. Matius 5:13-16 menyebutkan bahwa “kamu adalah garam dunia” dan “kamu adalah terang dunia”. Kata adalah yang terkandung dalam kedua kalimat tersebut merupakan satu penekanan penting yang memberi satu pernyataan jelas tentang jati diri/identitas diri anak Tuhan yakni Garam dan terang. Sebagaimana garam memiliki banyak fungsi yang sangat penting untuk suatu makanan maka anak Tuhan juga memiliki fungsi yang sangat penting bagi orang lain disekitarnya bahkan orang yang tidak mengenal Kristus. Dan terang, sangat dibutuhkan oleh manusia demikian kehadiran anak Tuhan begitu diharapkan sebagai teladan yang dapat menerangi orang lain melalui setiap tindakan dan perbuatannya.

.

.

3 hal yang menunjukkan jati diri anak Tuhan:

.

  1. Percaya diri. “Demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang …,”. Sebagai terang dunia sudah pasti peranannya adalah menerangi yang gelap dan membawa sukacita karena terangnya meniadakan gelap. Terang dunia menggambarkan tentang suatu kepribadian yang percaya diri, berani, menyatakan apa yang benar dan tidak takut pada kegelapan. Anak Tuhan mestinya mampu percaya diri namun bukan mempercayakan diri pada diri sendiri. Percaya diri artinya memiliki suatu keberanian untuk menunjukan terang Kristus melalui kehidupannya. Percaya diri yang dapat membawa terang supaya dapat dilihat semua orang sehingga dapat menghasilkan suatu perubahan hidup bagi orang lain.
    .
    .
  2. Berdampak. Kehadiran terang sudah pasti menerangi yang gelap. Nyala lampu sudah pasti dapat menerangi ruangan. Demikian kita anak-anak Tuhan yang adalah garam dan terang dunia semestinya dapat berarti bagi orang lain. Kehadiran kita harus dapat memberi makna di lingkungan kita berada, baik dari setiap tutur kata, cara bersikap menanggapi sesuatu hal, terlebih untuk teladan peribadahan kita kepada Tuhan harus dapat dirasakan orang lain sehingga menghasilkan banyak jiwa yang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus yang memiliki kepastian hidup yang kekal.
    .
    .
  3. Memuliakan Tuhan. Menjadi garam dan Terang merupakan jati diri kita sebagai anak Tuhan. Gaya hidup kita, yang selalu menjadi terang dimana kita berada dan berarti bagi orang lain sudah pasti menjadi kemuliaan Tuhan. Memuliakan Tuhan adalah kewajiban kita sebagai makhluk ciptaan yang sempurna. Tidak ada pilihan untuk menyakali hal itu. Sepeti lampu yang fungsinya memberi penerangan; bagaimanapun juga tidak akan beralih fungsi menjadi penggelap ruangan. Untuk memuliakan nama-Nya tidak ada tuntutan besar yang menyiksa diri melainkan semua yang baik yaitu perbuatan baik/ketaatan pada firman-Nya dan hati yang selalu memandang kepada Tuhan.
    .
    .

. . . . Bagaimana dengan saudara, sudahkah menemukan jati diri yang sesungguhnya? Sudahkah saudara berdampak dan memuliakan Tuhan?

.

.

. . . . Marilah terang kita dapat berarti bagi orang lain dan dapat memenangkan jiwa-jiwa melalui gaya hidup kita sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Amin!

.

.

KEMULIAAN HANYA BAGI NAMA TUHAN

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

INTEGRITAS DIRI

Ditulis Oleh : Sdr. Adiman Hulu

.

.

Pembacaan Alkitab : Yakobus 1:19-27

.

.

.

.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1:22

.

.

.

. . . . Orang yang hanya mendengar firman Tuhan dan tidak melakukannya, sama halnya seperti orang yang sedang mengama-ngamati mukanya di depan cermin, dimana ketika dia pergi dari depan cermin, ia akan segera lupa bagaimana rupanya sendiri, (Ayat 23,24).

.

.

. . . . Menurut KBBI, integritas berarti mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Sedangkan yang dimaksud dengan integritas diri adalah apa yang saya percaya benar, saya bicarakan, lalu saya lakukan, (ayat nats).

.

.

. . . . Sebagai orang percaya, tentunya kita bersyukur bisa mengenal kebenaran yaitu Injil (Alkitab). Namun, apakah hanya sebatas mengenal saja? Tentunya tidak. Pada dasarnya, seberapa dalamnya kita mempercayai sebuah kebenaran (Injil), tidak akan berarti jika kita tidak mengucapkannya, dan terlebih lagi tidak berarti  jikalau kita tidak melakukan kebenaran tersebut. Dengan kata lain, integritas adalah hasil dari apa yang kita percaya benar, lalu kita ucapkan, kemudian kita lakukan.

.

.

. . . . Sebagai orang percaya, tidak hanya cukup menyembah dan melayani Tuhan. Tanpa integritas diri, maka sia-sia kita menyembah dan melayani Tuhan. Ada 3 poin penting yang harus kita terapkan dalam mewujudkan integritas diri kita sebagai orang percaya, antara lain sebagai berikut:

.

.

  • Menjauhi Kejahatan (Ayat 21)
    .

. . . . Sebagai orang percaya, kita diharapkan untuk bisa menjadi teladan bagi lingkungan sekitar. Salah satu keteladanan yang harus orang percaya lakukan  adalah dengan menjauhi kejahatan dalam hidupnya.

.

.

  • Bertekun Serta Melakukan Firman Tuhan (Ayat 25)
    .

. . . . Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa orang percaya tidak hanya cukup mendengar firman Tuhan saja, melainkan harus bertekun menggali kebenaran tersebut serta diharapkan mampu melakukannya dalam segala aspek kehidupannya sehari-hari.

.

.

  • Mengasihi Orang Yang Kesusahan (Ayat 27)
    .

. . . . Mengasihi dengan menolong orang dalam kesusahannya, tentunya merupakan salah satu wujud kasih yang Tuhan harapkan dalam kehidupan orang percaya. Dengan mengasihi dan menolong orang-orang dalam kesusahan mereka, yakni suatu ibadah yang murni dihadapan Tuhan.

“INTEGRITAS DIRI ORANG PERCAYA DAPAT DI UKUR DARI TINGKAH LAKUNYA, APAKAH SESUAI DENGAN IMAN PERCAYANYA ATAU TIDAK, BUKAN DENGAN PROFESINYA”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

MUDAH KECEWA

Ditulis Oleh : Sdr. Adiman Hulu

.

.

Pembacaan Alkitab : Ayub 1:1-22

.

.

.

.

katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang Mengambil, terpujilah nama TUHAN!”  Ayub 1:21

.

.

.

. . . . Sebagai manusia tentunya kita tidak lepas dari yang namanya rasa kecewa. Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan kita, tentu kita merasa kecewa dan putus asa. Menurut KBBI, kecewa adalah rasa kecil hati atau ketidakpuasan atas keinginan, harapan yang tidak terkabulkan.

.

.

. . . . Belajar dari sikap keteladanan seorang yang bernama Ayub. Ayub adalah seorang yang saleh, jujur dan hidup takut akan Tuhan (ayat 1). Kehidupan Ayub yang takut akan Tuhan, bukan berarti dirinya lepas dari yang namanya cobaan. Justru dalam hidup takut akan Tuhan, Tuhan menginjinkan Iblis untuk mencobai Ayub, semata-mata untuk melihat seberapa kuatnya iman Ayub terhadap Tuhan. Namun, dalam cobaan yang Ayub alami, ia tidak merasa kecewa atau menyalahkan Tuhan. Ayub justru mampu mengucap syukur atas cobaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupnya, (ayat nats).

.

.

. . . . Sebagai orang percaya, seringkali juga kita mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh Ayub. Kadang kala harapan dan keinginan kita belum terkabulkan, bahkan tidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember akhir dan akan memasuki Tahun baru 2022. Mungkin selama satu Tahun yang telah berlalu, banyak keinginan dan harapan kita yang belum terkabulkan, yang membuat kita merasa kecewa dan  tidak puas. Firman Tuhan hari ini kembali mengingatkan kita, agar kita senantiasa memiliki iman yang teguh dalam Kristus, supaya apapun keadaan kita yang kita alami, baik suka maupun duka, baik senang maupun susah, kita tidak mudah kecewa dan mampu mengucap syukur atas apa yan kita alami.

.

.

. . . . Ada 3 poin penting yang harus kita terapkan dalam kehidupan sebagai orang percaya, sesuai dengan bacaan Firman Tuhan hari, agar kita tidak mudah kecewa, antara lain sebagai berikut:

.

.

  • . .Hidup Takut Akan Tuhan (Ayat 1)

. . . . Ada tiga macam tipe Orang Kristen, pertama Orang Kristen di luar Kristus, kedua Orang Kristen bersama Kristus dan ketiga, Orang Kristen di dalam Kristus. Dalam hal ini, kita diharapkan menjadi Orang Kristen yang hidup dalam Kristus, bukan hanya sebatas mengenal Kristus, tetapi hidup dalam persekutuan Kristus, dengan memiliki hubungan yang bergaul karib dengan Kristus.

.

.

  • . .Miliki Iman Yang Teguh (ayat 9)

. . . . Beriman kepada Tuhan bukan hanya berbicara soal berkat saja. Tetapi, terkadang iman kepada Tuhan seringkali memperhadapkan kita dalam situasi dan keadaan yang sulit, yang tidak kita inginkan. Dalam hal ini, kita sebagai orang percaya diharapkan mampu membuktikan iman kita dalam segala situasi dan kondisi yang sulit sekalipun.

.

.

  • . . Selalu Mengucap Syukur (Ayat 21)

. . . . Banyak orang yang tidak bisa merasakan bahkan menikmati berkat Tuhan dalam hidupnya. Karena apa? Karena ia tidak mampu mengucap syukur atas apa yang ia miliki. Terkadang kita hanya fokus kepada berkatnya saja (besar kecilnya), hingga kita lupa siapa sumber berkat tersebut dan bahkan sampai lupa untuk berterimakasih. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18).

.

.

“DENGAN MEMAHAMI KEHENDAK TUHAN, DALAM IMAN YANG BENAR DAN SENANTIASA MENGUCAP SYUKUR, ADALAH KUNCI UNTUK MENGATASI KEKECEWAAN”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Kekudusan Membawa Kelayakan

Ditulis Oleh: Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.
.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 15:1-5

.
.

. . . . Kekudusan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena cara hidup, berkata-kata dan berpikir dengan benar ditentukan oleh kekudusan hidup. Sama halnya dengan sebuah hubungan, jika laki-laki menginginkan wanita yang kudus, atau sebaliknya wanita menginginkan laki-laki yang kudus, begitu pula dengan Allah. Allah adalah kudus, yang artinya tidak ada cela sedikitpun dan sempurna. Pertanyaannya, apakah manusia bisa mencapai titik kesempurnaan itu seperti Allah?

.
.

. . . . Jawbannya adalah tidak, mengapa? Karena, manusia terlahir dengan dosa yang adalah akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa. Namun sebagai manusia, kita tidak bisa hanya berhenti di titik keberdosaan itu saja, karena Allah telah memberikan Anak-Nya yang Tunggal sebagai penebus dosa kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 3:16). Oleh sebab itu, ada jalan untuk mencapai kekudusan tersebut sehingga kehidupan kita menjadi layak di hadapan Allah.

.
.

  1. . . .Kudus dalam Perilaku (Ay. 2 & 5).
    .

    . . .Kudus dalam perilaku seringkali banyak disalah artikan oleh beberapa pihak, hal tersebut digambarkan dengan ketakutan mereka untuk keluar dari ‘zona nyaman’ dalam hidup. Banyak orang berpikir bahwa selagi apa yang mereka lakukan membawa sukacita kepada semua pihak, maka itulah cara mereka kudus dalam perilaku. Mereka tidak memnadang tentang apakah hal tersebut membawa dampak positif atau negatif. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Daud dalam Mazmur 15 ini.
    .
    . . .Kekudusan dalam perilaku bagi Daud adalah dimana kita sebagai orang percaya mampu melakukan keadilan bagi semua pihak. Masalah suka atau tidak, itu bergantung pada apa yang mereka pikirkan, selagi hal yang kita lakukan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, itu kekudusan dalam perilaku yang sesungguhnya. Hal yang lain adalah memperhatikan perilaku kita dalam memberi pinjaman. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita mmemberikan pinjaman kepada orang lain, maka suatu saat mereka akan membalasnya. Sesungguhnya, bukan hal tersebut yang dimaksudkan oleh Daud.
    .
    . . .Daud memberikan gambaran bahwa ketika kita memberikan pinjaman dan berharap suatu saat nanti akan terbalaskan, maka hal itu bukanlah suatu kekudusan dalam perilaku. Karena sejatinya, orang percaya bukanlaah orang yang suka berhutang. Oleh sebab itu, berlajarlah untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki dan terima dalam kehidupan ini. Karena itulah, yang akan membawa kita dalam kelayakan untuk bersama dengan Allah.
    .
    .
  2. . . .Kudus dalam Perkataan (Ay. 2 &3)
    .
    . . .Perkataan dapat menentukan keputusan seseorang, itu adalah salah satu quotes duniawi tentang pentingnya menjaga kekudusan dalam berkata-kata. Lalu, apa itu kekudusan dalam perkataan? Daud menuliskan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk hidup dengan perkataan yang kudus, diantaranya ialah: tidak menyebarkan fitnah, berkata kebenaran (jujur), serta tidak menyakiti orang lain.
    .
    . . .Dalam masa sekarang, kita banyak melihat bagaimana orang sering menyebarkan berita-berita palsu yang belum tentu memiliki kebenaran yang sesungguhnya. Bahkan secara sadar maupun tidak, kita juga melakukan hal tersebut, sehingga membuat orang lain merasa sakit hati. Oleh sebab itu, mulailah untuk membangun penguasaan diri dalam berkata-kata, memikirkan terlebih dahulu apa yang hendak kita katakan, serta belajar untuk jujur dalam berkata-kata. Karena, kekudusan hidup kita dapat terlihat jelas melalui perkataan kita.
    .
    .
  3. . . .Kudus dalam Hubungan antar sesama (Ay. 4)
    .
    . . . Manusia adalah makhluk sosial, oleh sebab itu membutuhkan teman, pendamping, maupun orang yang bisa untuk bekerjasama dengannya. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga hubungan dengan sesama. Kita tidak pernah tahu akan jalan kehidupan kita, bisa saja berhenti hari ini, esok, atau bahkan kemarin-kemarin. Satu hal yang pasti adalah, kekudusan dalam hubungan dengan sesama membawa kita menjadi pribadi yang layak di hapadan Allah.
    .
    .

. . . . Allah menginginkan agar kita (manusia) hidup dalam kerukunan bersama. Oleh sebab itu mulailah dengan berkata-kata, berpikir, bertingkah laku, dan menjalin hubungan yang kudus dengan sesama manusia, terlebih Allah. Tuhan Yesus Memberkati.

.
.

“Kekudusan membawa kita pada kelayakan untuk dapat hadir dihadapn Tuhan, karena tidak ada hal yang perlu kita sembunyikan dari-Nya.”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Natal Untuk Siapa?

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Luk. 5:32; Mat. 1:21

.

.

.

.

. . . . J. M. Boice dalam bukunya “Dasar-Dasar Iman Kristen” menuliskan bahwa alasan utama Kristus berinkarnasi menjadi manusia adalah untuk pendamaian. Pendamaian diperlukan karena manusia sudah mati secara rohani (terputus hubungan dengan Allah) ketika jatuh ke dalam dosa.

.

.

. . . Ketika Kristus datang, Dia diberi nama Yesus yang berarti Yahweh Menyelamatkan. Keselamatan yang dimaksud adalah keselamatan dari perbuatan-perbuatan jahat. Dari sini kita belajar dan bersyukur. Tuhan kita adalah Tuhan yang memberikan berkat, menyembuhkan segala penyakit kita. Tetapi tujuan utama dari kedatanganNya adalah menyelesaikan masalah dosa kita untuk pendamaian kita. Seluruh manusia adalah orang berdosa dan membutuhkan Juruselamat dan satu-satunya Juruselamat adalah Yesus karena itu secara hakikatnya semua manusia membutuhkan kedatangan Yesus. Tetapi Alkitab memberi kita beberapa pesan yang perlu untuk kita renungkan tentang kedatanganganNya. Untuk siapa Dia datang?

.

.

  1. . . .Secara umum Yesus mengakatakan bahwa Dia datang untuk orang berdosa (Lukas 5:32). Yesus memberikan sebuah kontra yang tajam di sini antara orang benar dan orang berdosa. Secara hakikat tidak ada orang yang benar. Roma 3:23 Jelas mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Lalu mengapa Yesus mengatakan bahwa hanya datang untuk orang berdosa dan bukan untuk orang benar? Siapakah orang benar yang tidak membutuhkan kedatangan Yesus? Bukankah kita semua dibenarkan di dalam Yesus (Roma 5:1)? Lalu siapa orang benar di luar Yesus ini? Orang benar yang dimaksud Yesus adalah orang berdosa yang merasa diri benar.
    .
    . . .Apakah kita semua adalah orang yang menyadari bahwa kita adalah orang berdosa? Itu tidak cukup. Selama kita merasa dibalik keberdosaan kita masih ada kebaikan-kebaikan kita yang perlu diperhitungkan Tuhan kita bukanlah orang berdosa yang membutuhkan Yesus. Yesus bukan datang untuk kita. Yesus mengatakan dalam Matius 5:3 berbahagialah/diberkatilah mereka yang miskin di dalam roh. Kata Yunani dari miskin adalah “ptochos” yang berarti sangat miskin dan tidak punya apa-apa lagi selain tubuhnya. Dia merasa miskin dan sangat membutuhkan Tuhan.
    .
    . . .Begitu juga dengan kita. Kita harus menyadari bahwa kita adalah orang berdosa dan tidak ada sama sekali sesuatu yang baik dan layak untuk Tuhan perhitungkan agar kita diselamatkan.
    .
    . . .Namun, untuk benar-benar menyadari bahwa kita adalah orang yang benar-benar berdosa, diperlukan pengenalan akan Allah yang lebih dalam lagi. Artinya, selama kita masih merasa bahwa kita layak di hadapan Allah karena kita memiliki perbuatan baik, kita merasa lebih baik dari orang lain, kita merasa tidak lebih berdosa dari pembunuh dan pezinah, kita belum mengenal Allah dengan benar. Karena itu, kita harus terus belajar mengenal Allah melalui FirmanNya sampai kita benar-benar merasa bahwa kita adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan.
    .
  2. . . .Yesus datang untuk umatNya (Matius 1:21)
    .
    . . .Matius mencatat lebih spesifik lagi bahwa kedatangan Kristus adalah untuk umatNya. Umat di sini berbicara tentang Israel Kuno tetapi sekarang itu ditujukan pada Israel secara rohani yaitu kita. Artinya siapapun kita yang percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Apakah kita adalah pribadi yang sungguh-sungguh beriman pada Kristus? Alkitab mencatat bahwa untuk beriman pada Kristus, itu adalah pemberian secara cuma-cuma (Filipi 1:21). Karena itu bersyukurlah jika kita adalah orang beriman. Karena itu adalah anugerah Tuhan. Iman itu diwujudkan dengan perbuatan yang berkenan pada Allah.  
    .
    .

. . . Karena itu, di saat natal ini, mari kita merenungkan. Apakah natal ini untuk saya? Apakah saya benar-benar mennyadari bahwa saya adalah orang berdosa? Apakah saya benar-benar percaya pada Yesus? Apa yang sudah saya lakukan sebagai wujud iman saya pada Kristus? Belajarlah mencintai firman Tuhan dan lebih sungguh-sungguh lagi belajar. Karena dari firman Tuhanlah kita akan semakin menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa dan terus bertumbuh dalam iman kita kepada Kristus. Dengan demikian, maka natal adalah untuk karena kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

PENGHARGAAN BAGI PEMENANG

Ditulis Oleh : Sdri.Seventhina Harefa

.

.

Pembacaan Alkitab : Wahyu 3:7-13

.

.

.

.

. . . . Setiap tahun di beberapa stasiun televisi, biasanya digelar suatu acara pemberian penghargaan. Misalnya SCTV Awards, GLOBAL Awards, dll. Tentunya penghargaan tersebut teruntuk bagi mereka yang memiliki prestasi. Ada yang menjadi aktris/aktor terbaik, sutradara terbaik, iklan terbaik dan masih banyak kategori lainnya. Tentu untuk meraih hal tersebut membutuhkan kerja keras, kemauan, dan ketekunan.

.

.

. . . . Nats firman Tuhan hari ini juga mengungkapkan hal yang sama; yaitu penghargaan yang lebih istimewah dari pada penghargaan acara Awards yang diselenggarakan di stasiun televisi. Mahkota dan menjadi Sokoguru (Wah.3:11-12), merupakan penghargaan utama yang akan diberikan Yesus kepada orang-orang percaya yang menjadi pemenang. Menang dalam hal  ini adalah wujud kesetiaan orang percaya terhadap iman mereka kepada Yesus Kristus sampai akhir hidup mereka dan sampai kristus datang kedua kali. Yesus berjanji bahwa pada akhirnya ketika kita mampu bertahan setia hingga akhir, maka mahkota yang seharusnya menjadi hak kita dapat dimiliki seutuhnya. Dan juga kita akan menjadi sokoguru di dalam Bait  Suci Allah. Sokoguru adalah tiang/pilar, yang menjadi bagian terpenting untuk tegaknya sebuah bangunan yang kokoh. Penghargaan yang diberikan Yesus sungguh istimewah sehingga menjadi alasan bagi kita supaya bertahan menjadi seorang pemenang.

.

.

. . . . 4 hal berikut ini adalah tindakan yang dapat kita lakukan untuk menjadi pemenang yang akan memperoleh penghargaan dari Yesus sang Raja Damai:

.

  1. . . . Menuruti Firman Tuhan (8,10). Taat firman Tuhan adalah kewajiban orang percaya. Taat firman merupakan sikap hidup yang tunduk terhadap otoritas Tuhan dan perintah Tuhan. Segala Firman-Nya sudah tertulis dalam Alkitab, baik itu perintah mengasihi, memberi tumpangan, hidup baru, menjaga pergaulan, taat kepada pemerintah dan lain sebagainya.
    .
    .
  2. . . . Tidak menyangkal nama Yesus (8). Orang percaya harus mampu mempertahankan imannya dalam nama Yesus dan tidak malu mengakuinya. “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat.10:32-33). Orang yang menyangkal nama-Nya, tidak akan mendapatkan tempat dalam kerajaan surga dan penghargaan tidak akan diperolehnya.
    .
    .
  3. . . . Tekun menantikan Dia (10). Ketekunan merupakan kesungguhan mengerjakan/menantikan sesuatu. Jemaat Filadelfia memberikan teladan bagi kita supaya taat dan tekun menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Walaupun banyak rintangan dan pencobaan yang berusaha menarik perhatian kita, supaya tidak menantikan kedatangan-Nya lagi. Seperti pada zaman teknologi sekarang ini, membuat semua orang memiliki dunia baru dan menggampangkan kebutuhan rohani seperti persekutuan. Oleh karena itu, kita harus mampu menguasai diri menghadapi arus zaman supaya terus menantikan Dia seperti jemaat Filadelfia.
    .
    .
  4. . . . Bertahan sampai akhir (11). Bertahan sampai akhir merupakan wujud kesetiaan kita kepada Tuhan sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi sorang pemenang sehingga mahkota dan sokoguru menjadi milik kepunyaan kita sebagai penghargaan yang telah dijanjikan Yesus.

.

.

. . . . Penghargaan dan menjadi seorang pemenang adalah impian semua orang. Namun tidak semua akan memperolehnya. Penghargaan Yesus yang istimewah hanya diperoleh oleh orang percaya yang mampu bertahan setia hingga akhir hidupnya dan hingga kedatangan Yesus kedua kali. Maka marilah kita mempersiapkan diri untuk menerima pengharagaan Yesus yaitu Mahkota dan menjadi Sokoguru di Bait Suci Allah. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

MARTURIA

Ditulis Oleh : Sdr. Adiman Hulu

.

.

Pembacaan Alkitab : Yohanes 15:18-27

.

.

“Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27)

.

.

.

.

. . . . Marturia atau kesaksian berasal dari bahasa Yunani Martyria, yang merupakan suatu istilah yang digunakan oleh gereja dalam menjalankan kegiatan imannya. Marturia merupakan tugas panggilan gereja dalam hal kesaksian iman, dan kesaksian iman yang dimaksud ialah pemberitaan Injil sebagai berita keselamatan manusia.

.

.

. . . Marturia atau kesaksian adalah menceritakan Kristus kepada orang lain, dalam kuasa Roh Kudus dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan Allah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa marturia (kesaksian) hanya berbicara tentang karya Kristus, bukan kehebatan atau kepintaran manusia.

.

.

. . . Sebagai orang percaya, Tuhan mengharapkan kita untuk bisa menjadi saksi-Nya bagi dunia (ayat nats), yaitu orang-orang yang bisa menceritakan karya keselamatan dari Yesus Kristus kepada orang lain.

.

.

. . . Namun dalam penerapannya, marturia (kesaksian) bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, sebab dalam bersaksi kita diperhadapkan dalam situasi sebagai berikut:

.

.

  • . .Dibenci Oleh Dunia (Ayat 18-19)

. . . Sebagaimana Yesus dibenci oleh dunia, demikianlah juga tantangan yang kita hadapi dalam melaksanakan tugas dan panggilan kita sebagai orang percaya, yaitu harus siap dibenci oleh dunia. Lakukanlah hal-hal yang membuat dunia terkesan, karena dengan keteladanan yang baik, memiliki peluang besar dunia bisa berbalik dan menyembah kepada Tuhan.

.

.

  • . .Dianiaya (Ayat 20)

. . . Sejauh pemahaman saya tentang sejarah gereja, banyak orang-orang Kristen yang mengalami penderitaan dan penganiayaan dalam mempertahankan iman mereka kepada Kristus. Namun, penderitaan dan penganiayaan tersebut justru membuat orang-orang Kristen semakin bertambah dan berkembang. Untuk itu, teguhkan dan kuatkanlah hatimu dalam iman kepada Kristus, sebab penderitaan dan penganiayaan yang kita alami dalam iman kepada Kristus, selalu ada penyertaan Tuhan dan semuanya itu tidaklah sia-sia.

.

.

  • . . Dibenci Tanpa Alasan (Ayat 25)

. . . Dalam bersaksi, kita akan menemukan orang-orang yang yang tahu namun tidak mau tahu. Artinya, mereka sudah tahu bahwa Yesus adalah Juru Selamat dunia, namun mereka seakan-akan tidak mengetahuinya, misalnya ahli-ahli taurat.

.

.

“KARENA ITU PERGILAH, JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURID-KU DAN BAPTISLAH MEREKA DALAM NAMA BAPA DAN ANAK DAN ROH KUDUS, DAN AJARLAH MEREKA MELAKUKAN SEGALA SESUATU YANG TELAH KUPERINTAHKAN KEPADAMU. DAN KETAHUILAH, AKU MENYERTAI KAMU SENANTIASA SAMPAI KEPADA AKHIR ZAMAN.” 

Matius 28:19-20
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email