Categories
Uncategorized

HIDUP DALAM RANCANGAN TUHAN

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Yeremia 29:11-14

.

.

.

.

. . . . Dalam membangun sebuah bagunan seorang arsitek bertugas untuk merancang dengan sangat detail sehingga bagunan terlihat indah dan nyaman untuk ditempati, seorang arsitek pastinya memiliki rancangan yang luar biasa untuk menghasilkan bangunan yang luar biasa.

.

.

. . . . Hidup kita sebagi orang percaya dapat diibratkan seperti sebuah bagunan yang memerlukan seorang perancang yang luar biasa. Tuhan sang Arsitek yang luar biasa memiliki rancangan-rancangan yang luar biasa untuk mendesain kita sebagai ciptaan supaya memiliki kehidupan yang luar biasa. Dalam renungan Firman Tuhan pada saat ini kita akan diingatkan bagaiamana kita bisa hidup dalam rancangan Tuhan:

.

.

  1. . . . Percaya kepada rancangan Tuhan (Ayt. 11)
    .
    . . .Menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan, supaya kita dapat melihat setiap rancangan Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan kita sebagai orang-orang percaya. Seringkali keragu-raguan terhadap rancangan Tuhan membuat manusia kehilangan pengharapan dalam kehidupannya, namun dalam Firman Tuhan pada saat ini Tuhan ingin meneguhkan iman kita sebagai orang percaya bahwa Tuhan tau segala sesuatu yang tebaik untuk kehidupan anak-anak-Nya. Dalam Ayat 11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikian Firman Tuhan Yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. Dengan Firman Tuhan ini kita harus percaya bahwa dari awal kita ada Tuhan telah memiliki rancangan dalam hidup kita. Sama seperti yang dikatakan Tuhan kepada Yeremia ketika Tuhan memanggil dan mengutus Yeremia dalam pasal 1:5, dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa Tuhan telah mengenal dan memiliki rancangan bagi Yeremia sebelum Yeremia keluar dari kandungan bahkan sebelum dibentuk dalam rahim ibunya, demikian juga kita sebagi anak-anak Tuhan pada saat ini.
    .
    .
  2. . . .Harus Memiliki Komunikasi Yang Baik Dengan Tuhan (Ayt. 12)
    .
    . . .Tuhan memberikan petunjuk bagi kita bagimana hidup dalam rancangan-Nya, yaitu dengan selalu berseru kepadanya dengan memiliki komunikasi yang baik, kita dapat membangunnya dengan doa. Sebagai manusia yang hidup dalam berbagi keterbatasan pastinya seringkali kita hidup dalam setiap rancangan kita sendiri dan hal tersebut secara tidak langsung kita menyakiti hati Tuhan dan tidak hidup sesuai rancangan-Nya. Untuk itu kita memerlukan petunjuk-petunjuk Tuhan yang dapat kita tanyakan melalui komunikasi kita dengan Tuhan dalam doa. Orang-orang yang sukses dalam iman, selalu melangkah dalam rancangan Tuhan pastinya tidak terlepas dari hubungan yang intim dengan Tuhan, untuk itu saat ini kita juga harus memiliki komunikasi yang baik dengan Tuhan supaya kita selalu dipimpin oleh Roh Kudus untuk Hidup dalam rancangan Tuhan.
    .
    .
  3. . . .Harus Memiliki Iman Yang Aktif (13-14)
    .
    . . .Tuhan mau supaya kita aktif dalam iman bukan pasif, dalam ayat 13-14 ada beberapa tindakan aktif yang Tuhan mau dari orang-orang percaya supaya dapat hidup dalam rancangan Tuhan, tindakan tersebut adalah Mencari dan selalu bertanya kepada Tuhan. Ketika kita memiliki tindakan untuk hidup dalam rancangan Tuhan maka Tuhan juga akan merespon tindakan tersebut yaitu Tuhan akan membuat kita dapat menemukan apa yang kita harapkan di dalam Dia. Bahkan Tuhan akan melalukan segala sesuatu yang terbaik bagi orang-orang yang mau mencari dan berharap kepada-Nya.

.

.

. . . . Mari kita sebagi orang-orang percaya untuk terus hidup dalam rancangan Tuhan karena rancangan Tuhan adalah rancangan Damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaaan, dan orang yang memiliki hidup dalam rancangan Tuhan akan memperoleh masa dengan yang penuh harapan. Demikian Firman Tuhan yang dapat kita renungkan supaya semakin mendorong iman kita di dalam Tuhan hari demi hari, Tuhan Yesus memberkati. Amin

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Setia

Ditulis Oleh : Ev. Almerof Pemburu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Yosua 24:15

.

.

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”

.

.

. . . .Yosua adalah salah satu hamba Tuhan dan murid dari Musa yang selalu memegang komitmennya kepada Tuhan untuk tetap taat dan setia pada tugas dalam membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Kanaan dan tetap percaya kepada Tuhan. Hal ini dibuktikan dari pengakuan langsung dari Yosua: Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” . Meskipun ada banyak tantangan dan tekanan yang dihapadi, Yosua bersama rekannya Kaleb tetap menjaga iman dan percaya kepada Tuhan sebagai Allah yang benar.

.

.

. . . . Tuhan menghendaki supaya kita taat dan setia kepada-Nya. Mengapa? Karena ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan merupakan bukti bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Tetapi kita harus mengerti dan memahami secara benar bahwa motivasi atau alasan yang mendorong  kita untuk taat dan setia kepada Tuhan tidak boleh didasari pikiran yang dangkal, salah, dan keliru. Ketika kita taat dan setia kepada Tuhan maka Tuhan akan menunjukan kasih-Nya kepada kita, seperti:

.

.

  1. . . .Kita akan menerima dan merasakan janji Tuhan
    .
    . . .Jika kita melihat dan memperhatikan peristiwa dari awal bangsa Israel keluar sampai bangsa Israel masuk ketanah Kanaan, Yosua dan rekannya Kaleb lah yang tetap ada hingga dan menikmati tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel, sedangkan sisanya adalah generasi kedua. Yosua menjadi salah satu orang yang menikmati langsung janji Tuhan berkat kesetiaan dan ketaatannya dalam menjalankan tugas dan menjaga iman kepada Tuhan.
    .
    .
  2. . . .Dipercaya
    .
    . . .Selain menikmati secara langsung janji Tuhan, Yosua juga dipercaya untuk memimpin bangsa Israel menggantikan gurunya Musa. Dia mendapatkan kehormatan menjadi pemimpin bukan karna tentang usia, tetapi karena Yosua mampu memberikan contoh dan teladan bagaimana bertahan dalam semua tantangan dan cobaan selama berjalan dipadang gurun dan tetap bisa setia kepada satu Tuhan. Ini adalah  bagian dari berkat dan anugrah dari Allah berkenaan dengan kesetiaan yang Yosua lakukan.
    .
    .
  3. . . .Mendapatkan Hikmat dari Tuhan
    .
    . . . Menjadi seorang pemimpin sebuah bangsa tentu bukanlah perkara yang mudah, dibutuhkan mental, kekuatan, dan hikmat untuk bisa mengambil keputusan dalam memimpin. Yosua adalah salah satu hamba Tuhan yang mendapatkan hikmat dari Tuhan untuk memimpin bangsa Israel. Dengan pernyataannya di ayat 15 membuat bangsa Israel mau tunduk kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan (ayat 16-18).
    .
    .

. . . . Ada banyak hal dan peristiwa dalam kehidupan kita yang dapat membuat kita tidak setia kepada Tuhan. Tetai marilah kita tetap taat dan setia kepada Tuhan seperti yang dilakukan Yosua yang tetap percaya dan setia kepada Tuhan meskipun tantangan, cobaan dan godaan silih berganti dirasakan tetapi dia tetap mampu setia kepada Tuhan. Jika kita tetap setia, maka kita akan menikmati janji Tuhan secara langsung.

“Kesetiaan berarti ketulusan untuk taat, dan berjanji untuk tidak mengkhianati.”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Natal dan Air Mata

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Matius 2:16-18

.

.

.

.

. . . .Natal adalah pengharapan. Pengharapan tentang seorang  Pribadi yang dinantikan yang membebaskan kita dari kuasa dosa. melalui pribadi ini, dunia yang tidak memiliki pengharapan keselamatan menjadi memiliki pengharapan itu. Itu sebabnya natal adalah suatu sukacita besar bagi bumi secara khusus bagi kita yang berkenan padaNya.

.

.

. . . Namun dibalik peristiwa natal ini, ada air mata yang mengalir karena memiliki dampak kematian pada bayi-bayi yang berumur 2 tahun ke bawah.ada dua hal yang perlu kita perhatikan dari peristiwa

.

.

  1. . . .Pembunuhuhan anak usia 2 tahun ke bawah, menunjukkan bahwa saat orang majus menemui Yesus, Yesus sudah berusia lebih dari setahun.
    .
    .
  2. . . .Betlehem bukanlah sebuah kota besar sehingga kita jangan membayangkan bahwa ada ratusan anak yang dibunuh oleh Herodes. Leon Morris menduga dalam tafsirannya bahwa anak yang dibunuh di Betlehem bisa saja tidak lebih dari 20 orang.

.

.

. . . Peristiwa pembunuhan ini tidak dicatat dibagian kitab-kitab lain sehingga banyak yang menganggap bahwa peristiwa ini tidak benar dalam sejarah. Apalagi peristiwa ini memuat peristiwa penting dari kekejaman raja Herodes. Namun, kita bisa mempercayai kisah ini dengan beberapa alasan berikut:

.

  1. . . .Herodes memang kejam bahkan Herodes lebih kejam lagi dalam peristiwa lain seperti membunuh ratusan prajurit, isterinya, 3 anaknya, bahkan banyak kejahatan lain. Kota Betlehem juga adalah kota kecil yang jauh dari kota besar. Sehingga wajar jika pembunuhan di Betlehem tidak disoroti..
    .
  2. . . .Sesuatu yang tidak pernah ditulis bukan berarti tidak pernah terjadi.

.

.

Bebarapa hal yang bisa kita renungkan dari peristiwa berdarah ini

.

  1. . . .Allah berdaulat atas segala sesuatu termasuk dalam peristiwa yang buruk (ay. 17).
    .
    . . .Kita mungkin juga pernah mengalami hal-hal yang menurut kita buruk. Dalam situasi tertentu kita merasa bahwa kita jauh dari Tuhan dan kecewa terhadap Tuhan. Kita berpikir Tuhan tidak memperhatikan kita dan membiarkan kita dalam keterpurukan. Baik karena kita kehilangan orang yang kita cintai, bisnis kita yang bangkrut, mengalami sakit yang berkepanjangan, sulit dalam keuangan, permasalahan-permasalahan dalam keluarga, dll. Tetapi berdasarkan kisah ini, kita bisa melihat sebuah peristiwa buruk bukanlah selalu karena Allah membiarkan kita tetapi karena ada rencana Allah dalam hidup kita. (band. Roma 8:28).

    ..
  2. . . .Ada pengharapan dibalik peristiwa buruk (band. Matius 2:18 dengan Yeremia 31:15,17,31,34)
    .
    . . .Munculnya nama Rahel di sini dikaitkan dengan nama Rahel dalam Yer. 31:15. Rahel di sini adalah simbolis dari ibu suatu bangsa (menurut tradisi Yahudi), Isteri dari Yakub nenek moyang bangsa Israel. Rahel meratapi anak-anaknya dalam pembuangan dan juga anak-anaknya yang dibunuh di Betlehem. Namun dibalik peristiwa pahit ini, ada pengharapan (Yer. 31:17,31,34). Ada janji tentang pemulihan. Demikian juga dengan kita yang sedang mengalami kepahitan saat ini. Tuhan tidak akan membiarkan kita. Akan ada masanya kita dipulihkan dari kepahitan kita walaupun pemulihan itu bisa cepat atau justru lambat. Karena itu, bersabarlah dalam penderitaan dan meminta pertolongan kekuatan dari pada Tuhan.
    .
    .
  3. . . .Tuhan punya rencana yang lebih besar.
    .
    . . . Yesus selamat dan sekitar 20 anak mati terbunuh dalam peristiwa ini. Tetapi bayi yang selamat ini sedang mengerjakan pekerjaan yang sangat besar yaitu keselamatan manusia. Kematian ini menyisakan duka yang mendalam tetapi keselamatan yang Tuhan berikan memberikan sukacita yang jauh melebihi dari dukacita yang kita alami (Band. Roma 8:18).

.

.

. . . Karena itu mari kita memandang sebuah kepahitan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih besar yang Tuhan sudah sediakan bagi kita. Karena penderitaan adalah jalan yang dipakai oleh Tuhan untuk semakin memurnikan kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Buah Yang Bermanfaat

Ditulis Oleh : Sdr. Delis Zai

.

.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
Yohanes 15:8”

.

.

. . . . Buah merupakan suatu sumber air yang sangat bergizi dan sangat membutuhkan metabolisme tubuh. Namun, buah sangat banyak jenisnya dan bisa juga menjadi obat penyakit yang kita alami. Oleh karena itu,  kita sebagai manusia harus memiliki buah yang baik untuk di nikmati. Lalu, Bagaimana mempersiapkan buah yang dapat dinikmati? Mari kita belajar memiliki hidup yang produktif dalam menghasilkan buah kehidupan.

.

.

. . . . Yang pertama, menghasilkan buah yang matang. Pada umumnya kita makan buah yang sudah matang. Memang ada pula yang makan buah yang belum matang, misalnya mangga muda yang bisa dibuat menjadi sambel pencit, hmm. enaaak. Apakah menghasilkan buah yang matang itu mudah? Buah yang matang dihasilkan lewat proses yang membutuhkan waktu. Demikian pula kehidupan manusia juga membutuhkan proses waktu untuk menghasilkan buah yang matang. Perlu kesabaran dan ketekunan dalam menjalani proses kehidupan. Apakah ada jalan pintas dalam menghasilkan buah yang matang? Bagi sebagian pengusaha buah, mereka melakukan pengarbitan buah atau dengan suntikan kimia sehingga menghasilkan buah yang cepat matang, namun buah yang demikian beda kualitasnya dengan buah yang dihasilkan lewat proses alamiah. Demikian pula kehidupan manusia, buah kehidupan yang matang dihasilkan lewat proses kehidupan yang panjang. Apakah Anda mau menghasilkan buah yang matang?

.

.

. . . . Yang kedua, menghasilkan buah yang banyak secara berkala. Kapan waktu terbaik menghasilkan buah? Masing-masing buah menjadi matang dengan waktu yang berbeda. Demikian pula buah kehidupan membutuhkan tahapan proses kehidupan yang berbeda antara satu pribadi dengan lainnya. Menghasilkan buah yang banyak secara berkala membutuhkan kedisiplinan dan konsistensi yang tinggi. Apakah Anda mau menghasilkan buah yang banyak secara berkala?

.

.

. . . . Yang ketiga, mempersiapkan buah yang dapat dinikmati. Jalanilah proses demi proses kehidupan dengan sabar. Jangan pernah menyerah saat diproses. Ingat TUHAN selalu dan minta hikmat TUHAN saat diproses. Semua proses kehidupan ada batas waktunya. Proses kehidupan yang disikapi dan diresponi dengan benar akan menghasilkan buah kehidupan yang dapat dinikmati diri kita dan banyak orang. Apakah Anda mau menghasilkan buah yang dapat dinikmati? Memiliki kehidupan yang berbuah membutuhkan proses, jangan pernah menghakimi proses kehidupan yang dijalani orang lain.

.

.

Jadilah buah yang bermanfaat ditengah banyak orang, supaya kita menjadi berkat dimanapun kita berada

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

KEHILANGAN KASIH SEMULA

Ditulis Oleh : ADIMAN HULU

.

.

Pembacaan Alkitab : Wahyu 2 : 1-7

.

.

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”  Wahyu 2:4

.

.

.

.

. . . . Efesus merupakan kota Yunani Kuno. Seiring berjalannya waktu, Efesus menjadi sebuah kota di Romawi, yakni di pesisir Barat Asia Kecil. Selama bertahun-tahun masa pemerintahan Romawi, kota Efesus tercatat menjadi kota kedua terbesar di Romawi, setelah Roma. Kedatangan Paulus yang pertama di Efesus (Kis 18:19-21) merupakan langkah awal dalam mendirikan sebuah jemaat disana. Sekalipun banyak tantangan, Paulus pada kedatangannya yang kedua di Efesus, berhasil membangun sebuah gereja disana.

.

.

. . . . Awalnya, Jemaat di Efesus sangatlah bersemangat dan bertekun dalam melakukan pekerjaan Tuhan (Why 2:2-3). Namun, pada masa pemerintahan kaisar Domitianus (81-96 M), orang Kristen mengalami penganiayaan dan penderitaan yang begitu hebat, (termasuk Jemaat di Efesus). Keadaan Jemaat di Efesus pun berubah, dimana yang dulunya bersemangat dan bertekun dalam melakukan pekerjaan Tuhan, kini melakukannya hanya sebatas pemenuhan tugas pelayanan  di Gereja saja. Dalam hal ini Jemaat di Efesus meninggalkan kasih semula mereka (ayat nats).

.

.

. . . . Kata “semula” dalam bahasa Yunani ialah “πρωτος” (protos) menunjukkan waktu artinya “semula”, menunjukkan status artinya “tertinggi”, menunjukkan urutan artinya “pertama”. Jadi, kasih semula yang dimaksud adalah kasih yang pertama/kasih yang terdahulu (first love).

.

.

. . . . Kasih semula yang hilang di Jemaat Efesus mencakup dua hal, yakni:

.

  • . . Kasih persaudaraan, artinya dalam Jemaat di Efesus terdapat sikap suka saling mencela satu dengan yang lain dan terpecah-pecah dalam jemaat.
  • . .Kasih kepada Allah, artinya jerih payah dan ketekunan Jemaat di Efesus dalam melakukan pekerjaan Tuhan, berubah dimana Jemaat di Efesus melakukannya hanya sebatas pemenuhan tugas pelayanan di Gereja saja (bukan dari hati).

.

.

. . . . Belajar dari Jemaat di Efesus, sebagai orang percaya kita harus bisa mempertahankan iman kita dalam Kristus, apapun keadaannya. Melakukan setiap  pelayanan atas dasar kasih kepada Allah. Tuhan tidak berkenan atas pelayanan yang dilakukan sebatas rutinitas atau formalitas pemenuhan tugas, tetapi Tuhan berkenan atas pelayanan yang berasal dari hati, yaitu kerinduan untuk melayani Dia.

.

.

“SEBAGAIMANA KASIH TUHAN TIDAK BERKESUDAHAN BAGI UMATNYA, DEMIKIANLAH HARAPAN TUHAN KEPADA ORANG-ORANG PERCAYA, AGAR MENGASIHI-NYA DENGAN KASIH YANG TIDAK BERUBAH-UBAH”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

SEMAKIN DIBANTING SEMAKIN MELENTING

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : KISAH PARA RASUL 5:41-42

.

.

. . . . Sebuah bola bekel jika dibanting maka akan memantul kembali bahkan lebih tinggi dibandingkan dari tinggi posisi yang semula, Rasul-rasul yang ada pada saat itu juga demikian. Ketika kita baca dalam Kitab Kisah Para Rasul ini maka kita menemukan banyak kisah-kisah yang menyakitkan yang dialami oleh Para Rasul dan Jemaat Tuhan karena iman kepercayaan mereka. Mereka seringkali dibanting  oleh politik-politik yang ada pada saat itu, dibanting oleh tekanan orang-orang disekeliling yang tidak bersahabat, mereka dibenci bahkan banyak yang dianiaya maupun dibunuh.

.

.

. . . . Tetapi mekipun banyak tantangan yang Rasul-rasul hadapi diibaratkan dengan bola bekel yang semakin dibanting semakin melenting tinggi dalam iman percaya mereka kepada Tuhan Yesus Kristus.

.

.

. . . . Ada 3 hal yang dapat kita pelajari dari jemaat-jemaat Tuhan dan Rasul-rasul pada saat itu:

  1. . . Semakin dibanting semakin melenting dalam memberitakan Injil (Ayt.41)
    .
    . .Ketika para rasul memberitakan Injil mereka dicari bahka dipenjara oleh orang-orang yang tidak senang dengan pengajaran mereka, namun dalam bacaan kita pada saat ini menuliskan bahwa Rasul-rasul tetapi bersukacita dalam penderitaan oleh karena nama Kristus.
    .
    .
  2. . .Semakin dibanting semakin melenting untuk menjadi saksi (Ayt.42)
    .
    . .Penderitaan yang dialami oleh para rasul tidak menjadi  penghalang bagi mereka untuk menceritakan kuasa Kristus dalam hidup mereka, bahkan Penderitaan penghinaan yang mereka alami menguatkan mereka dalam menjadi saksi Kristus. Pengalaman hidup yang sangat berharga yang dapat diceritakan kepada orang lain bagaimana hidup berjalam bersama dengan Kristus.
    .
    .
  3. . .Semakin dibanting semakin melenting dalam membangun hubungan dengan Tuhan (Ayt.42)
    .
    . .Sebagai orang percaya kita harus selalu membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, rasul-rasul dan Jemaat pada saat itu pastinya sangan menjaga hubungannya dengan Tuhan sehingga mereka mampu bertahan dalam keadaan yang tidak mudah sekalipun. mereka bertahan dalam hinaan, mereka mampu menjadi saksi dan semangat memberitakan Injil hal itu tidak lepas dari hubungan yang erat dengan Tuhan.
    .
    .

. . . . Tantangan, masalah  atau persoalan yang kita temui tiap hari, hendaknya menjadikan kita seperti bola yang semakin di banting semakin melenting dalam iman percaya kepada Tuhan dan menjadi saksi-saksi Kristus dalam tuntunan Roh Kudus. Demikian kebenaran Firman Tuhan yang menjadi renungan kita pada saat ini, Tuhan Yesus memberkati.  Amin

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Pemberian Yang Benar

Ditulis Oleh : Ev. Almerof Pemburu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Matius 2:11

.

.

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu Bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.”

.

.

.

.

. . . . Bulan desember adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Kristiani, karna dibulan desember ini umat Kristiani akan merayakan kelahiran Sang Mesias.

.

.

. . . . Berbicara tentang natal erat kaitannya dengan perayaan, dekorasi, pesta, tukar kado dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bersukacita. Kita selalu berusaha memberikan yang terbaik versi kita sebagai hadiah yang terbaik di momen natal, dan itu bagus, karena semuanya materi dan meiliki nilai/harga. Tapi bagaimana dengan Tuhan, apakah pemberian kita juga hanya bersifat materi? Sesuatu yang memiliki nilai jual?

.

.

. . . . Dalam Matius 2:1-12 menceritakan tentang bagaimana orang Majus datang melihat kelahiran Sang Mesias. Orang Majus adalah orang-orang yang terpelajar dan ahli astronomi, mereka mempelajari tanda lewat bintang dan mencari tahu kebenaranya dengan datang dan bertanya kepada orang Yahudi. Tujuan orang Majus datang adalah melihat Sang Mesias untuk memberikan persembahan mereka kepada Sang Mesias. Persembahan yang mereka berikan adalah emas, kemenyan dan mur.

.

.

. . . . Sering kali, fokus kita hanya kepada emas, kemenyan dan mur iru saja, sesuatu yang bersifat materi dan bernilai. Karna memang ketiga persembahan diatas memang memiliki nilai jual yang tinggi. Tapi ada satu persembahan yang sering dari orang Majus yang sering terlewatkan oleh kita, dan ini adalah persembahan pertama mereka Ketika mereka melihat bayi Sang Mesias, yaitu sujud menyembah Dia. Artinya, pemberian terbaik itu tidak hanya bersifat materi dan berharga. Orang Majus memberikan pelajaran kepada kita bahwa Ketika kita datang kepada Tuhan, maka hal utama yang perlu kita lakukan adalah datang sujud menyembah Dia, kemudian barulah persembahan yang bersifat materi. Kenapa demikian?

.

.

  1. . . Sujud menyembah bukti penyerahan diri.
    .
    . .
    Penyerahan diri kepada Tuhan adalah hal utama yang harus kita lakukan, bahkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa itu harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan (Roma 12:2).
    .
    .
  2. . .Sujud menyembah bukti kita manusia biasa
    .
    . .Orang Majus termasuk kaum orang-orang yang memiliki Pendidikan yang baik pada zamannya, kaum orang-orang terpelajar dan pintar. Tetapi Ketika mereka berhadapan dengan Sang Mesias, mereka tunduk dan sujud karna semuanya itu tidak ada apa-apanya dihadapan Sang Mesias.
    .
    .
  3. . .Sujud menyembah bukti kita mengenal Tuhan
    .
    . .Ilmu dan kepintaran harusnya membuat kita semakin mengenal siapa Tuhan, bukan malah sebaliknya. Hal inilah yang diperlihatkan oleh orang Majus yang datang ke Betlehem. Hal pertama yang mereka lakukan menunjukan bahwa mereka mengenal Tuhan. Karna yang layak mendapatkan sujud dan sembah kita adalah Dia yang menciptakan kita.
    .
    .

. . . . Dari ketiga poin diatas kita melihat pemberian terbaik kepada Tuhan haruslah memberikan sembah sujud kita terlebih dahulu, itu penting karna itu membuktikan kualitas iman kita kepada-Nya. Tidak salah memberikan materi dan barang berharga, tapi ingatlah esensi dasar pemberian kepada Tuhan adalah sembah sujud kita kepada-Nya.

.

.

. . . . Di momen Natal ini, mari datang kepada Tuhan dengan sembah sujud kita kepadanya Bersama keluarga kita, teman kita, bahkan pacar kita. Sujud sembah Bersama mereka tidak akan di batasi oleh pandemi.

.

.

. . . . Dalam Natal tahun ini, Tuhan Selalu menyertai kita semua, dan diberikan damai sejahtera.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

L.O.V.E (Loyalty, Obedience, Value, Encouragement)

Ditulis Oleh : Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.

.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 16:11

.

.

. . . .Sesungguhnya jalan kehidupan setiap orang berbeda-beda, karena setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing”. Kalimat seperti ini sering sekali dibicarakan dalam berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga dewasa dan lansia. Mengapa? Karena memang pada dasarnya setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dengan keistimewaan masing-masing. Setiap manusia berusaha menciptakan tujuan hidupnya masing-masing, mereka mencoba menata alur kehidupannya sesuai dengan keinginan dan harapan mereka. Namun, sadarkah kita bahwa terkadang jalan kehidupan kita justru semakin menjauh dari apa yang kita citakan dan harapkan? Dengan begitu, maka kita akan mengalami sebuah depresi bahkan  kekecewaan yang akhirnya akan berujung pada kepahitan/akar pahit dan trauma.

.

.

. Dalam renungan hari ini, kita diajak kembali melihat proses kehidupan dari salah satu tokoh Akitab, yang bahkan dikenal dalam kalangan orang percaya sebagai “sahabat Allah”, ya dialah Daud atau raja Daud. Proses kehidupan Daud adalah proses yang tidak mudah, hal ini dikarenakan ia harus mengalami naik-turun jalan kehidupan. Namun demikian, Daud senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap proses kehidupannya. Ia bahkan menulis Mazmur sebagai puji-pujiannya kepada Tuhan, salah satunya ialah Mazmur 16:11, dimana Daud menggambarkan tentang kebahagiaan serta tujuan hidup yang sesungguhnya bagi orang percaya. Daud menggambarkan bagaimana Tuhan menunjukkan jalan kehidupan kepadanya, sehingga Daud senantiasa menyadari penyertaan Tuhan dan sukacita yang Tuhan maksud dan berikan dalam kehidupannya. Demikian juga dengan orang percaya saat ini. Dalam kehidupan kita mungkin merasakan putus asa, kekecewaan, serta trauma terhadap setiap proses kehidupan yang kita jalani, karena tidak sesuai dengan harapan kita. Akan tetapi, jika kita mengandalkan Tuhan sepenuhnya, serta melakukan hal-hal berikut, maka kita akan melihat bagaimana karya Tuhan yang sungguh ajaib dalam hidup kita.

.

.

  1. . . Loyalty (Loyalitas)
    .
    . .“Loyalitas adalah perasaan kuat untuk menunjukkan kesetiaan”, dari kata-kata tersebut kita dapat belajar bagaimana loyalitas hidup kita berkaitan erat dengan kesetiaan kita. Tuhan telah menunjukkan kesetiaan-Nya melalui pengorbanan di kayu salib, sehingga kita tidak lagi terikat oleh setiap dosa-dosa kita. Oleh sebab itu, jika kita menyadari betapa berharganya kita di mata Tuhan serta menghargai setiap pengorbanan yang telah Tuhan lakukan bagi kita, maka kita pasti menunjukkan kesetian kita kepada-Nya. Amsal 17:17, menyatakan bagaimana loyalitas dan kesetiaan seorang sahabat kepada sahabatnya, demikian juga kita yang adalah sahabat Allah, sama seperti Daud yang menunjukkan loyalitas hidupnya demikian juga kita, setiap orang percaya.
    .
    .
  2. . .Obedience (Ketaatan)
    .
    . .“Ketaatan kepada Allah akan membawa berkat bagi kita dan orang lain”, seringkali banyak orang berpikir bahwa berkat yang dimaksud ialah berkat kekayaan, kesuksesan, kehebatan, dan lain sebagainya. Namun, jika kita melihat tentang apa yang dimaknai dengan ‘berkat’ di dalam firman Tuhan, maka kita akan menemukan bahwa sejatinya berkat yang dimaksudkan adalah sesuatu hal yang tidak pernah kita bayangkan, salah satunya ialah damai sejahtera dan sukacita. Dalam Yohanes 14:27, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus meninggalkan damai sejahtera bagi kita semua, hal ini berarti kemanapun kita pergi dan apapun yang kita lakukan, maka hidup kita akan membawa damai itu bagi orang lain. Kita (orang percaya) akan senantiasa merasakan kedamaian yang sejati dan sukacita, tidak bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi dalam hidup ini, karena kita tahu Allah beserta kita.
    .
    .
  3. . .Value (Nilai)
    .
    . .Nilai kehidupan seseorang terletak pada kualitas hidupnya serta teladan yang telah diberikan bagi orang lain. 1 Timotius 4:2 menyatakan bagaimana rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius saat itu untuk menjadi teladan dalam perkataan, sikap hidup, maupun pikiran. Demikian halnya dengan kita setiap orang percaya, jangan sampai kehidupan kita justru membawa dan menjerumuskan orang lain kepada ketidakbenaran itu. Oleh sebab itu, kualitas hidup kita dapat dilihat jika kita senantiasa membangun hubungan pribadi kita dengan Tuhan, dengan begitu Tuhan Yesus akan senantiasa menuntun jalan kehidupan kita.
    .
    .
  4. . .Encouragement (Dorongan)
    .
    . .Pada umumnya manusia merasakan sebuah dorongan kuat dalam dirinya jika hal tersebut adalah hal yang diinginkannya atau yang berkaitan dengan dirinya. Berbeda dengan orang percaya, kita akan senantiasa merasakan dorongan kuat dalam diri kita untuk terus mengabarkan kabar baik tentang keselamatan yang dari Allah kepada setiap orang yang belum percaya. Karena itu, kehidupan kita adalah kehidupan yang saling membangun dan saling menasehati (1 Tes.5:11).
    .
    .

. Melalui 4 poin diatas, kita dapat melihat bagaimana Allah menunjukkan jalan kehidupan yang sudah direncanakan sejak semula. Dalam hadirat Tuhan, kita juga senantiasa merasakan apa itu sukacita berlimpah yaitu sukacita yang sesungguhnya dan tidak dibatasi oleh keadaan dan situasi apapun. Kita dapat terus mengucap syukur karena kita tahu bahwa rencana Allah adalah rencana yang terbaik dan tidak pernah mengecewakan kita. Oleh sebab itu, marilah kita mulai saat ini belajar bersama untuk terus hidup mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah, seperti Daud yang senantiasa menyadari bahwa Tuhan memiliki hal yang istimewa baginya. Tuhan Yesus Menyertai.

.

.

Notes :

“It doesn’t matter what live has bring for us, remember that God’s plan is bigger than everything.”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

PERSIAPKANLAH JALAN UNTUK TUHAN

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Matius 3 : 2-3

.

.

.

.

. . . . Ada peribahasa kuna di Timur Tengah yang menyatakan bahwa, “ada tiga hal yang menyusahkan orang, yaitu penyakit, puasa, dan perjalanan”. Perjalanan menjadi salah satu hal yang menyusahkan orang karena pada zaman itu, jalanan yang ada di sana sangatlah buruk. Apa yang disebut dengan jalan tidak lebih dari hanya jalur-jalur alamiah di padang gersang. Tetapi di Yerusalem, raja Salomo melapisi semua jalan yang menuju ke Yerusalem, dengan batu-batu keras berwarna hitam.

.

.

. . . . Dalam konteks jalan yang sangat buruk tersebut nabi Yesaya menyerukan agar meluruskan jalan bagi Yahweh dan penulis Injil Matius menerapkannya pada penyambutan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Kata “persiapkanlah jalan” dimana jalan yang dimaksud adalah jalan raya yang akan dilalui oleh sang Raja. Di zaman itu, jika seorang pejabat diketahui akan datang, maka segala upaya dikerahkan untuk membuat jalan semulus mungkin karena orang penting harus bisa menempuh perjalanan dengan mudah dan cepat.

.

.

. . . . Demikianlah ketika Kristus datang. Dia adalah Tuhan dan Raja. Yesus adalah pribadi yang lebih penting dari sekedar penting. Sehingga jika raja atau pejabat harus disambut dengan jalan yang mulus, bagaimana dengan cara kita menyambut kedatangan Kristus? Jalan yang harus diluruskan itu tentu saja tidak diartikan secara hurufiah melainkan secara rohani bahwa kita harus mempersiapkan hati kita yang sudah diluruskan dan dimuluskan.

.

.

. . . . Yohanes Pembaptis, sebagai pribadi yang mempersiapkan jalan itu menyerukan agar kita bertobat. Pertobatan adalah cara kita meluruskan jalan itu. Apakah pertobatan itu? Di dalam tulisan Yunani secara umum, bertobat berarti mengubah pikiran seseorang (Roma 12:2). Pikiran mempengaruhi tindakan. Pertobatan berarti tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seorang yang telah di generasikan (lahir baru) untuk berbalik dari dosa kepada Allah di dalam suatu perubahan kehidupan sepenuhnya, yang dinyatakan dalam bentuk suatu cara berpikir, merasa, dan berkehendak yang baru.

.

.

. . . . Pertobatan merupakan karya Allah (Kis. 11:18). Tetapi disisi lain kita diperintahkan untuk bertobat dan kembali pada Allah (Yes. 55:7; Yeh. 33:11; Mat. 4:17, dsb). Hal ini disebut dengan paradoks (dua hal yang kelihatannya bertentangan tetapi dua-duanya benar). Menurut Anthony Hoekema, pertobatan terdiri dari 3 aspek yang bersifat satu kesatuan tetapi dapat dibedakan yaitu:

.

  1. . . Suatu aspek intelektual yaitu pengenalan akan kekudusan dan keagungan Allah.
    .
    . . Kita harus menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa tetapi Allah kita yang agung dan kudus mau mengampuni kita.
    .
    .

  2. . . Suatu aspek emosional yaitu perasaan dukacita yang mendalam di dalam hati atas dosa itu sendiri bukan sekedar dukacita karena takut akibat dari dosa.
    .
    . . Kita bukan takut apa akibat dari mencuri tetapi kita takut melakukan pencurian itu. Kita bukan takut apa akibat membunuh tetapi kita takut melakukan dosa pembunuhan. Karena ketika kita mengasihi Allah, kita seharusnya takut untuk menyakiti Allah kita.
    .
    .

  3. . . Suatu aspek volisional yaitu perubahan dalam tujuan dan motivasi kita. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa jika kita mengasihi keluarga kita ataupun hal yang lain melebihi Tuhan, kita tidak layak bagi Tuhan (Mat. 10:37-39). Dalam aspek ini juga ada penyangkalan diri dan memikul salib.
    .
    . . Seringkali kita datang pada Tuhan karena janji berkat-Nya. Kita dimotivasi dengan janji bahwa doa kita pasti dikabulkan semua oleh Tuhan. Tentu kita menyukai berkat Tuhan. Tentu kita menyukai kalau doa kita dikabulkan. Tetapi apa sebenarnya yang menjadi motivasi kita untuk datang pada Tuhan? Tetapi yang utama adalah Tuhan itu sendiri. Karena itu perintah yang pertama adalah kita harus mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita (Mat. 22:37). Jika kita adalah pria yang kaya. Kita tidak menyukai wanita yang mau menikah dengan kita karena kita kaya. Kita lebih menginginkan yang tulus. Dan kita pasti juga akan memberikan yang terbaik buat orang yang kita cintai dan mencintai kita dengan tulus bahkan tanpa diminta. Karena itu dalam pertobatan, lihatlah motivasi kita! Apakah kita benar-benar menjadikan Tuhan nomor satu di hidup kita? Dengan janji berkat Tuhan, kita justru menjadi orang yang tidak menyangkal diri dan tidak mengutamakan Tuhan dalam hidup kita. Kita menjadikan Tuhan hanya sebagai sarana untuk kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
    .
    .

. . . . Pertobatan juga merupakan suatu tindakan berkelanjutan seumur hidup. Sebelumnya kita harus bisa membedakan pertobatan awal dan pertobatan berkelanjutan. Pertobatan awal terjadi saat regenerasi (lahir baru). Pertobatan kita sekarang adalah pertobatan yang berkelanjutan. Dalam Roma 12:2 kata “Berubahlah” berbentuk present imperatif Tense. Present dalam bahasa Yunani lebih mengarah kepada Present Continuous dalam bahasa Inggris sehingga Present Imperatif berarti suatu perintah untuk berubah yang dilakukan sekarang dan seterusnya (berkelanjutan).

.

.

. . . . Yohanes pembaptis memberikan alasan bahwa kita harus bertobat karena kerajaan sorga sudah dekat. Perlu diketahui istilah kerajaan sorga ataupun kerajaan Allah memiliki makna yang sama. Baik Yohanes pembaptis maupun Yesus Kristus memulai pelayanan dengan mengingatkan agar bertobat sebab kerajaan sorga sudah dekat (Mat. 4:17). Saat itu memang sudah dekat tetapi saat ini kita sudah hidup sebagai warga kerajaan Allah.

.

.

. . . . Kerajaan Allah adalah kerajaan yang dipimpin oleh Allah sendiri. Kerajaan Allah yang dibahas di Alkitab pertama-tama bersifat present (Mat. 12:28) dan Future (Mat. 26:29). Artinya bahwa kerajaan Allah sudah ada sejak Yesus dan terus ada dan akan mencapai puncaknya pada kedatangan Kristus yang kedua. Sehingga, kita saat ini telah hidup sebagai warga kerajaan Allah. Itu sebabnya Kristus memerintahkan agar kita mengutamakan kerjaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33).

.

.

. . . . Karena itu sebagai orang-orang yang sudah menjadi bagian dari kerajaan Allah, maka kita kita harus menunjukkan hidup yang sesuai dengan sifat kerajaan Allah itu sendiri. Kita hidup dalam pertobatan yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

.

.

. . . . Kita memang tidak mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang pertama lagi melainkan kedatangan Kristus yang kedua. Tetapi dalam menyambut natal pun, saat ini kita harus tetap memiliki pertobatan itu. Sekaligus kita sedang menyambut kedatangan Kristus yang kedua kali. Bertobatlah setiap hari yang diwujudkan dengan perbuatan kita! Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

MENJAGA KEKUDUSAN

Ditulis Oleh : Sdr. Delis Zai

.

.

Pembacaan Alkitab : 1 Petrus 13-25

.

.

.

“…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,”  1 Petrus 1:15

.

.

.

.

. . . . Hidup dalam kekudusan dan tidak bercacat sesungguhnya adalah kehendak Tuhan bagi setiap manusia, sebab Tuhan telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1:27.  Tuhan adalah kudus, maka Ia pun menghendaki manusia kudus seperti diri-Nya.  “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”  1 Petrus 1:16.  Karena Tuhan adalah kudus maka Ia tidak dapat menyatu dengan ketidakkudusan dan segala bentuk kecemaran.  Dengan kata lain kalau kita tidak hidup dalam kekudusan kita pun tidak dapat menyatu dengan Tuhan.  Alkitab menegaskan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan, maka dari itu  “…kejarlah kekudusan,”  Ibrani 12:14.  Apabila kita ingin melihat dan mengalami kehadiran Tuhan syarat mutlaknya hidup dalam kekudusan.

.

.

. . . . Salah satu definisi kata kudus adalah berada dalam kemurnian;  bahasa Ibraninya kadosh, yang berarti naik lebih tinggi.  Artinya Tuhan memanggil orang percaya untuk hidup sesuai dengan standar-Nya, level hidup yang naik ke arah Kristus, yaitu hidup sebagaimana Kristus hidup dan berpikir sebagaimana Kristus berpikir.  Hidup kudus berarti pula hidup terpisah dari segala bentuk dosa dan mempersembahkan hidup hanya bagi Tuhan, karena tubuh kita adalah bait Tuhan.  “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”  1 Korintus 3:16.  Bait Tuhan merupakan suatu tempat yang kudus di mana hadirat Tuhan akan hadir di dalamnya.  Untuk itulah kita harus memelihara tubuh kita agar selalu bersih dan terbebas dari segala bentuk kenajisan dan kecemaran.  Bagaimana caranya?  Kita harus mau hidup dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.  Dengan pertolongan Roh Kudus saja kita beroleh kekuatan untuk meninggalkan perbuatan daging.

.

.

KESIMPULAN

Kekudusan dan kemurnian hidup tidak akan pernah bisa dicapai jika kita mengandalkan kekuatan sendiri, tanpa bergantung kepada anugerah dan kekuatan dari Tuhan.  Tanpa Roh Kudus kita tidak akan mampu!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email