“Yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah” 2 Petrus 2:12.
.
.
.
.
. . . . Kedatangan Kristus kali kedua (parousia), merupakan pembahasan yang terus dibicarakan dalam lingkungan kekristenanan, terlebih-lebih bagi para teolog-teolog Kristen. Kedatangan Kristus kali kedua merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia, sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:10-11, “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke Sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Sorga.”
.
.
. . . . Apakah manusia (orang percaya) bisa mempercepat hari kedatangan Kristus kali kedua tersebut? (ayat nats). Tidak! Manusia tidak berkuasa atas hari kedatangan Kristus kali kedua, sekalipun orang percaya. Kata “menantikan” dalam bahasa Yunani ialah “prosdokaw” (prosdokao), artinya menunggu dengan penuh pengharapan, sedangkan kata “mempercepat” dalam bahasa Yunani ialah “speudw” (speudo), artinya menginginkan dengan cepat. Jadi, yang dimaksud dengan kata “menantikan” dan “mempercepat” adalah suatu sifat orang-orang percaya, yang memiliki harapan agar hari kedatangan Kristus terjadi secepat mungkin. Mereka tidak sabar lagi untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, dimana dalam Kerajaan Sorga tersebut tidak ada lagi kejahatan, melainkan adanya kebenaran, damai sejahtera dan sukacita, (Roma 14:17).
.
.
. . . . Lalu, apakah kita sebagai orang yang sudah percaya diam (pasif) menunggu kedatangan Kristus kali kedua tersebut? Tidak,, sebagai orang percaya ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menanti kedatangan Kristus kali kedua, yaitu:
.
.
. . . .Berpegang Teguh Pada Kebenaran (Ayat 3-7)
. . . . Tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini orang percaya juga diperhadapkan dengan orang-orang yang membawa ajaran sesat. Untuk itu, perlu sekali orang percaya harus berpegang teguh pada kebenaran, yaitu Firman Allah (Alkitab). Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan selalu berdoa, membaca dan merenungkan Alkitab, beribadah kepada Tuhan, melayani dan mengajarkan kebenaran tersebut kepada orang lain (bersaksi).
.
.
. . . .Jangan Samakan Diri Saudara Dengan Tuhan (Ayat 8-13)
. . . . Seringkali manusia merasa hebat dari Tuhan. Ini sebuah tindakan yang salah. Perlu kita ketahui bahwa Manusia adalah ciptaan, terbatas dan berdosa, sedangkan Tuhan adalah Pencipta, tidak terbatas dan suci. Jadilah orang yang selalu rendah hati dan yang mengandalkan Tuhan, sebab tanpa Tuhan manusia tidak bisa berbuat apa-apa.
.
.
. . . .Menjaga Kekudusan Hidup (Ayat 14-16)
. . . . Menjaga kekudusan hidup (tidak melakukan dosa) merupakan sesuatu hal yang sulit dalam kehidupan kita (hidup menurut kedagingan). Tetapi, tidak sulit jikalau kita memberi diri kita di tuntun oleh Roh Kudus setiap hari, sebab Roh Kuduslah yang senantiasa membantu dan menolong kita (hidup menurut Roh).
.
.
“TUHAN TIDAK LALAI MENEPATI JANJI-NYA, SEKALIPUN ADA ORANG YANG MENGANGGAPNYA SEBAGAI KELALAIAN, TETAPI IA SABAR TERHADAP KAMU, KARENA IA MENGHENDAKI SUPAYA JANGAN ADA YANG BINASA, MELAINKAN SUPAYA SEMUA ORANG BERBALIK DAN BERTOBAT” 2 PETRUS 3:9
. . . . Sebagai orang percaya kita harus memelihara hubungan yang harmonis dengan Tuhan, karena ada faktor-faktor yang dapat menyebabkan hubungan manusia dan Tuhan tidak harmonis lagi.
.
.
. . Apa faktor yang dapat menghancurkan keharmonisan antara orang percaya dengan Tuhan ? . . Faktor Eksternal . a. Kesibukan, . .faktor ini menjadi pemicu banyak orang bahkan tidak tertutup kemungkinan terdapat dikalangan orang-orang percaya tidak lagi memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Bahkan karena kesibukan ada banyak anak-anak Tuhan tidak lagi memiliki waktu untuk beribadah. Ini menjadi satu peringatan untuk kita sebagi orang-orang percaya, jangan sampai kita dikendalikan oleh keadaan, diatur oleh waktu dan di taklukan oleh kesibukan, namun kita harus menjadi orang yang dapat menaklukan dan mengatur waktu dengan baik. . b. Kesuksesan, . .faktor ini juga banyak menghancurkan keharmonisan hubungan dengan Tuhan. Pada waktu masa sulit, saat memiliki banyak kekurangan, ketidak mampuan, kondisi memprihatinkan saat itu hubungan dengan Tuhan sangat baik bahkan selalu memiliki waktu untuk tuhan, namun setelah sukses tidak lagi memiliki hati untuk memuji Tuhan, bahkan tidak lagi memiliki waktu untuk bersyukur kepada Tuhan. . . Faktor Internal . a. Kekecewaan, . .banyak orang yang menjauh dari Tuhann karena merasa kecewa dengan kenyataan hidup yang terjadi. Faktor kekecewaan sangat mempengaruhi hubungan dengan Tuhan, faktor ini dapat membuat orang putus asa. Contohnya, ketika seseorang mendoakan sesuatu namun tidak diterimanya dengan waktu yang diharapkannya makan hal tersebut dapat menimbulkan kekecewaan. Ketika mengalami banyak tantangan dan pencobaan hidup yang tidak kunjung berhenti dapat juga menimbulkan kekecewaan terhadap Tuhan. . b. kekuatiran, . .setiap manusia pasti memiliki rasa kekuatiran dalam hidupnya. namun ternyata kekuatiran juga menjadi salah satu faktor yang dapat merusak keharmonisan hubungan dengan Tuhan. Kekuatiran yang berujung pada keragu-raguan atas kuasa dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan manusia. . .
. . Bagaimana memelihara hubungan yang harmonis dengan Tuhan ? . . .Harus memiliki motivasi yang benar menjadi dalam mengikut Tuhan Sebagai seorang Kristen, kita harus memiliki motivasi yang benar untuk mengikut Kristus. Dengan motivasi yang benar orang percaya dapat memelihara hubungan dengan Tuhan. Dalam Firman Tuhan yang menjadi renungan kita pada saat ini mengajarkan kita supada selalu bertekun, namun ketika kita tidak memiliki motivasi yang benar ketekunan itu tidak akan mampu untuk kita lakukan dalam kehidupan sebagai seorang pengikut Kristus. Kita mengikut Kristus bukan supaya kita mendapatkan keselamatan, berkat yang melimpah, atau supaya kita menerima pengampunan, karena sebagai orang percaya kita telah diselamatkan, telah diberkati, bakan telah menerima pengampunan. Lalu mengapa kita harus memelihara keharmonisan tersebut jawabannya adalah karena kita adalah milik Kristus, dan kristus adalah milik kita sebagai orang percaya yang sudah seharusnya memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan. . – . .Tunduk dalam pimpinan Roh Kudus . . .Sebagai manusia biasa, orang percaya memiliki banyak keterbatasan, karena itu sebagai orang percaya kita harus tunduk dalam pimpinan Roh Kudus. Dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan kita juga sangat membutuhkan pimpinan Roh Kudus. Ketika kita hidup dalam pimpinan Roh Kudus maka yang kita lakukan adalah keinginan Roh dan bukan lagi keinginan daging kita sebagai manusia. Seperti yang Rasul Paulus tuliskan dalam Galatia 5:25 “Jika kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” . – . .Selalu melakukan kehendak Tuhan . . .Dalam Renungan Firman Tuhan ini mengajak kita sebagai orang percaya untuk selalu melakukan kehendak Tuhan. Dalam konteks pembacaan ini adalah ajakan untuk bertekun beribadah kepada Tuhan. ketika kita tekun melakukan kehendek Tuhan pastinya hubungan selalu harmonis dengan Tuhan. . .
. . . . Demikian kebenaran Firman Tuhan yang menjadi renungan singkat, biarlah Firman Tuhan ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita setian hari. Marilah kita menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dan tidak membiarkan apapun menghancurkan keharmonisan itu. Tuhan Yesus Memberkati, Amin.
. . . . Iman adalah keyakinan, sesuatu yang tidak memiliki bentuk dan rupa tapi memiliki objek yang nyata. Sehingga iman yang benar itu harus memiliki bukti, dalam wujud tindakan nyata, sesuatu yang dapat dilihat mata. Jika tidak iman kita adalah iman yang mati.
.
.
. . . . Kisah Tuhan Yesus menyembuhkan seorang hamba perwira ini terjadi di Kapernaum di bagian utara Danau Galilea setelah Yesus mengajar di depan orang banyak pada Lukas 6: 20-49. Penulis Injil Lukas menceritakan tentang seorang perwira Romawi yang tidak disebut namanya, namun dengan terperinci Lukas menggambarkan sifat-sifat mulia dari perwira ini. Kisah ini mau mengajarkan kita tentang apa itu iman yang benar seperti yang dimiliki perwira itu kepada Yesus. Perwira ini merupakan satu-satunya laki-laki di dalam Perjanjian Baru yang mendapat pujian dari Yesus, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel”.
.
.
. . . . Di dalam perenungan ini kita belajar 3 tahap sederhana untuk memperlihatkan bukti nyata dari iman seorang perwira.
.
. .Rendah hati (ayat 6b) . . .Orang yang memiliki iman yang benar tidak akan menyombongkan dirinya denga napa yang ada pada dirinya. Justru iman yang benar kepada Yesus Kristus membuat kita sadar bahwa tidak ada yang lebih besar dan berharga dari kasih Tuhan. Hal ini lah yang dilakukan oleh seorang perwira ini, tidak menganggap jabatan dan posisinya sebagai perwira sesuatu yang pantas disombongkan dihapadapan Yesus Kristus. Bahkan perwira ini menyadari bahwa dirinya juga seorang bawahan. . . .Perlu adanya kerendahan hati untuk bisa membuktikan bahwa kita tidak akan mampu tanpa pertolongan Tuhan. Bahkan dalam memperlihatkan bukti iman kita pun kita harus memiliki sikap rendah hati. . .
. .Percaya (ayat 7) . . .Berbicara tentang iman, berbicara tentang percaya. Tidak bisa kita berkata bahwa kita memiliki iman tapi tidak percaya kepada objek iman itu. Beriman kepada Tuhan Yesus berarti percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Sama seperti yang dilakukan oleh seorang perwira ini. Dia percaya bahwa dengan hanya mengucapkan sepatah kata saja maka hambanya akan sembuh. Ini menunjukan bukti dari kualitas iman seseorang. Tidak banyak orang yang memiliki keyakinan dan kepercayaan seperti ini. . .
. .Taat (ayat 10) . . .Selain dari rendah hati dan percaya, maka hal yang tidak kalah penting yang perlu kita lakukan adalah taat kepada Tuhan. Tentu berbicara tentang taat tidak sebatas ucapan saja, melainkan ada Tindakan nyata dari ketaatan itu sendiri. Dan ketaatan akan timbul Ketika kita memiliki kerendahan hati dan percaya penuh kepada Tuhan Yesus. Tanpa ketaatan kita tidak bisa membuktikan kualitas iman kita.
.
.
. . . . Tiga tahap diatas adalah hal yang dilakukan oleh perwira untuk memperlihatkan bukti dari kualitas iman nya, bagaimana dengan kita? Sudahkan kita membuktikan iman kita kepada Tuhan?
.
.
“Iman yang besar dapat memindahkan gunung, tetapi iman yang benar tetap percaya meski gunungnya tidak pindah”
Ditulis oleh : Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin
.
.
Pembacaan Alkitab : I Petrus 2:9-10
.
.
.
.
. . . . “…Bahwa sesungguhnya kemerdakaan itu ialah hak segala bangsa…” demikian isi penggalan kalimat dari UUD 1945. Bangsa Indonesia mengumumkan kemerdakaannya pada 17 Agustus 1945, hal ini menggambarkan bahwa bangsa Indonesia tidak lagi berada di bawah pengaruh penjajahan melainkan menjadi suatu negara kesatuan yang utuh. Bangsa Indonesia dapat mengalami kemerdekaan semua merupakan sebuah proses panjang dan penuh perjuangan dari para pahlawan yang mengorbankan dirinya untuk Indonesia merdeka. Bila Indonesia saja bisa merdeka, bagaimana dengan kehidupan orang percaya?
.
.
. . . . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemerdekaan adalah keadaan dimana dapat berdiri sendiri, bebas, lepas, tidak dijajah, serta kebebasan dan kemenangan. Akan tetapi, kemerdekaan tidak dapat dibatasi hanya pada keadaan fisik seseorang maupun kelompok/bangsa. Kemerdekaan yang paling utama ialah kemerdekaan yang mampu melepasakan seseorang atau bahkan kelompok dari keterikatan akan dosa. Keterikatan/penjajahan dosa dalam kehidupan manusia diawali dari perbuatan manusia itu sendiri (Kej. 3). Sehingga, kehidupan manusia menjadi terhilang dari kemuliaan Allah (Rm. 3:23), yang berujung pada maut/kematian kekal (Rm. 6:23). Semua perjuangan manusia untuk melepaskan diri dari keterikatan/penjajahan dosa tidak membuahkan hasil sedikitpun, inilah yang menjadi titik keputusasaan dalam hidup. Oleh sebab itu, manusia membutuhkan sebuah pengorbanan yang kekal.
.
.
. . . . Kasih dan keadilan Allah dibuktikan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib (Yoh.3:16). Pengorbanan inilah yang menjadi titik balik dari penjajahan dosa kepada kemerdekaan yang kekal. Pengorbanan kekal ini juga menjadi jalan satu-satunya untuk mengalami kehidupan kekal bersama dengan Allah. Akan tetapi, pengorbanan ini sesungguhnya bukan hanya terbatas pada satu individu saja, dalam I Petrus 2:9-10 mengingatkan kita bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah sendiri. Oleh sebab itu, kemerdekaan akan kutuk dosa merupakan bagian dari setiap orang yang percaya. Lalu, bagaimana cara kita agar dapat mengerti tentang kemerdekaan itu?
.
.
. . Menjadi bagian dari yang terpilih . . . Terpilih bukan berarti kita layak karena kehebatan, kekuatan, dan bahkan apa yang telah kita lakukan untuk menerima kemerdekaan itu. Terpilih berarti bahwa Allah telah sejak semula memberikan kesempatan tersebut dan kita meresponinya. Oleh sebab itu, menjadi bagian yang terpilih adalah suatu kebanggan bagi kita – khususnya orang percaya – karena dengan demikian kita menyadari bahwa kita tidak lagi berada dalam kutuk/penjajahan dosa. Kehidupan kita tidak lagi menjadi milik kita sendiri, melainkan menjadi milik Allah sepenuhnya. Respon yang kita berikan menjadi bukti bahwa kita menerima kemerdekaan itu dan menyadari bahwa kehidupan kekal dari Allah adalah satu-satunya harapan kita sebagai orang percaya. Kita dapat berharap dan bergantung sepenuhnya kepada Allah dan rancangan-Nya bagi kehidupan kita. . .
. . Memanggil keluar orang-orang dalam kegelapan . . . Sebagai orang percaya yang telah menerima kemerdekaan kekal dari Allah, seharusnya tidak menjadikan kita sebagai individu atau kelompok eksklusif. Akan tetapi, kemerdekaan yang kita terima justru menjadikan kita sebagai individu atau kelompok yang memiliki simpati dan empati yang kuat untuk juga menarik sebanyak mungkin orang untuk dapat menerima kemerdekaan yang sama. Kita yang semula berada dalam kegelapan kini berpindah ke dalam terang, dan sumber Terang itu (Allah) menginginkan agar semua umat manusia juga berada dalam terang yang sama. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya kita harus mulai melangkah untuk menarik sebanyak mungkin orang dalam kegelapan untuk berpindah pada terang Allah. . .
. . Memiliki hati yang penuh belas kasihan . . . Belas kasihan adalah suatu perasaan yang lebih kuat dari empati, sehingga memunculkan usaha untuk mengurangi penderitaan orang lain. Belas kasihan dari Allah terbukti dari pengorbanan Anak-Nya yang Tunggal sebagai penebusan dosa manusia, ini berarti bahwa Allah tidak hanya memiliki empati terhadap manusia yang berada dalam penjajahan tetapi justru melakukan sesuatu hal untuk melepaskan penderitaan manusia. Inilah yang Tuhan inginkan bagi setiap orang percaya, yaitu memiliki usaha untuk tidak hanya terlepas dari penderitaan tetapi justru melepaskan yang lain dari penderitaan itu juga. . .
. . . . Melalui renungan singkat hari ini, kita belajar bagaimana pentingnya kemerdekaan terhadap kehidupan manusia. Kemerdekaan satu-satunya yang Allah berikan adalah kemerdekaan bagi semua orang. Mulailah dari diri sendiri untuk melangkah dan meninggalkan kenyamanan hidup untuk melakukan usaha menarik sebanyak-banyaknya orang dari kegelapan. Tuhan Yesus Menyertai.
.
.
Notes :
”God’s freedom doesn’t mean that we are an exclusive people, but make us to be one. So, keep the spirit of freedom to find and get another nation for God”
. . . . Orang Majus datang dari Timur ke Yerusalem untuk menemui seorang Raja yang baru lahir. Secara etika mereka harus menjumpai dahulu raja yang ada di Yerusalem dan sebagai tamu terhormat, mereka diijinkan untuk menemui raja Herodes secara langsung.
.
.
. . . Diceritakan bahwa Herodes terkejut (Seharusnya “terganggu”) karena mendengar seorang raja yang baru lahir lalu bertanya kepada para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi tentang raja orang Yahudi. Fakta yang mengejutkan adalah para ahli Taurat dan imam kepala mengetahui berdasarkan Mikha 5:1-2 bahwa akan lahir raja mereka yang akan memimpin mereka. Mereka menyadari bahwa itu adalah Mesias yang mereka nantikan. Tetapi sikap mereka yang seharusnya menjadi contoh umat justru pasif. Ada apa dengan mereka? Apa karena mereka takut kepada Herodes?
.
.
. . . Karena itu kita perlu memahami siapa raja Herodes Agung ini. Pertama-tama, raja Herodes Agung ini adalah raja yang mampu mengambil hati orang Yahudi. Raja ini membangun Bait Allah yang megah yang dibangun selama 46 tahun (Yoh. 2:20). Para Imam dan Ahli Taurat tentu saja merasa bangga dan bahagia dengan kehadiran bait Allah yang luar biasa ini. Walaupun bait Allah ini belum selesai dibangun (dibangun 18 tahun sebelum Kristus), tetapi sudah cukup untuk mengambil hati orang Yahudi. Yang kedua, raja Herodes yang terkenal hebat dan jenius ini memiliki sikap kejam. Raja Herodes mudah marah dan curiga. Herodes pernah membunuh isterinya sendiri, ibu mertuanya dan 3 anak laki-lakinya hanya karena curiga kalau mereka ingin merebut takhtanya.
.
.
. . . Mungkin mereka takut karena hal-hal di atas. Mungkin juga para imam kepala dan ahli Taurat terlalu terlena dengan kemewahan di kerajaan? Kita tidak tahu pasti akan hal itu. Yang kita tahu pasti adalah mereka tahu kebenaran tetapi mereka hanya berdiam diri dan tidak menyembut kelahiran raja mereka sendiri yang mereka pikir akan membebaskan mereka dari penjajahan.
.
.
. . . Jadi ada dua sikap yang perlu kita perhatikan dari tokoh-tokoh ini dalam menyambut kelahiran Yesus.
.
1. . . . Raja Herodes yang terganggu dan akhirnya memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah 2 tahun di Betlehem
.
2. . . . Ahli Taurat dan imam kepala yang pasif.
.
.
. . . Bagimana dengan sikap kita menyambut kelahiran raja kita di masa natal ini? Kita tertanggu seperti Herodes? Terganggu karena kita sudah menyusun acara keluarga di masa liburan? Terganggu karena kita punya pekerjaan dan lemburan? terganggu dengan semua acara yang kita sudah susun sejak lama?
.
.
. . . Atau kita seperti imama kepala dan ahli Taurat yang pasif? Pasif dalam masalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Pasif dalam hal-hal rohani. Kita berpikir bahwa yang penting kita ikut natal, membuat acara yang mewah dalam natal, mendapatkan kado natal, dan mengikuti semua undangan natal. kita tidak secara aktif memberikan hati dan pikiran kita pada Tuhan. Kita lebih memilih hal yang menyukakan hati kita dibandingkan dengan apa yang disukai Tuhan.
.
.
. . . Karena itu, mari kita menyambut Raja kita yang telah lahir sebagai seorang raja Agung yang harus kita hormati. Kita datang dengan penuh kerendahan hati yang menyadari diri kita sebagai hamba. Seperti orang majus yang memberikan yang terbaik untuk Yesus, Kitapun menyambut raja kita dengan pemberian yang terbaik yang bisa kita berikan pada Tuhan yaitu tubuh kita (Roma 12:1). Tubuh yang hidup, kudus, dan yang berkenan pada Allah. Sehingga hal itu akan berdampak pada sukacita natal kita yaitu sukacita karena kelahiran Raja kita. Tuhan memberkati kita. Amin.
“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;” (Ulangan 8:11)
.
.
. . . . Rambu-rambu lalu lintas tentu saja bukanlah sesuatu hal yang asing lagi untuk kita dengar. Bahkan kita yang menjalani kehidupan di kota metropolitan, seringkali menemukan banyak rambu-rambu lalu lintas saat kita melakukan sebuah perjalanan. Menurut KBBI, rambu-rambu lalu lintas artinya tanda atau petunjuk. Rambu-rambu lalu lintas bertujuan untuk menjaga keamanan, ketertiban, kelancaran dan kenyamanan bagi pengguna jalan.
.
.
. . . . Bangsa Israel Israel juga mendapatkan rambu-rambu lalu lintas dari Allah yang disampaikan melalui hamba-Nya Musa (ayat nats). Sebagaimana tujuan rambu-rambu lalu lintas untuk menjaga keamanan, ketertiban, kelancaran dan kenyamanan bagi pengguna jalan, demikian jugalah rambu-rambu lalu lintas dari Allah bertujuan untuk menjaga keamanan, ketertiban, kelancaran dan kenyamanan bangsa Israel dalam memasuki tanah Kanaan (Tanah Perjanjian). Melanggar rambu-rambu lalu lintas dari Allah, akan mengakibatkan sesuatu hal yang fatal, yaitu pasti binasa, “Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa” Ulangan 8:19, (sama halnya jika kita melanggar rambu-rambu lalu lintas jalan, kita akan mengalami kecelakaan).
.
.
. . . . Rambu-rambu lalu lintas dari Allah tidak hanya berlaku bagi bangsa Israel saja, tetapi juga berlaku bagi kehidupan kita sebagai orang percaya saat ini, yakni orang-orang yang telah mengaku dan percaya Yesus sebagai Juru Selamat kita. Lalu, apa saja tanda atau petunjuk (rambu-rambu) dari Allah bagi kita orang percaya?
.
.
. .Setia Melakukan Perintah Tuhan (Ayat 1) . . . Kesetiaan dalam melakukan perintah Tuhan dalam hidup kita, bukanlah sesuatu hal yang sia-sia, melainkan sesuatu langkah kita untuk memperoleh hidup.“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius24:13). . .
. .Hidup Takut Dengan Berpegang Pada Perintah Tuhan (Ayat 6) . . .Artinya, orang percaya harus bisa menjalani segala aspek kehidupannya dengan takut (takut dalam hal taat, patuh) terhadap segala perintah Tuhan. Iman Kristen tidak hanya sebatas pengakuan saja, tetapi juga membutuhkan bukti atas iman tersebut. . .
. .Jangan Melupakan Tuhan (Ayat 11) . . .Tindakan yang salah ialah ketika kita meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada allah lain, hanya karena harta, tahta dan cinta. “Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa” (Ulangan 8:19), inilah akibat jikalau kita melupakan Tuhan.
.
.
TAAT DAN PATUH TERHADAP RAMBU-RAMBU LALU LINTAS JALAN, MENGHINDARI KITA DARI KECELAKAAN.
TETAPI TAAT DAN PATUH TERHADAP RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DARI ALLAH, MEMBUAT KITA MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL.
. . . . Dalam pembacaan Firman Tuhan kitab 1 Samuel ini khsusnya dalam pasal 17, jika kita membaca secara keseluruhan, pasal ini menceritakan bagaimana Goliat menantang barisan Israel untuk berperang. Ketika melihat tindakan Goliat yang meminta seorang dari barisan Israel untuk melawan dia, Saul yang pada saat itu adalah seorang raja merasa gentar dan takut bahkan dalam ayat 11 disana dituliskan bahwa “Saul dan segenap orang Israel merasa cemas hati dan sangat ketakutan” karena perkataan dari orang Filistin itu.
.
.
. . . . Dalam permasalahan yang terjadi pada saat itu ada pelajaran yang akan kita ambil dari seorang Daud. Ditengah ketakutan Raja Saul dan seluruh bangsa Israel Daud maju menjadi seorang yang berani menerima tantangan dari Goliat. Dari tindakan Daud ini kita akan mempelajari bagaimana Daud memandang dan menyelesaikan sebuah masalah yang dihadapinya.
.
.
. . Tidak mundur atau lari dari masalah . . . . Dalam Ayat 32 Daud berkata kepada Saul “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia, hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu”. Pada saat itu Daud mengatakan hal tersebut dalam kondisi sadar, Daud tau siapa yang akan dia hadapi yaitu Goliat seorang yang memiliki postur tubuh yang besar, dalam Ayat 4-5 mencatat bahwa Goliat adalah seorang pendekar, lengkap dengan perlengkapan perang, bahkan tingginya adalah 6 hasta sejengkal kira-kira 3,2 meter. . . . Namun Daud tidak mundur meskipun Daud tau bahwa orang yang akan dia hadapi bukanlah seseorang yang mudah untuk dikalahkan. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya Daud memberikan teladan dalam hal ini, jangan pernah kita mundur bahkan lari dari berbagai masalah yang kita hadapi bahkan ketika kita tau bahwa masalah itu bukanlah masalah yang mudah diselesaikan. . .
. . Menghadapi Permasalahan Bersama Dengan Tuhan . . . Ketika Goliat menantang barisan Israel, Goliat diperlengkapi dengan perlengkapan perang, yaitu dengan (pedang, tombak dan lembing). Namun bagaimana reaksi seorang Daud dengan hal tersebut, Daud sama skali tidak merasa takut bahkan Daud dengan penuh keberanian dalam ayat 45 mengatakan “Tetapi Daud mengatakan kepada orang Filistin itu, Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendaatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah dari segala barisan Israel yang kau tantang itu”. . . . . Daud menghadapi masalah yang ada dihadapannya bersama dengan Tuhan. Daud tidak fokus pada tingginya badan seorang Goliat, tidak fokus pada perlengkapan perang seorang lawannya. Tetapi Daud Fokus kepada bersama siapa dia akan menghadapi masalah yang ada dihadapannya. Disini kita belajar bahwa tidak peduli sebesar apa masalah, tantangan yang ada dalam jalan kehidupan kita, sebagai orang percaya kita semestinya fokus bersama siapa kita menghadapi setiap tantangan dan permasalahan hidup kita. . .
. . Kemenangan Ada Dipihak Orang Percaya . . . Ending dari ketidak gentaran Daud, ketika menghadapi masalah yaitu seorang Goliat, dia memperoleh kemenangan. Ayat 50, menuliskan Daud mengalahkan Goliat dengan umban dan batu, Daud membunuhnya tanpa pedang ditangan, bahkan Daud mempermalukan barisan orang Filistin. ini adalah satu bukti bahwa kemenangan selalu ada dipihak orang percaya. Daud menjadi seorang pemenang dalam sebuah pertarungan melawan orang yang tidak mudah dikalahkan. Saat ini kitapun harus percaya bahwa kita menjadi seorang pemenang dalam menghadapi setiap tantangan atau permasalahan hidup yang saat ini kita hadapi selipun masalah yang ada bukanlah masalah yang mudah untuk diselesaikan.
.
.
. . . . Demikian kebenaran Firman Tuhan, yang menjadi renungan kita sebagai orang-orang percaya.
.
.
Pesan akhir: Mari kita sebagai orang percaya maju menghadapi setiap masalah yang ada, menghadapinya bersama dengan Tuhan semesta alam, dan percaya bahwa kita adalah orang-orang yang lebih dari pemenang. sehingga kita mampu mengatakan “Tuhan ku lebih besar dari masalah ku”.
. . . .Setiap anak di dunia pasti memiliki keunikkan sendiri, serta talenta yang begitu hebat. Karena, pada dasarnya Tuhan menciptakan setiap manusia itu unik, setiap manusia juga memiliki karakter masing-masing yang kelak akan mendukung kepribadian dan talentanya tersebut. Dan kisah ini berasal dari seorang gadis kecil bernama Earth.
.
.
. . . . Earth adalah seorang gadis cantik yang memiliki karakter periang, ramah, serta tingkat kepekaan yang tinggi akan sekitarnya. Earth tidak segan untuk menolong orang lain, entah apapun yang sedang ia kerjakan. Masyarakat di lingkungan mengenalnya sebagai ‘Malaikat Hati’. Sebuta itu berasal dari kepribadian yang Earth tunjukkan, meskipun ia tidak dapat melihat dengan mata jasmani, namun ia dapat merasakannya dengan hati apabila orang lain membutuhkan pertolongan. Pada masa kecilnya, banyak orang yang menganggapnya hanya sebelah mata, mereka selalu mencibir bahwa Earth tidak akan menjadi orang yang sukses di masa depannya, karena ia memiliki banyak kekurangan. Akan tetapi, cibiran tersebut tidak menghalangi kedua orangtua Earth untuk mendidik anaknya dalam takut akan Tuhan, serta melakukan apa yang benar menurut firman Tuhan.
.
.
. . . . Singkat cerita, Earth menyampaikan berita yang tak terduga kepada kedua orangtuanya. Ya, Earth mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya sebagai seorang calon psikolog di sebuah kota besar saat itu. Kedua orangtuanya merasa sangat bangga, mereka mengerti bahwa suatu saat Earth akan berguna tidak hanya bagi orang disekelilingnya, melainkan bagi dunia ini. Dua bulan berlalu, orangtua Earth mengantarkannya ke kota tersebut, untuk menitipkan Earth pada salah seorang sepupunya. Ini semua dilakukan karena jarak rumah dan tempat studi Earth sangat jauh, oleh karenanya Earth lebih memilih untuk tinggal bersama sepupunya di kota.
.
.
. . . . Hari demi hari berlalu, dengan keterbatasan yang dimiliki Earth tidak dapat menghalangi dirinya untuk menjadi seorang murid teladan. Ia bahkan memenangkan penghargaan sebagai seorang siswa berprestasi dengan kekhususan yang dimilikinya. Tak ayal, gelar sebagai seorang psikolog dapat ia raih hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja. Hingga kini, Earth menjadi salah seorang psikolog terkenal di kota tersebut. Banyak pasien yang datang untuk menemuinya, bukan hanya untuk mengobati psikologis mereka, melainkan ingin melihat bagaimana seorang psikolog buta mampu merasakan bahkan memberikan pengobatan bagi orang lain. Kepekaan hati seorang gadis desa ini akhirnya dapat mengubahkan kehidupan orang lain, bukan hanya melalui kata-katanya tetapi juga melalui bagaimana ia menerima orang lain dalam hidupnya serta membawa mereka kepada kebenaran firman Tuhan.
.
.
. .Mengasihi adalah menerima dan membawa damai sejahtera Allah . . .Melalui kisah Earth kita dapat belajar, bahwa kekurangan atau kelemahan fisik tidak akan pernah bisa menghalangi maksud dan tujuan Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan menciptakan setiap orang dengan tangan-Nya sendiri, dan bahkan sebelum kita ada dalam kandungan Ia telah mengenal kita (Yer. 1:5). Pengudusan dan pemilihan Tuhan bagi kita dilakukan bukan tanpa tujuan yang jelas, tetapi karena Tuhan memiliki rancangan damai sejahtera bagi kehidupan kita (Yer. 29:11). Damai sejahtera yang Tuhan berikan tidak sama dengan apa yang manusia pikirkan. Banyak orang berpikir bahwa damai sejahtera itu sama saja dengan kehidupan yang tanpa masalah. Namun, damai sejahtera yang Tuhan maksudkan adalah apapun kondisi dan situasi yang terjadi, kita (orang percaya) dapat senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan, serta membawa damai itu bagi diri sendiri dan orang lain, karena kita tahu Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. . .
. .Mengasihi adalah saling melengkapi dalam kebutuhan rohani . . .Kisah Earth juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sebuah perbuatan untuk menunjukkan kasih itu kepada orang lain. Mengasihi orang lain sama saja dengan mengasihi diri sendiri, itu artinya bahwa kita senantiasa memenuhi apa yang diri sendiri butuhkan, begitu pula dengan orang lain. Jika kita mengatakan kepada orang lain bahwa kita mengasihinya, tetapi kita tidak memenuhi bahkan menuntun orang lain kepada kebenaran, itu sama saja kita tidak mengasihi mereka. Mengapa? Karena pada dasarnya, kebutuhan semua orang di dunia ini bukan hanya secara fisik, tetapi secara rohani. Kehidupan rohani mereka butuhkan agar mereka dapat mengerti maksud dan tujuan mereka ada di dunia ini. Jika kebutuhan rohani itu tidak terpenuhi, maka mereka akan menjadi tersesat dan mengalami kematian kekal. Oleh sebab itu, kebutuhan rohani yang paling dasar ialah tentang pengenalan mereka akan Tuhan. Tugas kita sebagai orang percaya ialah mengenalkan mereka kepada sumber kehidupan itu, sehingga mereka dapat menyadari serta terpenuhi damai sejahtera di dalam hati mereka. Mengasihi berarti memenuhi. . .
– Tuhan Yesus Menyertai –
.
.
Notes :
“Life is not about growing older to be what you want, but life is about growing older to be what Jesus want me to be.”
Ditulis Oleh : Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin
.
.
Nats : Bilangan 23:19
.
.
.
.
. . . .Dalam kehidupan ini, pernahkan kita berpikir tentang makna dari kesetiaan? Pernahkan kita mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah kita adalah pribadi yang setia? Melalui pertanyaan tersebut, pasti akan sulit mendapatkan jawabannya. Karena, sesungguhnya Tuhanlah yang paling mengenal kita, bahkan Dia tau apakah kita setia atau tidak.
.
.
. . . . Kesetiaan merupakan sebuah kata yang sangat familiar dalam kehidupan manusia. Kata ini sering digunakan dalam sebuah hubungan – baik hubungan anggota keluarga, pasangan, pekerjaan, pertemanan, Tuhan dan umat-Nya, dan banyak lagi. Kesetiaan juga sering berdampingan dengan kejujuran dalam beberapa kasus kehidupan manusia. Karena, melalui kejujuran kita bisa menilai apakah orang atau kelompok tersebut setian atau tidak.
.
.
. . . . Adalah sepasang kekasih yang baru menjalani hubungan selama 3 bulan. Setiap orang yang bertemu dengan mereka, sering beranggapan bahwa mereka adalah pasangan ideal. Dan benar saja, selama menjalani hubungan tersebut mereka sangat jarang mengalami pertengkaran. Berbeda dengan pasangan kekasih yang lain, pasangan yang kedua sudah menjalin hubungan selama 2 bulan. Namun, semua orang juga bisa melihat bagaimana kehidupan pasangan ini selalu penuh dengan argumentasi dan pertengkaran. Hingga banyak yang beranggapan bahwa mereka tak akan bertahan lama.
.
.
. . . . Suatu ketika kedua pasangan kekasih ini menghadiri sebuah acara pernikahan. Acaranya terletak di sebuah gedung yang mewah, dengan berbagai kalangan tamu yang hadir. Mulai dari kalangan pejabat, hingga orang-orang terkenal lainnya. Kedua pasangan inipun nampak terpukau dengan keindahan yang ada. mereka mulai menikmati suasana acara serta bercengkrama dengan tamu-tamu yang hadir saat itu.
.
.
. . . . Tiba-tiba sang mempelai wanita, yang juga adalah teman dari kedua pasang kekasih ini meminta mereka untuk datang ke ruang ganti. Sesampainya di ruang ganti, sang mempelai wanita mengawali kisah pertemanan mereka. Mempelai wanita bercerita bagaimana dulu ia pernah melihat salah satu pria dari kedua pasangan ini sedang mencuri sebuah kalung dari toko perhiasan milik calon mempelai prianya. Mendengar hal tersebut, suasana dalam ruang ganti tersebut mulai mencekam. Wanita dari pasangan yang kedua mulai bertanya pada kekasihnya, apakah ia melakukan hal tersebut. Namun, pria itu menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa ia tidak pernah melakukannya, meskipun ia tahu wanita yang adalah kekasihnya ini sangat menginginkan kalung tersebut.
.
.
. . . . Berpindah pada pasangan yang pertama, wanita yang mempercayai bahwa kekasihnya tidak pernah melakukan hal tersebut pun mulai tersenyum sinis dan menganggap bahwa pria dalam pasangan yang kedua berbohong akan hal tersebut. Pertengkaran dan adu argumentasipun mulai terjadi, hal tersebut terjadi karena wanita pasangan pertama mengganggap remeh akan penghasilan pria pasangan kedua, dan akibat dari hal tersebutpun pria itu melakukan pencurian. Hingga pada akhirnya, mempelai wanita mulai berbicara kembali untuk memberikan jawaban tentang siapa sesungguh pencuri kalung itu. Mempelai wanita menyadari bahwa pria ini melakukan tindak pencurian karna dia tidak ingin pasangannya menjadi kecewa, sehingga mereka bertengkar dan akan merusak hubungan mereka. Namun, mencuri tetaplah mencuri dan itu adalah hal yang harus dipertanggungjawabkan, hingga akhirnya mempelai wanita mengunkap bahwa pelaku pencurian kalung tersebut ialah pria di pasangan yang pertama.
.
.
Kesetiaan tidak selalu berdampingan dengan kebahagiaan . . . . .Melalui kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa kesetiaan tidak selalu berdampingan dengan semua hal yang mendatangkan kebahagiaan. Kesetiaan juga bukan berarti bahwa kita dapat melakukan segala cara untuk menyenangkan pasangan, keluarga, ataupun teman kita. Melainkan, kesetiaan seharusnya mengutamakan kejujuran. Sama seperti kisah Bileam yang dituntut Barak untuk mengutuki bangsa Israel, tetapi Tuhan justru mengubahnya menjadi berkat. Kesetiaan manusia seringkali berbeda dengan kesetiaan Tuhan. Manusia sering berpikir bahwa selagi bisa memberikan kesenangan, maka itulah yang dinamakan kesetiaan. Manusia juga menganggap bahwa tidak adanya pertengkaran akan menjadi bukti tentang bagaimana kesetiaan itu. Karena, pada dasarnya kesetiaan manusia terkadang justru membawa penyesalan dan juga kebohongan. Berbeda dengan kesetiaan yang Tuhan maksudkan. . .
Kesetiaan Tuhan adalah penyertaan, teguran dan keadilan-Nya . . . . .Kesetiaan Tuhan dalam Alkitab di gambarkan melalui bagaimana penyertaan Tuhan, teguran Tuhan, keadilan Tuhan, serta sukacita yang Tuhan berikan. Teguran serta keadilan Tuhan dalam kehidupan kita bukan karena Tuhan membenci kita, melainkan Dia justru sangat mengasihi kita sebagai umat-Nya. Oleh karena, kesetiaan Tuhan tidak dapat diukur dari bagaimana Dia memberikan apa yang kita mau, ataupun apa yang membuat kita bahagia. Kesetiaan Tuhan tidak membawa penyesalan ataupun kebohongan. Tetapi, manusia sering memilih untuk menyesali akan hal itu. Melalui renungan kali ini, marilah kita sebagai orang percaya belajar untuk memahami akan kesetiaan Tuhan dalam hidup kita. Sehingga, ketika kita dapat memahami hal tersebut, kita tidak akan menjadi kecewa ataupun menyesal tentang setiap proses yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita. Karena, kesetiaan seorang manusia dapat diukur dari kesenangan yang ia terima. Akan tetapi, kesetiaan Tuhan terbukti melalui semua kesakitan yang telah diterima-Nya, bagi keselamatan kita. Tuhan Yesus Menyertai . .
. . . . .Pembenaran dan pengudusan adalah bagian yang didapatkan oleh orang-orang yang sudah diselamatkan. Dalam soteriologi kedua hal ini masuk dalam ordo salutis (urutan keselamatan). Namun kedua hal ini berbeda dalam pelaksanaannya namun tidak boleh dipisahkan.
.
.
PEMBENARAN
.
Definisi Pembenaran
.
. . . . . James Montgomery Boice dengan mengacu pada Marthin Luther, John Calvin, dan Thomas Watson dalam bukunya Foundations of the Christian Faith menyatakan bahwa pembenaran oleh iman adalah engsel dari keselamatan. Pembenaran begitu penting dalam keselamatan sehingga tanpa pembenaran tidak akan mungkin ada keselamatan.
.
. . . . . Membenarkan (justify) dalam Perjanjian Lama disebut dengan hitsdiq dan dalam Perjanjian Baru disebut dikaioō yang berarti menyatakan atau mendeklarasikan secara yudisial bahwa seseorang adalah sesuai dengan hukum. Istilah membenarkan (matsdiq) dalam Amsal 17:15 berarti menjadikan orang yang salah menjadi benar.
.
. . . . . Istilah hitsdiq ditujukan pada orang percaya yang berarti orang percaya dinyatakan benar. Sehingga istilah pembenaran yang ditujukan pada orang percaya berarti orang percaya secara hukum dinyatakan benar karena secara hakikat orang percaya adalah orang yang benar. Bukan membenarkan orang yang berdosa karena itu adalah kekejian dimata Tuhan (Ams. 17:15). Tetapi yang menjadi permasalahan adalah semua manusia termasuk orang percaya adalah orang berdosa (Roma 3:23) yang tidak mungkin dinyatakan benar.
.
. . . . . Dalam Roma 8:30, kata dibenarkan-Nya (edikaiōsen) berbentuk aorist Tense yang menunjukkan suatu tindakan yang dilakukan satu kali untuk selamanya. Dari sini dapat dikatakan bahwa pembenaran orang percaya dilakukan Allah hanya sekali dan itu berlaku untuk selamanya.
.
.
Asal Usul Pembenaran
.
. . . . . Konsep pembenaran berakar dalam Perjanjian Lama yakni pembenaran Abraham. Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kej. 15:6). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, rasul Pauluslah yang menjelaskan tentang konsep pembenaran secara lengkap.
.
.
Alasan Orang Percaya Membutuhkan Pembenaran
.
. . . . . Orang percaya membutuhkan pembenaran karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Anthony A. Hoekema dalam bukunya Saved by Grace menuliskan bahwa kehilangan kemuliaan Allah dapat berarti kekurangan di dalam memuliakan Allah dengan cara menjalankan kehendaknya secara tidak sempurna (Band. 1 Kor. 6:20; 10:31; Ef. 1:12; Fil. 1:11). Kebenaran bisa diperoleh melalui ketaatan pada hukum Taurat (Roma 10:5; 2:6-11). Tetapi kenyataannya tidak ada yang sanggup memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat (Roma 3:10-20). Alkitab mengajarkan bahwa kita harus sempurna (Matius 5:48; Matius 19:16-21). Karena itu Allah tidak mungkin membenarkan melalui iman jika tuntutan hukum taurat belum dipenuhi karena itu akan membatalkan firman Allah yang disampaikan pada Musa (Roma 10:5). Tetapi sebaliknya. Jika Kristus sudah memenuhi seluruh hukum Taurat tetapi keselamatan masih berdasarkan perbuatan baik, maka itu tidak adil dan tidak akan ada satu orang pun yang akan diselamatkan karena semua orang berbuat dosa.
.
. . . . . Karena itu, pembenaran bersifat imputasi. Imputasi berasal dari kata Yunani logizomai yang berarti memperhitungkan. Maka imputasi berarti mengakui suatu hal sebagai berlaku pada orang lain. Dalam Roma 5:19 dinyatakan bahwa oleh ketidaktaatan satu orang maka semua orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang maka semua orang menjadi orang benar. Dosa Adam diimputasikan (diperhitungkan) kepada kita, tetapi ketika kita percaya pada Kristus maka ketaatan Kristus yang sempurna terhadap hukum Taurat diimputasikan pada kita. Itu sebabnya Alkitab mengajarkan pembenaran harus terjadi melalui iman kepada Kristus bukan karena melakukan hukum Taurat (Roma 3:28; 5:1).
.
.
Dasar dari Pembenaran
.
. . . . . Dasar dari pembenaran adalah karya pendamaian Yesus Kristus. Dalam karya pendamaian ini, ada dua kata yang perlu diperhatikan yaitu kata “Penebusan” (Roma 3:24) yang berarti membeli kembali seorang budak dan memberikannya kemerdekaan melalui pembayaran sejumlah tebusan. Artinya sebagai orang percaya kita ditebus oleh Yesus dengan darahNya sehingga kita menjadi orang yang merdeka dan dibebaskan dari perbudakan dosa. Sedangkan kata kedua yang perlu untuk diperhatikan adalah kata “pendamaian” yang berarti bahwa pengorbanan Kristus disalib yang bersifat menggantikan, murka Allah terhadap dosa telah diredakan dan kesalahan kita telah dihapuskan. Dosa yang diampuni adalah seluruh dosa kita baik yang aktif maupun pasif, baik yang sudah kita lakukan, yang sedang kita lakukan maupun yang akan kita lakukan.
.
. . . . . Pembenaran memiliki dua sisi yaitu sisi posiif dan negatif. Sisi positif berarti pengadopsian kita sebagai anak-anak Allah sedangkan sisi negatifnya adalah pengampunan dosa kita. Selain itu pembenaran bersifat eskatologis yang berarti segala keputusan yang akan dijatuhkan pada kita pada hari penghakiman telah dinyatakan saat ini. Dosa kita tidak diperhitungkan Tuhan lagi saat penghakiman. Sehingga kita tidak perlu takut lagi saat menghadap takhta pengadilan Allah.
.
.
Bagaimana dengan Yakobus 2:17 yang menyatakan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan?
.
. . . . . Apakah Paulus bertentangan dengan Yakobus? Paulus menunjukkan pernyataan yang sama dalam Gal. 5:6 bahwa iman bekerja oleh kasih. Artinya iman ditunjukkan dengan perbuatan kasih. Maka jika demikian, maka konsep pembenaran yang dijelaskan rasul Paulus bahwa pembenaran hanya melalui iman tanpa perbuatan, pasti memiliki konteks yang berbeda. Jika kita memperhatikan surat Roma 1-2, rasul Paulus memulai suratnya dengan mengarahkan penerima suratnya pada pikiran bahwa semua orang berdosa dan dibawah penghukuman dosa dan tidak bisa diselamatkan melalui hukum Taurat karena tidak ada yang sempurna. Lalu Paulus menejelaskan bahwa pembenaran hanya diperoleh melaui iman kepada Kristus..
.
. . . . . Surat Yakobus memiliki konteks yang berbeda karena berbicara tentang kehidupan sehari-hari orang yang sudah percaya. Hal ini diperjelas dalam pembukaan surat Yakobus yang ditujukan pada 12 suku dalam perantauan (Yak. 1:1). Saya memberikan gambaran sedikit posisi iman yang menyelamatkan dan posisi iman yang disertai perbuatan. Jadi, iman yang dijelaskan rasul Paulus yang membuat kita dibenarkan adalah iman yang menyelamatkan. Sedangkan iman yang dijelaskan oleh Yakobus adalah posisi orang percaya yang sudah diselamatkan.
.
. . . . . Pembenaran berkaitan erat dengan pengudusan. Pembenaran adalah deklarasi oleh Tuhan bahwa kita adalah orang benar sedangkan pengudusan adalah sebuah proses menuju pada keserupaan dengan gambaran Anak Allah (Roma 8:29).
.
.
PENGUDUSAN
.
. . . . . Pengudusan berasal dari kata sanctify yang berarti menjadi kudus. Dalam perjanjian lama, kata ‘kudus’ berasal dari kata qādosh yang berarti memisahkan dari hal-hal lainnya atau bisa juga diartikan dengan menempatkan sesuatu atau seseorang dalam lingkungan atau kategori yang terpisah dari yang biasa atau duniawi. Dalam Perjanjian Lama yang lebih awal, kekudusan umat Allah sering diartikan secara seremonial selanjutnya dalam kitab Mazmur dan nabi, kekudusan umat diartikan secara etis. Artinya dalam Perjanjian Lama, kata qādosh memiliki arti bahwa umat Allah dipisahkan untuk melayani Allah dan menghindari segala sesuatu yang tidak berekenan pada Allah.
.
. . . . . Dalam Perjanjian Baru pengudusan disebut dengan hagios. Tidak jauh berbeda dengan Perjanjian Lama karena bersifat etis dan pelayanan. Karena itu, jika berbicara tentang pengudusan, bukan sekedar tidak berbuat jahat tetapi, secara rohani dipisahkan dari segala sesuatu yang berdosa dan dedikasikan sepenuhnya pada Allah.
.
.
Bagaimana cara kita dikuduskan?
.
Kesatuan dengan Kristus (Dalam kematian dan kebangkitanNya). Artinya mati terhadap dosa dan memiliki kehidupan yang baru. Roma 6:3-10. Kesatuan dengan Kristus berarti kita dikuduskan melalui pertumbuhan rohani secara terus menerus sehingga semakin penuh dan semakin kaya di dalam kesatuan dengan Kristus. Berdasarkan 1 Kor. 1:30, Yesus bukan sekedar penyebab kekudusan kita melainkan Dia adalah pengudusan kita. Artinya pengudusan yang kita alami adalah saat kita bersatu dengan Kristus. .
Dengan kebenaran. Alkitab adalah sumber kebenaran kita (2 Tim. 3:16-17). .
Dengan iman. Dengan iman kita akan terus berpegang kepada kesatuan kita dengan Kristus. Dengan iman juga kita menerima fakta bahwa di dalam Kristus, dosa tidak berkuasa lagi atas kita. Dengan iman kita berpegang pada kuasa Roh Kudus untuk memampukan kita untuk mengalahkan dosa dan hidup untuk Allah. Dengan iman kita bukan sekedar penerima tetapi kita memiliki kuasa untuk bertindak. Iman sejati sesuai dengan naturnya akan menghasilkan buah.
.
. . . . . Pengudusan merupakan karya yang penuh anugerah dari Roh Kudus, yang melibatkan tanggung jawab kita untuk berpartisipasi, yang dengannya Roh Kudus melepaskan kita dari pencemaran dosa, memperbarui keseluruhan natur kita menurut gambar Allah, dan memampukan kita untuk menjalankan kehidupan yang diperkenan Allah.
.
. . . . . Artinya sasaran dari pengudusan adalah serupa dengan gambaran AnakNya (Roma 8:29). Ada 3 hal yang perlu kita ketahui tentang pengudusan.
.
Pengudusan berkaitan erat dengan dengan pencemaran dosa. Pencemaran adalah kerusakan (Corruption) natur kita yang merupakan hasil dari dosa dan akan menghasilkan dosa yang lebih lanjut. Hal ini merupakan dampak dari dosa yang diperbuat Adam dan Hawa sehingga kita semua terlahir dengan natur dosa. Dan saat kita melakukan dosa, kita sedang menambah kerusakan kita. Maka di dalam pengudusan ini, pencemaran dosa berada dalam proses penghilangan (walaupun tidak terhapus semua sampai pada kehidupan akan datang). .
Pengudusan berarti pembaruan natur kita. Dalam hal ini yang dibaharui adalah arah hidup kita. Bukan substansi kita. Itu sebabnya kita Allah tidak memperlengkapi kita dengan kuasa yang secara total berubah dibandingkan sebelumnya melainkan memberikan kita kuasa untuk berpikir, berkehendak, dan mengasihi dengan cara yang memuliakan Allah. Dalam hal ini memikirkan perkara-perkara seperti yang Allah pikirkan dan melakukan sesuai dengan kehendakNya. .
Pengudusan juga berarti memampukan kita untuk hidup berkenan pada Allah. Memperlengkapi kita dengan perbuatan-perbuatan baik (Ef. 2:10).
.
. . . . . Pengudusan bersifat definitif dan progresif. Pengudusan yang bersifat definitif dinyatakan dalam 1 Kor. 1:2 dimana kata ‘pengudusan’ berbentuk perfect tense yang berarti tindakan yang telah selesai dilakukan tetapi dengan hasil yang berkelanjutan. Dalam Roma 6:2 menyatakan bahwa kita telah mati terhadap dosa. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pengudusan yang bersifat definitif berarti karya Roh yang dengannya Roh menyebabkan kita mati terhadap dosa, dibangkitkan bersama dengan Kristus dan dijadikan ciptaan yang baru.
.
. . . . . Pengudussan juga bersifat progresif. Hal ini dinyatakan oleh Alkitab bahwa kita masih memiliki dosa misalnya Roma 3:23. Bahkan Yakobus menyatakan bahwa kita semua bersalah dalam banyak hal (Yak. 3:2). Bahkan rasul Yohanes dengan jelas mengatakan bahwa jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1 Yoh.1:8).
.
. . . . . Selain penrnyataan bahwa kita masih memiliki dosa, alkitab juga mengajarkan bahwa kita harus mematikan perbuatan-perbuatan dosa. Roma 8:13 menyatakan bahwa kita harus mematikan [secara harafiah : terus menerus mematikan] perbuatan-perbuatan tubuh kita. Paulus juga menjelaskan dalam suratnya pada jemaat di Kolosea bahwa kita telah dibangkitkan bersama dengan Kristus artinya secara definitif dan tidak bisa dibatalkan telah memasuki kehidupan baru di dalam persekutuan dengan Kristus (Kol. 3:3). Tetapi di dalam ayat 5 kita tetap dianjurkan untuk mematikan semua perbuatan dosa. Artinya jemaat Kolosa sudah mati terhadap dosa (pengudusan definitif) tetapi tetap harus mematikan dosa selama kita hidup (pengudusan progresif).
.
. . . . . Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pengudusan yang bersifat progresif berarti karya Roh Kudus yang dengannya Roh secara terus menerus membaharui dan mentransformasikan kita ke dalam keserupaan dengan Kristus, memampukan kita untuk terus bertumbuh di dalam anugerah dan terus menyempurnakan kekudusan kita.
.
. . . . . Pengudusan merupakan 100% karya Allah dan juga 100% tanggung jawab kita sebagai orang percaya. Sehingga sasaran dari pengudusan dibagi menjadi dua yaitu sasaran dekat dan sasaran final. Sasaran final adalah untuk kemuliaan Allah dan sasaran dekat adalah untuk penyempurnaan umat. Apakah ini berarti umat akan sempurna?
.
.
Perfeksionisme
.
. . . . . John Wasley yang merupakan pendiri dari gereja Metodis adalah pengajar terkemuka dari “perfeksionisme”. Perfeksionisme mengajarkan bahwa kita akan mati secara total terhadap dosa dan mengalami pembaharuan secara menyeluruh di dalam gambar Allah. Perfeksionisme mengajarkan bahwa kita mampu untuk benar-benar sempurna di dunia ini. Tetapi Wesley membatasi kesempurnaan ini pada dosa yang disengaja. Artinya yang diketahui berdasarkan hukum Taurat bahwa itu adalah dosa dan dilanggar dengan sengaja, itu adalah dosa. Kita akan terbebas dari keinginan untuk membuat dosa yang kita ketahui bahwa itu adalah dosa. Dampak dari pemahaman ini adalah menganggap dosa yang tidak diketahui sebagai dosa bukanlah merupakan dosa. Artinya apabila ada yang kita ketahui sebagai dosa dan penganut perfeksionisme tidak mengetahui bahwa itu dosa, maka mereka akan berkata bahwa “itu adalah dosa bagi anda, tetapi tidak bagi saya”.
.
. . . . . Dalam hal ini kita tidak akan menjawab argumentasi meraka ayat per ayat. Kita hanya menunjukkan bahwa dalam Alkitab tidak pernah ada yang sempurna.
.
Semua manusia adalah orang berdosa (Roma 3:23). Bahkan rasul Yohanes menegaskan bahwa jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1 Yoh. 1:8). Bahkan dalam ayat 10, rasul Yohanes menegaskan bahwa jika kita berkata tidak berdosa, maka Allah adalah pendusta. .
Kita dianjurkan untuk mengakui dosa (1 Yohanes 1:9). Kata “mengakui” dalam ayat tersebut berasal dari kata homologōmen dalan bentuk present tense. Dalam bahasa Yunani, bentuk present tense menunjukkkan tindakan yang harus dilakukan secara terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus terus mengakui dosa kita sampai akhir karena kita adalah orang yang berdosa. .
Kita tetap berjuang antara natur lama dan baru kita. Alkitab mengajarkan bahwa kita telah mati terhadap dosa (Roma 6:2,11), tetapi masih harus terus mematikan perbuatan-perbuatan tubuh yang berdosa (8:13).
.
R. C. Sproul menunjukkan bahaya dalam paham perfeksionisme yaitu:
.
1. Ajaran ini menghilangkan tuntutan yang serius dari hukum Allah karena menganggap dosa yang tidak disengaja bukanlah dosa.
.
2. Ajaran ini terlalu meninggikan kebenaran seseorang di atas kerohanian seseorang.
.
.
KESIMPULAN DAN APLIKASI
.
. . . . . Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita sudah dibenarkan secara sempurna. Dosa kita sudah ditebus dan seluruh kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita. Dan ini menjadi jaminan kita saat kita mati, bahwa Allah melihat Kristus yang sempurna dalam ketaatannya di dalam diri kita. Hal ini menunjukan kepastian keselamatan kita dan kita pasti tidak binasa selama-lamanya.
.
. . . . . Pengudusan bersifat definitif dan progresif. Pengudusan definitif artinya kita sudah memiliki status sebagai orang kudus yang dikuduskan saat ini sampai selama-lamanya. Pengudusan Progresif artinya kita akan mengalami proses dan akan terus bertumbuh untuk menjadi serupa dengan gambar Kristus. Pengudusan progresif kita dapatkan dari penderitaan yang kita alami dan perbuatan kita yang sesuai dengan kehendak-Nya.
.
. . . . . Karena itu, kita sebagai orang percaya yang sudah dibenarkan agar tetap bersyukur dan bersukacita dalam pembenaran kita. Jangan takut dengan kehidupan kita, jangan takut jika kita mati hari ini ataupun besok. Karena kita sudah diselamatkan.
.
. . . . . Dan sebagai orang yang sudah dikuduskan dan akan terus mengalami pengudusan, mari kita untuk tetap setia dalam penderitaan kita baik dalam pelayanan juga karena status kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Kita dicaci maki dan dihina. Tetapi semua penderitaan yang kita alami untuk menguduskan dan memurnikan kita agar menjadi serupa dangan gambaran AnakNya. Maka jangan kecewa karena beratnya tekanan dalam pelayanan ataupun beratnya menjalani kehidupan sebagai orang yang percaya.
.
. . . . . Kita juga tetap setia dalam perbuatan kita yang sesuai dengan kehendak Tuhan, karena itu juga proses pengudusan kita. Tetaplah melayani, tetaplah berbuat benar dan setia sampai akhir. Ingat janji Tuhan bahwa dalam persekutuan dengan Dia, jerih payah kita tidak sia-sia (1 Kor. 15:58).