Categories
Uncategorized

HIDUP SESUAI DENGAN IDENTITAS

Ditulis Oleh: Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab  : Efesus 1:3-14

.

.

Dalam kasih Ia telah menentukan  kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan  kehendak-Nya (Efesus 1:5)

.

.

.

.

. . . . .Dalam KBBI kata “ Identitas” memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga identitas dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Identitas Adalah ciri atau keadaan khusus dari diri seseorang, Hal tersebut dapat dilihat oleh orang lain Dan Identitas itu yang membedakan seseorang dengan org lain. Melalui Identitaslah seseorang dapat dikenal, serta itu dapat mengitepertasikan seseorang.

.

.

. . . . . Sebagai orang Kristen Kita juga memiliki Identitas diri yaitu sebagai anak-anak Allah, orang-orang terpilih, Pengikut Kristus, Dan Identitas Kita sebagai orang percaya tersebut telah dimateraikan dengan Roh Kudus, ini berarti Identitas Kita sebagai anak-anak Allah, orang-orang yg terpilih, pengikut Kristus telah melekat dalam diri sebagai orang Kristen (Percaya Kepada Kristus).

.

.

. . . . . Namun permasalahannya adalah kadang kala orang percaya tidak hidup sesuai dengan Identitas tersebut, seringkali anak2 Tuhan tidak memiliki cara hidup layaknya sebagai anak-anak Tuhan Dalam Hal ini adalah beberapa point yang dapat Kita pelajari bagaimana Caranya Kita hidup sesuai dengan Identitas Kita yaitu (Kristen);

.

.

  1. Membiarkan Roh Kudus Membentuk Identitas kita sebagai orang Percaya.
    .
  2. Menyadari bahwa yang memilih Kita adalah Allah sendiri.
    .
  3. Melatih diri untuk terus hidup dalam kotidornya Tuhan.
    .
  4. Bertindak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

.

.

. . . . . Dengan point  tersebut orang Percaya yang memiliki Identitas sebagai Kristen akan mampu hidup sesuai dengan Identitas sehingga Kristen bukan hanya sebagai Identitas namun orang Kristen hidup sesuai dengan Identitas kekristenan. Orang lain tidak melihat secara langsung Kristus yang kita beritakan, tetapi kehidupan orang percaya akan mencerminkan siapa yang ia percaya. Sehingga melalui Identitas yang kita meliki dapat kita gunakan sebagai cara untuk menyaksikan Kristus kepada orang lain.

.

.

. . . . . Melalui kehidupan kita yang memiliki Identitas sebagai orang percaya orang lain dapat mengenal Krisus dan menjadi percaya.

.

.

IDENTITAS TIDAK MENJAMIN HIDUP ORANG KRISTEN, TETAPI ORANG KRISTEN MAMPU MENUNJUKAN CERMINAN KRISTUS MELALUI CARA HIDUP SESUAI DENGAN IDENTITAS KRISTEN.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

MERESPON PILIHAN ALLAH

Oleh : ADIMAN HULU

.

.

.

.

Bacaan : 1 Petrus 2:1-10

.

.

.

.

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (1 Petrus 2:9)

.

.

.

.

. . . . . Keinginan seorang yang bernama Nero Cladius Caesar Augustus Germanicus (kaisar kelima Romawi) untuk mendirikan sebuah kota Roma yang baru, memunculkan ide baginya untuk sengaja membakar kota Roma. Aksinya tersebut pun gagal, karena banyak masyarakat Roma percaya bahwa penyebab kebakaran tersebut disebabkan oleh kaisar Nero. Tetapi, dengan mengandalkan kekuasaannya, kaisar Nero menuduh orang-orang Kristen (agama minoritas saat itu) penyebab kebakaran tersebut. Tuduhan itu pun membuat orang-orang Kristen yang ada di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (lima provinsi di bawah pemerintahan Romawi), mengalami suatu periode penganiaayan yang dahsyat.

.

.

. . . . . Dalam suratnya, Rasul Petrus mencoba memperkuat dan mendorong iman orang-orang percaya yang ada di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (1 Petrus 1:1), dalam berbagai pencobaan, serta mempersiapkan dan mengajari mereka dalam menghadapi penganiayaan yang mereka hadapi.

.

.

. . . . . Hidup sebagai orang percaya, bukan berarti kita lepas dari yang namanya penganiayaan, penderitaan, pencobaan dan kesulitan. Masa sekarang juga, kita sering mengalami hal tersebut. Namun, apa yang kita lakukan ketika kita berada di fase tersebut? Apa yang Tuhan inginkan ketika kita berada di fase tersebut? Apakah kita sudah melakukan apa yang Tuhan inginkan jika kita berada di fase tersebut?

.

.

. . . . . Tuhan menginginkan setiap orang percaya untuk tetap teguh imannya. Sehingga, ketika mengalami penganiayaan, penderitaan, pencobaan dan kesulitan, mampu untuk menghadapinya di dalam iman kepada Kristus Yesus. Hidup sebagai orang percaya membuktikan kita adalah orang-orang pilihan Allah. Bukankah hal itu merupakan pilihan yang sangat berharga? Dimana yang dahulu bukan umat-Nya, sekarang telah menjadi umat-Nya. Dahulu tidak dikasihani, sekarang beroleh belas kasihan.

.

.

.

. . . . . Bagaimana cara kita merespon pilihan Allah tersebut dalam kehidupan kita sebagai orang percaya? Jawabannya dalam 1 Petrus 2:1-10.

.

.

  • Lahir Baru (Ayat 2)

.

. . . . . Artinya membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah (1 Petrus 2:1), dan hidup berdasarkan dengan apa yang Tuhan kehendaki di dalam firman-Nya.

.

.

  • Hidup Bersekutu Dengan Kristus (Ayat 4)

.

. . . . . Artinya, sebagai orang percaya harus memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan secara personal, baik itu melalui doa, pembacaan dan perenungan Firman Tuhan.

.

.

  • Menjadi Saksi Kristus (Ayat 5)

.

. . . . . Artinya kita harus siap memberi diri kita untuk menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Janganlah menjadi orang percaya yang egois, tetapi pergilah menjadi saksi Kristus bagi semua orang, untuk memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar.

.

.

“JANGAN SIA-SIAKAN PILIHAN ALLAH YANG MEMILIH KITA UNTUK MENJADI UMAT-NYA, TETAPI BUKTIKANLAH BAHWASANYA KITA PANTAS UNTUK DI PILIH”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

SEMUA ADALAH MILIK TUHAN

Penulis : Ev. Hakhositodo Waruwu, S.Th.

.

.

.

.

Nats firman Tuhan  : Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43).

.

.

.

.

. . . . .Apa  motivasi saudara/i jika memberikan persembahan kepada Tuhan, mungkin banyak diantara orang Kristen dari dulu dan tidak tertutup kemungkinan pada masa kini dalam hal memberi persembahan. Seringkali persembahan dilakukan dengan terpaksa karena sudah tradisi dan mungkin sungkan kalau tidak memberi persembahan pada setiap hari  minggu. Ada juga yang berpikir bahwa memberi persembahan itu seperti konsep tabur-tuai. Jika kita memberi persembahan maka Tuhan akan memberkati kita, Tuhan akan menghindarkan kita dari hal-hal yang buruk. Atau ada yang berpikir bahwa kalau kita memberikan persembahan Rp 100rb. Tuhan akan membalas Rp 1jt dan semakin besar kita berikan, maka semakin besar pula balasan dari Tuhan, itulah sebabnya orang Kristen salah persepsi dalam  hal memberikan persembahan.   

.

.

. . . . . Adalah motivasi  yang keliru  jika kita berpikir semacam itu dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan. Lalu bagaimana konsep persembahan Kristen yang sebenarnya sesuai dengan firman Tuhan yang kita baca pada  saat ini.

.

.

. . . . . Dalam konteks pembacaan kita pada saat ini adalah Ketika Tuhan Yesus mengamati persembahan orang kaya dan janda miskin, terhadap siapakah Tuhan Yesus memberi pujian. Terhadap persembahan orang kaya atau persembahan janda miskin,  tentu saja terhadap persembahan janda miskin dan kita setuju dalam hal itu. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah apa yang menyebabkan Tuhan Yesus lebih memuji persembahan janda miskin dari pada semua orang yang memberi persembahan pada saat itu? Pada umumnya, terhadap pertanyaan ini secara spontan biasanya kita menjawab”karena janda miskin tersebut memberi dengan tulus.” Kalau kita memperhatikan teks, benarkah janda miskin ini dipuji oleh Tuhan Yesus sendiri karena ia memberi dengan tulus. (Markus 12:43b) “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

.

.

.

. . . . . Ada 2 Point yang perlu kita belajar dari seorang janda miskin  dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan yaitu:

.

.

  1. Memiliki motivasi yang benar dalam memberi.

    Pada dasarnya, yang harus menjadi motivasi atau alasan utama memberi persembahan kepada. Tuhan adalah  karena kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik Allah (Mzm. 24:1 Mazmur Daud, Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya dunia serta yang diam di dalamnya).

  2. Memiliki kesadaran memberi karena semuanya adalah dari Dia

    Kesadaran bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia inilah yang membuat janda miskin dapat memberi persembahan dengan benar dan dipuji oleh Tuhan Yesus. Dari kisah persembahan janda miskin tersebut, kita dapat belajar dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan agar memiliki hati yang tulus dan motivasi yang benar di hadapan Tuhan.

.

.

. . . . . Jadi, janda miskin ini dengan berani memberikan seluruh nafkahnya kepada Tuhan karena didorong oleh motivasi yang benar kepada Tuhan di dalam hatinya yang terdalam. Namun kasih yang tulus adalah sebuah kata sifat yang sangat abstrak, tak terlihat dengan kasatmata dan tak dapat diukur. Oleh karena itu, Tuhan Yesus tidak membicarakan kasih yang tulus di hati   janda miskin itu, tetapi sebuah wujud nyata yang terpancar dari kasih yang tulus dengan mempersembahkan seluruh yang ada padanya. Kasih yang tulus tak kan pernah ada sampai terwujud dalam pengorbanan yang nyata. Dengan demikian kasih yang tulus tidak diukur semata-mata dari jumlah yang kita berikan, tetapi seberapa besar pengorbanan yang kita rasakan ketika memberi. Inilah yang dilakukan oleh janda miskin ini kasihnya yang tulus kepada Tuhan membuat ia memberi dengan pengorbanan yang luar biasa.

.

.

. . . . . Namun, kita tidak sekedar berkaca dari janda miskin ini dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan, janda miskin ini juga mengajari kita dan sekaligus memberi contoh kepada orang percaya pada masa kini dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan agar memiliki  motivasi yang benar sehingga persembahan yang kita persembahkan  di terima oleh Tuhan didalam kerajaan sorga.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Lainnya
Categories
Uncategorized

Kasih Yang Mengecewakan

Ditulis Oleh : Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.

.

.

.

Nats :  Yohanes 14:21

.

.

.

.

. . . . .Banyak hal yang terjadi di dalam dunia ini, sering membuat kita merasakan kebahagian dan kekecewaan. Maka ada pepatah yang mengatakan “Hidup ini jangan terlalu bahagia, karena nanti akan kecewa”. Namun, jika dilihat kembali dari sudut pandang duniawi, hal tersebut sering juga terjadi. Karena, kebahagiaan yang terlalu mendominasi akan membuat adanya iri hati, bahkan juga kekecewaan yang pihak yang lain.

.

.

. . . . . Dalam kisah kali ini, diangkat dari sebuah cerita pendek tentang kehidupan satu keluarga. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, anak pertama, kedua, dan ketiga. Orang-orang di sekeliling keluarga ini memberikan sebuah panggilan akrab yaitu “keluarga bahagia”, hal ini dikarenakan lingkungan tempat tinggal keluarga ini selalu melihat bagaimana keharmonisan yang terjadi di dalamnya. Ayah yang selalu bangun pagi hari, bekerja, sembari mengantar anak-anak pergi kesekolah, dan ibu yang juga bangun pagi hari untuk menyiapkan segala keperluan keluarga dan membersihkan halaman. Indahnya kebersamaan dan keharmonisan yang terjadi di dalam keluarga ini nyatanya juga dianggap negatif bagi sebagian pihak. Mereka melihat bahwa keharmonisan keluarga tidak akan selalu berjalan dalam keadaan yang lama, seaakan semuanya abadi. Hingga, terciptalah ide untuk mencari apa penyebab terjadinya keharmonisan dan kebahagiaan yang tidak ada habisnya ini.

.

.

. . . . . Singkat cerita, beberapa pihak yang merasa iri dengan kerharmonisan dan kebahagiaan keluarga ini akhirnya mendapatkan sebuah jawaban. Jawaban yang diceritakan kepada lingkungan sekitarnya adalah sebuah keterkejutan yang besar bagi semua orang. Rahasia terbesar keluarga harmonis inipun akhirnya terbongkar. Keluarga harmonis dan bahagia, kini tidak lagi menjadi baik di mata orang-orang sekitar. Penyebabnya, ayah yang bangun pagi hari dan berangkat kerja, adalah seorang ayah yang lebih mementingkan pekerjaan tanpa melihat kebutuhan akan kasih sayang dari keluarganya, sehingga ayah ini lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di pekerjaan. Sedangkan, kegiatan positif untuk mengantarkan anak-anak pergi sekolah hanyalah sebagai sebuah alasan untuk dapat melihat salah seorang guru di sekolah anak-anaknya, ya perselingkuhan. Di lain sisi, ibu yang terlihat rajin menyiapkan kebutuhan keluarga dan membersihkan halaman adalah sosok seorang ibu yang perfeksionis, ia akan marah kepada anggota keluarganya apabila melakukan pekerjaan rumah tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun, kemarahannya tidak ia tunjukkan dengan cara berteriak, atau bahkan memukul, melainkan ia akan memberikan obat penenang/obat tidur di dalam masakan yang ia siapkan untuk anggota keluarga. Pada akhirnya, keluarga yang berpredikat harmonis di awal akan berakhir dengan predikat tragis di akhir.

.

.

. . . . . Dari sini kita dapat belajar tentang apa itu kasih yang sesungguhnya. Dalam Yohanes 3:16, Allah sangat mengasihi seluruh dunia ini sehingga Ia tidak setengah-setengah memberikan atau menyatakan kasihnya bagi manusia. Allah yang adalah kasih menyatakan kasih-Nya dengan memberikan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa semua manusia. Bukan hanya sampai disitu saja, Ia juga menyatakan kasih-Nya melalui setiap hal yang Ia sampaikan, secara khusus perintah bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, yaitu menyampaikan Injil keselamatan bagi orang-orang yang belum percaya (Mat. 28:18-20). Namun, hal ini seringkali dianggap negatif bagi orang Kristen mayoritas.

.

.

. . . . . Banyak kalangan orang Kristen menganggap bahwa kasih kita kepada Allah dapat dinyatakan melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan baik kepada semua orang, sehingga sadar atau tidak kita seringkali mengabaikan perintah yang justru Tuhan ingin agar kita melakukannya. Pemberitaan Injil banyak dianggap hanya sebagai bagian dari kaum rohaniawan (Misionaris, Gembala, dan Pengerja Gereja) saja, sedangkan untuk umat Kristen yang bekerja diluar rohaniawan hanya perlu berperilaku baik di depan banyak orang. Di satu sisi hal itu bukan menjadi hal yang buruk, namun tidakkah kita melihat bahwa satu perintah utama yang Allah berikan dan pernyataan kasih yang kita ungkapkan kepada-Nya berjalan tidak beriringan. Dan bukankah hal itu menjadi kekecewaan besar bagi Allah?

.

.

. . . . . Kekecewaan terbesar kita adalah ketika orang lain tidak melakukan apa yang kita minta, sehebat dan sebaik apapun mereka mengerjakan hal lain, namun jika hal itu tidak sesuai dengan apa yang kita mau pasti akan kecewa. Demikian juga Allah, bukankah dengan mengabaikan perintah-Nya itu sama saja kita mengecewakan-Nya? Karena itu, marilah kita sebagai orang Percaya yang berkata bahwa “Aku Mengasihi Allah” bukan hanya mengucapkan hal itu, melainkan juga melakukan apa yang menjadi perintah-Nya, terlepas dari apapun profesi kita. Banyak orang yang masih hidup dalam kebutaan rohani dan kematian kekal, apabila kita sebagai orang percaya tidak menyampaikan Injil keselamatan kekal itu bagi mereka. Menyampaikan Injil bukan saja dari perbuatan, perlu adanya pernyataan atau penjelasan langsung tentang sebab dan akibat dari keselamatan kekal yang Allah berikan itu. Karena, kita tidak akan bisa mengasihi sesama manusia apabila kita tidak menyatakan kasih itu dan melakukan kehendak mereka, demikian juga kepada Allah.

.

.

. . . . . Hubungan yang intim dengan Allah merupakan tanda pernyataan kasih kita kepada-Nya, karena dari hal tersebut kita dapat mengerti akan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Akan tetapi, melakukan perintah-Nya adalah bukti dari kasih kita kepada-Nya. Jangan sampai kasih kita kepada-Nya menjadi kasih yang justru mengecewakan-Nya. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya ialah ketika kita melakukan kehendak dari Pribadi yang kita nyatakan sebagai Pribadi yang kita kasihi.’

.

.

“Love is about action, not just enough words”

.

Tuhan Yesus Menyertai

.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Lainnya
Categories
Uncategorized

Waktu Tuhan Adalah Waktu Yang Terbaik

Ditulis Oleh : Dellis Zai

.

.

Pembacaan Alkitab : Pengkhotbah 3:11.

.

.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

.

.

.

.

. . . . .Pernahkah kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan? Apa yang kita pikirkan saat meminta sesuatu kepada Tuhan? Hampir semua kita mengharapkan Tuhan menjawab doa sesuai keinginan kita. Contoh doa kita adalah, “Tuhan, aku mohon sembuhkan aku dari penyakit ini.” Dengan doa tersebut kita berharap Tuhan memulihkan tubuh kita dengan cepat dan dengan cara yang spektakuler. Namun, ketika jawaban doa yang kita terima harus dilakukan dengan pengobatan atau operasi, apa yang terjadi? Kekecewaan!

.

.

. . . . . Naaman, saat datang pada Elisa, bukan hanya datang dengan sebuah permohonan tetapi juga dengan membawa metode tertentu sebagai jawaban atas permohonannya tersebut. Metodenya adalah bahwa Elisa akan mendoakannya atau menyentuh bagian tubuhnya yang sakit, lalu ia mengalami kesembuhan. Namun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia justru disuruh pergi mencelupkan diri sebanyak 7 kali di sungai Yordan. Jawaban Elisa yang di luar dugaan membuatnya kecewa sehingga ia ingin pulang.

.

.

. . . . . Reaksi seperti Naaman ini juga seringkali kita lakukan, ketika kita meminta sesuatu kepada Tuhan tetapi kita juga sudah menyiapkan sebuah standar jawaban yang nantinya Tuhan diharapkan menjawabnya sesuai dengan standar itu. Ingatlah, permohonan kita bukan pernyataa dengan jawaban pilihan anda. Jika jawabannya tidak sesuai dengan pilihan yang kita maksudkan, maka akan disalahkan. Salah satu syarat saat kita berdoa kepada Tuhan adalah harus berserah kepada-Nya dan membiarkan-Nya menjawab sesuai dengan cara-Nya, bukan cara kita.

.

.

. . . . . Ingatlah, kitalah yang memohon dan Tuhan berhak menjawab sesuai cara-Nya. Tuhan mengetahui apa yang kita butuhkan dan inginkan, tetapi Ia adalah Tuhan yang akan menjawab doa dengan bijaksana. Oleh karena itu, terimalah setiap jawaban Tuhan dengan sukacita dan belajar menyerahkan pada kehendak Tuhan saat meminta sesuatu kepada-Nya. Dengan begitu kita dapat melihat rencana dan perbuatan-Nya yang luar biasa di dalam hidup kita. Ia adalah Tuhan yang menjawab doa kita dengan bijaksana dan apa yang benar menurut-Nya, karena Dia adalah Tuhan yang mengetahui segala-Nya, termasuk apa yang terbaik bagi kita.

.

.

Kesimpulan

Jangan lah pernah bersungut-sungut untuk meminta segala sesuatu kepapa Tuhan, tetapi bersabarlah untuk menantikan apa yang kamu minta kepada-Nya. Karena, Tuhan sudah menyediakan yang terbaik kepada orang yang percaya.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Lainnya
Categories
Uncategorized

MENJADI SAHABAT ALLAH

Ditulis Oleh : ADIMAN HULU

.

.

.

.

Bacaan : Yohanes 15:9-17

.

.

.

.

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” Yohanes 15:14

.

.

.

.

.

.

Fakta menarik dan yang perlu kita syukuri sebagai orang percaya adalah kesaksian Alkitab yang dimana Allah tidak hanya menginginkan manusia untuk menyembah kepada Dia. Selain daripada menginginkan supaya manusia menyembah kepada-Nya (Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku; Keluaran 20:3), Allah juga menginginkan manusia untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya, (Ayat nats).

.

.

Kata sahabat bukanlah kata yang asing lagi untuk kita dengar, bahkan kata sahabat seringkali sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Menurut KBBI, kata sahabat berarti kawan atau teman. Dalam bahasa Yunani, kata sahabat ialah φίλοι (Philoi) yang artinya “berhubungan”. Berhubungan dengan memperlakukan seseorang sebagai salah satu dari orang-orangnya sendiri. Artinya apa? Allah menginginkan kita sebagai orang percaya, untuk menjadi sahabatnya yang memiliki hubungan yang erat kepada-Nya, dimana kita diperlakukan secara special dibanding dengan orang-orang yang belum percaya kepada-Nya.

.

.

Lalu, bagaimana kita bisa menjadi sahabat-sahabat-Nya Allah? Untuk menjadi sahabat Allah, kita harus menerapkan 3 hal berikut di dalam hidup kita, yakni:

.

.

.

.

  • Hidup Dalam Kasih (Yoh 15:12)

.

Sebagai orang percaya, tentunya kita harus bisa meneladani sikap Kristus dalam kehidupan kita. Allah lebih dulu menunjukkan kasih-Nya kepada kita (Yoh 3:16), maka kita juga harus menunjukkan kasih tersebut dalam kehidupan kita, yaitu dengan mengasihi sesama kita manusia (Yoh 15:12). Bukti kita mengasihi Allah terlihat ketika kita mampu mengasihi sesama kita manusia, (Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya; 1 Yoh 4:20).

.

.

  • Melakukan Perintah Tuhan (Yoh 15:14)

.

Untuk menjadi sahabat Allah, kita harus bisa melakukan segala perintah Tuhan dalam hidup kita. Perintah-perintah Tuhan sangat jelas tertulis dalam Alkitab yang kita yakini adalah Firman Allah. Contohnya berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, memuji dan melayani Tuhan. Orang percaya hendaklah menjadi teladan dalam hal ini.

.

.

  • Menghasilkan Buah (Yoh 15:16)

.

Menghasilkan buah adalah tugas dan tanggung jawab sebagai seorang yang sudah percaya dalam Kristus, seperti amanat agung Tuhan Yesus (Matius 28:19-20). Tuhan tidak hanya menuntut kita untuk percaya, untuk hidup dalam kasih dan untuk melakukan segala perintah-Nya. Tetapi, untuk menjadi sahabat Allah, kita juga dituntut untuk memberitakan Injil dan mewartakan Kristus kepada banyak orang, agar nama Tuhan senantiasa dipermuliakan.

.

.

.

.

“DENGAN HIDUP DALAM KASIH DAN MELAKUKAN SEGALA PERINTAH TUHAN DALAM HIDUP KITA, SERTA MENGHASILKAN BUAH YANG SESUAI DENGAN PERTOBATAN, MAKA KITA DISEBUT SEBAGAI SAHABAT ALLAH”

.

.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Siapakah Aku Di Antara Bintang-Bintang?

Ditulis oleh     : Ria Marissabell

.

.

Bacaan             : Mazmur 8:1-10

.

.

“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” – Mazmur 8:4-5 (TB)

.

.

.

.

. . . . . Memandang langit di tengah malam mungkin merupakan kegemaran untuk beberapa orang. Sayangnya, langit Ibu Kota tidak dapat diharapkan untuk menjadi panggung pertunjukkan gemerlap bintang di gelap malam. Jika kita menepi sebentar ke tempat yang jauh dari polusi dan asap kendaraan, mungkin dapat terlihat dengan jelas hamparan bintang di langit malam. Sampai hari ini, diperkirakan ada 200 miliar galaksi di alam semesta, dan setiap galaksi terdiri atas miliaran bintang. Matahari, pusat tata surya kita, adalah salah satu dari miliaran bintang yang ada di galaksi Milky Way. Terlalu banyak, bahkan lebih dari perkiraan manusia, jumlah bintang yang ada di langit. Dan semua ini menunjukkan betapa megahnya alam semesta yang luasnya tidak mungkin dapat diperkirakan manusia, dan betapa besar dan mulianya Sang Pencipta.

.

.

. . . . . Dalam puisi Daud ini, ia menyaksikan keagungan Tuhan yang tercermin dalam megahnya karya ciptaan-Nya. Di ayat 5 ia mengatakan “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga engkau mengindahkannya?” Dalam Mazmur pasal 8 ini, Daud menggambarkan betapa kecilnya manusia diantara ciptaan lain di alam semesta (ay. 4-5), dan betapa mulianya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, serta diberi-Nya kuasa atas segala ciptaan lain yang ada di bumi (ay. 6-7). Disini kita diajak Daud untuk merenungkan siapa kita dibandingkan indahnya bintang-bintang di langit? Seberapa besar kita dibandingkan megahnya alam semesta? Sampai-sampai Allah memperhatikan, memperdulikan, dan memelihara kehidupan manusia, bahkan pribadi lepas pribadi?

.

.

. . . . . Ada hal-hal menarik tentang manusia yang dapat kita pelajari dari Mazmur Daud ini. Pertama, betapa mulianya manusia diciptakan Tuhan. Ia tidak menciptakan gambar dan rupa-Nya dari salah satu bintang di langit, tetapi dari debu tanah. Dari debu tanah diciptakan-Nya manusia. Debu tanah yang tidak ada bandingannya dengan hamparan bintang di langit, dijadikan-Nya berarti. Bahkan Allah menjadikan manusia rekan sekerja Allah, untuk berkuasa atas segala ciptaan di bumi. Mazmur pasal 8 yang diberi judul “manusia hina sebagai mahkluk mulia” ini mengajak kita menyadari betapa berharganya manusia di mata Tuhan, dan betapa mulianya kita dijadikan-Nya. Sehingga kita kembali harus memaknai nilai hidup kita dari sudut pandang Sang Pencipta. Berharga dan mulia.

.

.

. . . . . Kedua, Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan. Eksistensi manusia di bumi bukanlah hanya untuk mengisi kekosongan bumi. Salah satu alasan manusia mulia dan istimewa adalah Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan khusus. Setiap orang diberi-Nya tujuan berbeda-beda sesuai dengan rencana-Nya bagi kehidupan orang tersebut di bumi. Dan, sama seperti megahnya langit yang mencerminkan keagungan Sang Pencipta, kehidupan manusia juga harus mencerminkan kemuliaan Allah Yang Mulia. Orang lain mungkin boleh berkomentar apapun tentang kehidupan kita, tetapi tidak satu pun dari komentar tersebut mampu mengubah tujuan hidup yang telah ditetapkan Tuhan dalam hidup setiap kita. Singkatnya, Tuhan lah yang memiliki rencana, itu sebabnya hidup kita punya tujuan.

.

.

. . . . . Betapa indahnya menyadari betapa berharga dan mulianya manusia diciptakan Tuhan. Kesadaran ini harusnya juga menjadi pengingat untuk kita memaknai kehidupan kita. Bahwa hari-hari dalam kehidupan kita merupakan anugerah yang sangat berarti, yang seharusnya tidak kita jalani dengan semena-mena. Sebab kehidupan kita di bumi adalah perjalanan kita mencapai tujuan yang telah tetapkan Allah kepada setiap pribadi. Dan kesadaran ini juga seharusnya membangkitkan kembali pengharapan kita untuk menjalani hidup, sebab Allah Sang Pencipta alam semesta yang megah selalu mengingat, mempedulikan, dan memelihara kehidupan manusia yang kecil. Kesimpulannya, jika kita melihat nilai hidup kita dari perspektif Allah, maka cara kita memaknai hidup pun akan berubah. Tuhan Yesus memberkati!

.

.

 “How rare and beautiful it is to even exist”

.

.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Lainnya
Categories
Uncategorized

MENGENAL TAPI TAK MEMAHAMI

Ditulis Oleh : Gabriell Koetin

.

.

.

.

Nats : Yohanes 17:3

.

.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

.

.

.

.

.

.

.

.

. . . . . Semua berawal dari sebuah peribahasa yang berkata ‘Tak kenal maka tak sayang’. Peribahasa ini tampaknya cocok dengan sebuah kisah unik tentang seorang pemuda dan pemudi. Kisah ini berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, di sebuah toko barang-barang bekas. Seorang pemuda melihat seorang pemudi yang sedang sibuk memilih barang-barang bekas. Kecantikan paras dari pemudi ini membuat pemuda tersebut merasakan ketertarikan pada pandangan yang pertama. Tanpa berpikir panjang, pemuda tersebut kemudian mendekati pemudi dan mencoba untuk menyapanya. Sapaan itu hanya dibalas dengan anggukan kecil serta senyuman singkat. Melihat reaksi tersebut, si pemuda begitu senang hingga menganggap bahwa ini adalah hal yang baik untuk mulai lebih dekat lagi dengan pemudi tersebut.

.

.

. . . Hari demi haripun si pemuda mulai rutin datang ke toko barang-barang bekas tersebut. Bagaikan waktu menuai, pemuda tersebut dapat melihat si pemudi setiap harinya di toko itu. Akan tetapi, si pemuda tersebut tidak pernah mencoba untuk menanyakan nama ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan si pemudi. Ia hanya memperhatikan si pemudi dari jarak jauh, dan sesekali mencoba menolong pemudi untuk memilihkan barang-barang bekas yang sekiranya diperlukan. Hingga, suatu ketika pemuda tersebut datang ke toko barang bekas itu dengan membawa sebuah hadiah. Sesampainya di depan pintu, pemuda ini melihat bahwa si pemudi tidak ada di toko tersebut. Pemuda yang merasa kecewa, mencoba bertanya pada pemilik toko tentang keberadaan si pemudi.

.

.

. . . Pemilik toko hanya terdiam sesaat, dan kemudian menjawab bahwa pemudi tersebut tidak akan pernah datang lagi. Hal ini dikarenakan pemudi tersebut telah pindah ke daerah lain, selama ini si pemudi datang bukan untuk membeli barang-barang bekas yang ada di toko tersebut. Melainkan, pemudi tersebut justru menjual barang-barang bekas yang ia miliki. Karena ia akan kesulitan untuk membawa semua barangnya. Kekecewaan serta penyesalan dari pemuda tersebut semakin menjadi. Ia menyesali akan kelalaiannya untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada si pemudi tersebut.

.

.

. . . Memahami seseorang bukanlah hal yang mudah. Memahami juga bukan sekedar kejadian yang terjadi sekali seumur hidup kita. Sama halnya dengan pengenalan kita akan Tuhan. Tuhan memang telah mengenal kita bahkan sebelum Ia membentuk kita dalam kandungan, Ia juga yang telah menguduskan dan menetapkan kita sebagai anak-Nya (Yer.1:5). Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti bahwa kita juga telah mengenal-Nya. Karena, pengenalan kita akan Tuhan tidak sama seperti pengenalan Tuhan akan kita.

.

.

. . . Ketika seorang percaya mengungkapkan iman dan penerimaan-Nya akan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupannya, hal ini berarti bahwa kita mengundang Tuhan Yesus untuk masuk dan hadir dalam kehidupan kita. Namun, pengakuan iman kita tidak dapat berarti bahwa kita telah mengenal Dia dan memahami setiap rancangan-Nya. Karena, pengenalan kita akan Tuhan hanya sebatas tentang karya keselamatan yang dilakukan-Nya di dalam kehidupan kita, sehingga kita mendapatkan kehidupan kekal itu.

.

.

. . . Hal yang paling menarik dari kisah pemudi tersebut ialah tentang bagaimana komunikasi itu sangat penting untuk membangun hubungan yang intim bahkan memahami satu dengan yang lain. Komunikasi merupakan salah satu media yang paling mudah dilakukan antara kedua belah pihak. Oleh sebab itu, mengenal seseorang sama seperti kita mencoba mengenal diri sendiri. Demikian juga dengan Tuhan Yesus, kita tidak dapat memahami rencana-Nya apabila kita tidak membangun komunikasi secara berkelanjutan dengan-Nya.

.

.

. . . Kehidupan yang kekal memang telah kita dapatkan setelah kita memgakui bahwa kita percaya kepada-Nya. Namun, untuk dapat memahami makna dari kehidupan kekal yang telah diberikan, serta menerapkannya dalam setiap lagkah kehidupan kita diperlukan yang namanya proses pertumbuhan rohani secara berkala. Melalui ayat ini, kita dapat belajar tentang bagaimana cara membangun hubungan dan pengenalan yang tepat akan Dia.

.

.

. . . Mengenal Allah dalam Yesus Kristus adalah mengenal kehidupan kekal. Mengenal disini berarti bahwa kita tau dan percaya tentang karya keselamatan yang dilakukan Allah melaluui Tuhan Yesus Kristus. Dan kelanjutan dari karya itu ialah dimana hubungan kita dengan Allah kembali dipulihkan, ini berarti bahwa komunikasi kita dapat berjalan lancar dan kita mampu selalu bertanya tentang apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Sehingga kehidupan kita tidak lagi menjadi kehidupan yang biasa saja dan tanpa arah tujuan, melainkan kehidupan yang memberikan teladan kebenaran bagi semua orang.

.

.

. . . Tuhan Yesus mengasihi kita karena Dia mengenal dan memahami kita. Inilah saat kita sebagai orang percaya juga mengasihi Dia, mengenal Dia, dan memahami Dia. Tuhan Yesus Memberkati.

.

.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Bagikan
Categories
Uncategorized

MEMBERKATI ORANG YANG MEMBENCIMU

Ditulis Oleh : Ev. Almerof Pemburu, S.Th. 

.

.

Pembacaan Firman Tuhan : Kisah para rasul 9:10-18

.

.

.

.

. . . . Pernahkah kita bertanya apa tujuan Tuhan untuk memberkati kita? Kita percaya kita diberkati supaya kita bisa memberkati yang lain. Ini bukan soal apa yang ada padamu, tetapi apa yang kamu lakukan dengan apa yang ada padamu. Berkat yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memberkati orang lain. Keinginan untuk diberkati adalah hal yang wajar. Tetapi keinginan memberkati orang lain, itulah hal yang luar biasa.

.

.

. . . Ada dua jenis memberkati yang sering dilakukan oleh banyak orang. Pertama, memberkati secara materi (memberikan barang). Kedua, memberkati secara lisan (kata-kata atau doa). Pada dasarnya kedua hal ini sangat mudah untuk dilakukan kepada orang-orang yang baik dengan kita, namun bagaimana jika dengan orang yang membenci kita? Atau dengan orang yang jahat kepada kita? Atau dengan orang yang selalu membuat kita kesal dan marah? Apakah kita masih mampu untuk memberkati mereka secara materi maupun lisan?

.

.

. . . Saulus adalah seorang Farisi yang sangat tidak menyukai orang-orang yang mengikuti Kristus dan ajaran-Nya, hingga Saulus tidak segan-segan untuk menganiaya mereka yang mengikuti Kristus dan ajaran-Nya. Stefanus adalah salah satu korban dari kekejaman Saulus, bahkan setelah Stefanus mati sebagai martir pertama, Saulus masih belum puas dan meminta surat kepada Imam kepala untuk mencari dan menganiaya orang-orang yang mengikuti Kristus dan ajaran-Nya (ayat 1,2).

.

.

. . . Dalam perjalananya, Tuhan Yesus menyatakan diri kepada Saulus dan membuatnya buta sebagai peringatan bahwa Tuhan tidak ingin Saulus menjadi penganiaya pengikutnya, dan Tuhan ingin menjadikan Saulus menjadi alatnya. Untuk itu Tuhan Yesus mengutus Ananias agar menumpangkan tangan diatas kepala Saulus untuk memberkati dan menyembuhkan matanya (ayat 10,11). Ketika Ananias mendapatkan mandat itu dari Tuhan Yesus, dia tidak lah langsung berkata “iya”, melainkan menyampaikan setiap kesalahan dari Saulus (ayat 13,14). Jika kita berada diposisi Ananias, “mungkin” kita akan melakukan hal yang sama, tetapi ingatlah bahwa bukan tanpa alasan Tuhan meminta Ananias yang memberkati Saulus.

.

.

. . . Dalam pembacaan Alkitab kali ini kita dapat melihat kenapa Ananias tetap mau berangkat dan memberkati Saulus, Ananias adalah seorang murid dan dia sadar akan statusnya (ayat 10). Selain dari dia seorang murid, Ananias juga mendapat perintah langsung dari Tuhan (ayat 15) dan Ananias adalah orang yang taat (ayat 17). Sekalipun Saulus adalah orang yang kejam terhadap pengikut Kristus dan ajarannya, dan Ananias juga adalah target dari kekejaman Saulus, tetapi Ananias tetap memanggilnya dengan kata “saudaraku”.

.

.

. . . Tidak mudah untuk menghampiri dan memberkati orang yang tidak suka dan membenci kita, Ananias pun merasakan hal itu. Tetapi perintah Mutlak dari Tuhan juga tidak bisa dihindari. Hal ini juga berlaku untuk kita sebagai anak-anak Allah, memberkati orang yang membenci kita adalah sebuah keharusan bagi orang percaya.

.

.

“Jika kita membalas kejahatan seseorang dengan kejahatan, kita tidak ada bedanya dengan orang itu”

Ev. Almerof Pemburu, S.Th.

. . .

. . .

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

SEBAB, KASIH SETIAMU LEBIH DARI PADA HIDUP

.

.

Ditulis Oleh : Pdt. Joni, S.Th.

.

.

Pembacaan Firman Tuhan : Mazmur 63:1-12

.

.

.

.

.

.

. . . .Shalom, shalom saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Bersyukurlah atas segala pemeliharaan Tuhan Dalam hidup kita hingga saat ini, dalam situasi dan kondisi saat ini Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sedikitpun. Kiranya hal ini tidak mengurangi kerinduan kita akan persekutuan dengan Allah ditengah-tengah keluarga kita masing-masih. Kebenaran firman Tuhan saat ini yaitu terambil dari mazmur 63:1-12. Adapun tema yang akan kita renungkan bersama saat ini ialah “Sebab, kasih setiaMu lebih dari pada hidup.”

.

.

. . . . Setelah kita membaca firman Tuhan ini, kita dapat melihat situasi dan kondisi yang dialami oleh Pemazmur ketika ia menuliskan mazmur ini. Pemazmur yaitu Daud dikala itu sedang berada ditengah-tengah Padang gurun Yehuda, ia sedang hidup dalam pelarian menghindari pengejaran raja Saul yang berusaha untuk membunuhnya. Keadaan ini menimbulkan ketakutan, ancaman, kekuatiran, dan bahaya bagi tubuh jiwa dan perasaan Daud. Kondisi ini juga membuat Daud tertekan dan terjebak ditengah-tengah Padang gurun, dimana disana tidak ada kehidupan, yakni tempat yang panas terik, gersang dan tandus tiada berair.

.

.

. . . . Tempat itu jauh dan terpisah dari tempat Kudus Allah, jauh dari tabernakel dimana biasanya Daud dapat menikmati hadirat Tuhan, tempat Kudus yang biasanya Daud dapat melihat kekuatan Allah. Tentulah kenyataan ini sangat membuat Daud tertekan, namun ia dapat mengatakan “Sebab, kasih setiaMu lebih dari pada hidup.” (ay.4)

.

.

. . . . Ada tiga hal yang mau kita pelajari dari tema ini yaitu bagaimana Daud dapat merasakan bahwa kasih setia Tuhan lebih dari pada hidup:

.

.

Ay. 2-3.

.

. . . . 1. Memiliki kerinduan yang mendalam akan persekutuan dengan Allah.

.

. . . . Dimulai dengan pernyataan iman Daud, ia mengatakan “Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau…” Hal ini menunjukkan betapa pernyataan iman Daud, bagaimana ia sangat merindukan Allah dalam hidupnya. Kerinduan yang mendalam itu dijelaskan lagi dengan frase “jiwaku haus kepadaMu, tubuhku Rindu kepadaMu, bagaikan tanah yang kering tandus tiada berair”. Sekalipun Daud jauh dari tabernakel (tempat dimana orang Israel datang kepada Tuhan) namun hal itu tidak membuat dia lemah semangat untuk terus merindukan Tuhan. Merindukan persekutuan dengan Allah, merindukan hubungan yang erat dengan Tuhan. Adakah kita juga sama seperti Daud yang selalu merindukan hubungan dan persekutuan yang erat dengan Tuhan? Dengan selalu berupaya mencari Tuhan, dalam kerinduan yang amat sangat mendalam?

.

.

Ay. 4-6

.

. . . . 2. Kontradiksi antara sifat manusia dengan sifat Allah.

.

. . . . Daud pernah merasakan bagaimana kasih dan setia Tuhan dalam hidupnya. Ia dapat merasakan penyertaan Tuhan yang luar biasa baginya. Namun dalam kondisi ini, ia harus hidup dalam pelarian karena sifat jahat manusia, yaitu raja Saul dan Absalom yang berusaha untuk membunuhnya. Daud melihat perbedaan yang sangat kontradiksi, bagaimana sifat Allah yang penuh kasih dan setia dengan sifat raja Saul dan Absalom terhadap dirinya.

.

.

. . . . Daud memuji akan kasih dan setia Allah yang ia rasakan dalam hidupnya, ia bersyukur, dan memuliakan Allah dengan harapan dan tekad seumur hidup, dan itu terbukti hingga akhir hidupnya. Dalam kondisi itu ia tidak menyalahkan Tuhan, malah ia memuliakan Tuhan. Dalam kesendiriannya Daud ingin melihat kekuatan Allah, ia ingin memandang Allah dan memegahkannya. Kenyataan ini ingin membuktikan bahwa betapa pentingnya kita mengalami kasih dan setia Tuhan dalam hidup kita. Mengalami hadirat Tuhan, mengalami kuasa Tuhan, mengalami penyertaan Tuhan. Ingatlah bahwa semua ini hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Maukah kita sama seperti Daud,? Mengalami akan kasih dan setia Tuhan sehingga kita selalu hidup untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

.

.

Ay. 7-9

.

. . . . 3. Mengalami atau mengingat perbuatan Tuhan.

.

. . . . Dalam situasi dan kondisi hidup yang Daud alami, ia ingin mengajarkan kita agar kita mengingat segala perbuatan Tuhan, ia mengajarkan kita agar kita mengingat pertolongan Tuhan, sehingga hal itu membuat ia mengesampingkan persoalannya, tapi ia mau memandang kepada Allah, dan melekat kepadaNya. Layaknya ranting pokok anggur yang tidak dapat berbuah kalau ranting itu tidak melekat pada pokok anggur.

.

.

. . . . Adakah kita juga sama seperti Daud yang selalu ingat dan merasakan  akan perbuatan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita? Maukah kita melekat kepada Tuhan dalam kerinduan penuh dan mendalam akan persekutuan dengan Tuhan?

.

.

. . . . Biarlah melalui ketiga hal ini, kita dapat merasakan dan mengingat akan segala perbuatan kasih dan setia Tuhan dalam hidup kita. Sehingga pertolongan Tuhan, penyertaan Tuhan, membuat kita semakin rindu dan melekat kepada Tuhan.

.

.

. . . . Karena itu, marilah kita membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Dengan penuh kerinduan yang mendalam, kita mencari Tuhan, memuji Tuhan, dan mengingat perbuatan Tuhan sehingga mata kita, hati kita, jiwa kita, tubuh kita, iman kita, pikiran kita, dan perasaan kita, serta perbuatan kita hanya tertuju kepada Tuhan untuk memuliakan nama Tuhan.

.

.

. . . . Sebagai penutup, ada tiga karakteristik orang dalam hubungan dengan Tuhan:

.

. . . . 1. Ada orang yang selalu rindu akan persekutuan dengan Tuhan saat mengalami tekanan atau persoalan hidup, namun saat sukses, dan hidup nyaman, ia mulai melupakan Tuhan.

.

. . . . 2. Ada orang yang selalu rindu akan persekutuan dengan Tuhan saat mengalami kesuksesan, dan kesenangan, namun saat susah ia melupakan Tuhan, menyalahkan Tuhan, bahkan berpaling dari imannya.

.

. . . . 3. Ada orang yang selalu rindu dan senang akan persekutuan dengan Tuhan dalam susah maupun senang. Hal itu dilakukan bukan karena keperluan, atau bukan karena kebutuhan, melainkan karena sudah menjadi gaya hidupnya secara pribadi.

.

.

Dari ketiga hal ini, mana yang harus kita lakukan?

.

.

. . . . Kiranya kebenaran firman Tuhan hari ini menjadi kekuatan bagi kita dalam menjalani hidup kita hari lepas hari.

.

.

. . . . Dengan tetap diam dirumah, mari kita juga tetap mengikuti anjuran dan himbauan pemerintah sebagai lembaga yang dipakai Tuhan untuk kita dalam menyikapi covid-19 yang sedang melanda negeri kita saat ini. Amin.

.

.

.

.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email