Categories
Uncategorized

Hidup Yang Bahagia

Ditulis Oleh : Ev. Almerof Pemburu, S.Th.

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 1:1-6

.

.

.

.

Apa standar hidup bahagiamu? Pertanyaan ini sering kali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang memiliki standar kebahagiaan yang berbeda-beda, tergantung dari tujuan apa yang ingin dicapai dalam kehidupan didunia ini.

.

.

Bahagia adalah suasana hati yang tenang, pikiran yang tenang dan jiwa yang tenang, bukan punya segalanya. Selain itu, bahagia juga keadaan psikologi yang positif dimana kita memiliki emosi positif berupa kepuasan hidup dan pikiran dan perasaan positif.

.

.

Mazmur 1 ini memberikan kita gambaran cara hidup orang yang benar. Orang benar itu adalah orang yang berbahagia (kata pertama) artinya, agar kita selalu bahagia, kita perlu menjadi orang yang benar dulu, benar dalam berpikir, benar dalam berperilaku, benar dalam berkata dan lainnya. Untuk menjadi orang benar, maka mazmur ini memberikan kita beberapa hal untuk dilakukan:

.

.

  1. Memiliki kesukaan akan Firman Tuhan dan melakukan (ayat 2)
    .
    Suka akan firman Tuhan tidak hanya dibaca pas ibadah saja, tetapi alkitab bilang merenungkan siang dan malam, artinya tidak ada batasan waktu dalam kita membaca Firman Tuhan. Dan tidak hanya sampai membaca saja, tetapi dia juga suka melakukan Firman Tuhan (terjemahan masa kini).
    .
    Hal ini perlu di biasakan sejak dini, sejak kita bisa membaca dan mengerti isi Firman Tuhan, sejak saat itu lah kita perlu melakukan dan menjadikannya Habbit dalam hidup kita. Karna kebahagiaan itu bukan bersumber dari dunia dan orang lain, melainkan dari Allah. Untuk bisa mendapatkannya, maka kita perlu menyenangkan hati Tuhan terlebih dahulu dengan menjadikan firman Tuhan itu sebagai kesukaan dalam hidup kita.
    .
  2. Menjadi seperti pohon (ayat 3)
    .
    Bagian kedua, agar kita memiliki hidup yang benar, maka pemazmur mengajak kita untuk hidup seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air. Penggunaan kata “ia seperti pohon,….” adalah untuk menggambarkan apa yang akan terjadi jika kita berada dekat dengan Air (Tuhan) yang adalah sumber kehidupan. Orang yang hidup dekat dengan sumber kehidupan akan memiliki hidup yang menghasilkan hasil yang terbaik dalam hidupnya. Hidup kita akan dikenal dari buah yang kita hasilkan, untuk bisa menghasilkan buah yang terbaik maka perlu untuk kita terus berada dekat dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
    .
  3. Tidak menjadi Kristen bunglon
    .
    “jika kamu baik kepada saya, maka saya bisa lebih baik kepada kamu, tetapi kalau kamu jahat kepada saya, saya bisa lebih jahat kepada kamu.”
    .
    Kata-kata diatas sangat sering kita dengar dan menjadi salah satu fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apa itu Kristen bunglon? Kristen bunglon adalah orang-orang Kristen yang tidak memiliki prinsip yang jelas dalam hidupnya. Mereka ini sama seperti sekam ditiup nagin. Orang-orang seperti ini biasanya terlihat sangat rohani ketika berada di dalam lingkungan orang benar/gereja, tetapi ketika berkumpul bersama orang-orang jahat, dia bisa lebih jahat dari orang-orang itu.
    .
    Hidup tergantung situasi dan tempat.

.

.

Dari ketiga poin diatas kita dapat melihat bahwa kebahagiaan yang sejati hanya akan kita rasakan jika kita hidup benar dimata Tuhan, dan untuk hidup benar maka tiga poin diatas perlu sekali untuk kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetaplah menjadi orang benar dan rasakan kebahagiaan dalam hidup. Tuhan Yesus memberkati.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Lost and Found

Ditulis Oleh : Sdri. Ria Marissabell

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Lukas 19 : 1-10

.

.

.

.

.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” – Lukas 19:10

.

.

.

.

Zakheus, mungkin merupakan nama yang familiar kita dengar dari kisah Alkitab sejak Sekolah Minggu. Begitupun di Yerikho saat itu, Zakheus merupakan orang yang terkenal dan sangat kaya. Namun tidak dengan reputasi yang baik. Ia adalah seorang pemungut cukai yang suka meminta pajak lebih dari yang seharusnya, tindakan ini membuatnya dapat dikategorikan sebagai seorang penipu dan pencuri. Hal ini lah yang membuat orang-orang di kota itu tidak menyukai Zakheus.

.

.

Ketika Yesus melintasi Yerikho, orang banyak mulai berkumpul dan ingin melihat kedatangan-Nya, begitu pula dengan Zakheus. Rasa penasaran untuk melihat Yesus membawa Zakheus sampai naik ke atas pohon, supaya ia dapat melihat Yesus di kerumunan orang banyak. Pada hari itu Yesus tidak hanya melintas begitu saja, Ia berkata kepada Zakheus untuk turun dari pohon sebab Yesus akan bertamu ke rumahnya. Ada 2 respon yang timbul dari apa yang dilakukan dan dikatakan Yesus kepada Zakheus itu. Yang pertama dari Zakheus, dengan sukacita ia meresponi panggilan Yesus dan turun dari pohon untuk menyambut Yesus ke rumahnya. Yang kedua adalah dari kerumunan orang banyak, yang meresponi dengan sungut-sungut sebab Yesus akan menumpang di rumah orang berdosa.

.

.

Dari kisah singkat tentang Zakheus dalam Lukas 19:1-10 ini, ada beberapa hal yang dapat kita renungkan, antara lain:

.

  1. Respon terhadap lawatan Tuhan

    Posisi Zakheus saat itu adalah orang yang dibenci dan dijauhi semua orang. Ia tidak mengenal kasih, karena tidak pernah merasakan kasih dari orang-orang di sekitarnya. Tetapi, tanpa ia sangka ternyata Yesus yang mulia mengenalnya, memanggilnya, bahkan mau bergaul dengan dia (ay. 5). Bayangkan kita ada di posisi Zakheus, orang yang tidak pernah merasakan kasih, tiba-tiba dijumpai oleh kasih itu sendiri. Perjumpaan Zakheus dengan Yesus adalah perjumpaan Zakheus dengan kasih yang sejati. Zakheus meresponi dan menerima panggilan Yesus dengan sukacita (ay. 6), bahkan dengan pertobatan dari hidupnya yang lama. Pertobatan Zakheus berbuah kasih, terlihat dari keinginannya untuk memberikan setengah dari hartanya kepada orang miskin, dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang telah ia peras (ay.7).

    Dari Zakheus kita dapat melihat bahwa kekayaan dan hidup yang berkelimpahan tidak menjadi jaminan kehidupan yang ideal. Karena kekosongan hati dan kehampaan hidup manusia hanya dapat dipuaskan oleh kasih Kristus. Maka dari itu, anugerah dan kasih Kristus harus diresponi dengan benar. Kasih yang kita terima dari Allah akan membuahkan kasih, dan memampukan kita untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama.


  2. Yesus datang untuk yang terhilang

    Ketika Yesus datang ke Yerikho, Yesus bukan ‘iseng’ untuk melintasi tempat dimana Zakheus berada. Selain datang untuk mengajar orang banyak, Yesus datang ke Yerikho untuk menyelamatkan domba-Nya yang hilang. Yesus mengetahui segala yang Zakheus perbuat, tetapi Yesus tetap ingin dekat. Yesus tidak memanggilnya sebagai pendosa, tetapi Ia datang untuk membebaskannya dari dosa. Kerumunan orang banyak berkata Zakheus tidak layak bergaul dengan Yesus, tetapi Yesus memandang semua orang berharga di mata-Nya. Zakheus tidak pernah merasakan kasih persaudaraan, tetapi Yesus panggil dia “anak Abraham”, karena ia telah menjadi bagian dari keluarga orang yang beriman (ay. 9). Perjumpaan Yesus dengan Zakheus bukanlah hal yang tidak sengaja, tetapi bagian dari rancangan Tuhan untuk penyelamatan domba-Nya yang hilang (ay. 10)

.

.

Terkadang kita ada di posisi seperti Zakheus, terhilang. Mungkin kita bukan pemungut cukai, bukan juga orang yang dibenci banyak orang. Tetapi terkadang kita juga tersesat dalam labirin kehidupan. Rumitnya persoalan hidup mungkin sempat membuat kita kehilangan iman dan pengharapan. Atau mungkin dosa yang kita perbuat masih menjadi kabut yang menutupi pandangan kita untuk melihat tangan Kristus yang terulur untuk menyelamatkan. Namun, yang harus kita ingat adalah tidak ada dosa yang terlalu besar, tidak ada masa lalu yang terlalu kelam, dan tidak ada persoalan yang terlalu rumit yang dapat menjadi penghalang untuk Yesus menemukan domba-Nya yang hilang. Dan lawatan Tuhan tidak harus datang dalam sebuah penglihatan supranatural, karena lawatan Tuhan bisa datang dalam perenungan firman Tuhan, dalam pujian dan penyembahan, bahkan dalam doa yang disampaikan dalam diam. Tinggal bagaimana kita meresponi nya dengan sikap hati yang benar. Tuhan Yesus memberkati!

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

KASIHILAH TUHAN ALLAHMU

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat. 22:37)

.

.

.

.

Kasihilah Tuhan Allahmu adalah poin pertama dalam 2 hukum kasih dan paling utama dalam 10 hukum Allah yaitu hukum pertama sampai keempat.

.

.

Seperti apa mengasihi Allah? Orang Yahudi terjebak dalam aturan-aturan keagamaan yang membuat mereka fokus pada hukum Taurat tanpa melihat esensi dari setiap hukum yang Allah berikan. Mereka melakukan seluruh kegiatan-kegiatan keagamaan dengan luar biasa taatnya bahkan mereka juga terkadang membuat tambahan-tambahan aturan yang membuat mereka terbeban.

.

.

Yesus berkata dalam Matius 11:28 “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. Ini merupakan panggilan Yesus kepada orang-orang Yahudi yang terlalu terbeban dengan hukum dan aturan-aturan keagamaan. Bukan hanya orang Yahudi, seluruh agama terjebak dalam aturan-aturan keagamaan yang membuat mereka berpikir bahwa dengan berbuat baik dan mengikuti semua aturan keagamaan mereka akan menemukan kebahagiaan di masa yang akan datang.

.

.

Bagaimana dengan kekristenan? Kekristenan juga terjebak. Kekristenan selalu berbicara tentang kasih Allah yang besar. Allah yang yang begitu peduli dan mengasihi kita. Allah yang pasti memberkati kita dalam segala hal. Kita memang percaya akan kasih Allah yang luar biasa pada kita tetapi kita tidak pernah mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh. Kita terjebak dengan janji dan kita tidak mengenal dan bahkan tidak mengasihi sang Pembuat Janji. Orang Kristen terjebak dan cenderung lebih mencintai berkat Allah daripada mencintai Allah.

.

.

Tidak salah jika kita berpikir bahwa orang Kristen itu diberkati Allah. Kita itu sudah diberkati dan akan selalu diberkati oleh Allah. Konsep berkat yang ada dalam pikiran kita selalu yang berkaitan dengan kesehatan, keuangan, cinta, jabatan, dan lain-lain. Kita tidak berpikir ada berbagai berkat Tuhan yang lain yang lebih indah dari itu yang Tuhan siapkan bagi kita secara khusus dalam 2 Kor. 9:8-11 yaitu diberikan kelimpahan dalam pelbagai kebajikan, menumbuhkan dan melipatgandakan buah-buah kebenaran, bahkan kita akan diperkaya dalam kemurahan hati. Bukankah itu berkat yang terindah dalam hidup kita? Karena itu Paulus berkata asal ada makanan dan pakaian cukuplah (1 Tim. 6:8). Yesus mengajarkan doa “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat. 6:11)” dibagian lain Yesus mengatakan kumpulkan harta di surga (Mat. 6:20), dipertegas lagi dalam Matius 6:33 “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Paulus juga menulis dalam suratnya Kolose 3:2. Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi.

.

.

Bukan berarti kita tidak perlu memikirkan kebutuhan jasmani kita. Kebutuhan jasmani kita penting tetapi kita justru terjebak di sana. Kita mencari Tuhan untuk memberkati kita secara jasmani. Mungkin dengan kata lain kita memanfaatkan kebaikan dan kasih Tuhan untuk kepentingan pribadi kita. Sehingga ketika kita mendapat masalah dalam hidup kita dan melihat orang lain lebih sehat, bahagia, dan memiliki harta yang banyak, bahkan jabatannya selalu naik, kita lalu berpikir, “kan saya anak Raja, saya dekat dengan Tuhan. Mengapa hidupnya lebih baik dari saya?” Bahkan kita merasa bahwa hidup kita begitu sulit dibandingkan mereka. Kalau begitu apa yang salah? Perspektif kita yang salah dalam mengikut Tuhan. Sudahkah kita mengenal Allah kita? Jika kita iri dan kecewa karena orang yang tidak percaya hidupnya lebih baik dari kita, kita belum benar-benar mengenal Allah kita.

.

.

Kita kembali pada hukum Kasih tadi. Apakah kita mengasihi Allah? Atau justru kita sebenarnya lebih mengasihi berkatNya? Pelayanan, perbuatan baik, bekerja untuk Allah adalah salah satu bukti kita mengasihi Allah. Lalu apa yang kita pikirkan saat melakukan semua itu? Kita melakukannya supaya Allah mengasihi kita? Supaya Allah memberkati kita? Supaya Allah memenuhi semua kebutuhan kita? Saat itu yang menjadi fokus kita, itu berarti kita mengasihi berkat Allah bukan mengasihi Allah. Seorang pria tidak akan bahagia jika wanita yang datang kepadanya hanya karena hartanya. Apakah kita berpikir Allah bahagia dengan semua pelayanan dan perbuatan kita yang berfokus pada berkatNya?

.

.

Mari kita renungkan kembali dengan apa yang kita pikirkan dan lakukan. Apakah kita benar-benar melakukannya karena kita mengasihiNya? Kita menuntut kasih Tuhan, tetapi apakah kita mengasihi-Nya?

.

.

Karena itu, sebagai orang yang percaya, mari kita lakukan segala sesuatu karena kita mengasihi Tuhan bukan untuk mendapatkan kasih Tuhan karena Tuhan sudah mengasihi kita bahkan saat kita masih berdosa (Roma 5:8). Bukan pelayanan yang membuat Tuhan mengasihi kita, bukan juga perbuatan baik kita. Allah mengasihi kita karena Dia ingin mengasihi kita tanpa syarat.

.

.

Seorang ayah yang mengasihi anaknya, apakah mungkin dia tidak memikirkan kebutuhan anaknya? Apakah Allah kita tidak akan memikirkan kebutuhan jasmani kita?

.

.

Kita bukan orang yang terlalu sempurna sehingga kita sudah benar-benar mengasihi Allah. Kita semua pernah gagal dan mungkin hari ini kita masih gagal. Itu sebabnya, mari kita perbaiki semuanya. Kasih kita yang mungkin masih kurang pada Allah kita, kita tingkatkan lagi.

.

.

Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

PENTAS (PENANTIAN YANG TIDAK SIA-SIA)

Ditulis Oleh : Sdri. Seventhina Harefa

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Yakobus 5:7a

.

.

.

.

Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan TUHAN!

.

.

Penantian merupakan suatu keadaan menunggu sesuatu/seseorang dengan sabar hingga tiba waktunya, yang ditunggu tersebut datang menghamipiri. Penantian selalu menuntut kesabaran dan kekuatan hati untuk selalu dapat bertahan serta berjuang tanpa bersungut-sungut dalam proses menjalaninya. Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang berkaitan dengan penantian. Menantikan orang tua membelikan hadiah saat moment ulang tahun, menantikan hasil raport belajar selama 1 semester, menantikan panggilan kerja, menantikan masa depan yang indah bersama pasangan yang kita inginkan, dan banyak hal lainnya. Semua penantian ini adalah hal yang lazim di dalam lingkungan manusia, yang mana itu semua hanyalah penantian semu selama tinggal di bumi

.

.

Perlu kita ketahui bahwa adalah suatu penantian yang tidak sia-sia dan berbeda sama sekali dari dunia ini, yakni: Penantian kedatangan Tuhan yang sudah dekat. Yakobus 5:7,8 mengulang frasa yang sama yaitu kedatangan Tuhan sudah dekat. Kedatangan Tuhan merupakan suatu peristiwa eskatologi kedatangan Kristus Kedua Kali di dunia ini. I Tesalonika 5:2 menyebutkan bahwa kedatangan Tuhan seperti pencuri, tidak ada yang tahu. keadaan ini mengharuskan kita tetap memperhatikan pola kehidupan setiap hari supaya memiliki kesiapan ketika Tuhan datang dalam waktu yang rahasia. Penantian kedatangan Tuhan tidak pernah sia-sia, karena hal yang kita nantikan adalah sesuatu yang baik, sempurna dan jauh melampaui keindahan dalam jagad raya ini yaitu KEHIDUPAN KEKAL. Kehidupan kekal adalah kehidupan manusia dimasa nanti/kehidupan baru manusia pada waktu kedatangan Tuhan.

.

.

Seyogianya, penantian adalah sesuatu yang tidak mudah untuk di gapai, suatu keputusan yang memaksakan kita wajib bersabar, taat, bertekun dan setia hingga tiba waktunya. Dalam keseluruhan teks yakobus 5:7-11 memberikan suatu ilustrasi kepada kita orang percaya bahwa untuk dapat memahami tentang penantian yang tidak sia-sia, tidak mudah untuk dicapai. Namun penderitaan dalam penantian akan  hari TUHAN, mengajarkan bahwa penderitaan tidak selamanya menyiksa dan menyakiti. Pekerjaan para petani dan Para Nabi merupakan model tepat, yang dapat mengantar kita untuk menjadi sabar dalam penantian yang tidak sia-sia.

.

.

Ada 3 hal yang perlu diterapkan oleh setiap orang percaya supaya mampu bertahan dalam penderitaan, penantian yang tidak sia-sia tersebut.

.

.

  1. Bersabar (ayat7). Merupakan suatu keadaan yang menuntut kita untuk tetap bertahan hingga pada waktu kedatangan Tuhan. Dalam bersabar, kita harus mampu menguasai hati dan segala keinginan yang melekat,  dengan dunia ini. Tidak bersungut-sungut, namun memiliki keteguhan hati.
  2. Bertekun (11). Suatu upaya yang berkesinambungan dengan kesabaran. Ketekunan mengaharuskan kita untuk kuat dan berjuang. Yakobus 5:7-11 menyebutkan bahwa ketekunan kita harus seperti para petani, yang bertahan walaupun harus menghadapi berbagai musim. Yang terpenting adalah kita mengupayakan diri untuk mampu mencapai kerajaan Allah yang indah dan mulia.
  3. Memimpin diri. Penantian yang panjang kerap sekali membuat orang akan berubah haluan. Tetapi dengan kemampuan memimpin diri/menguasai diri, dapat membuat seseorang yang sudah hidup dalam penantian, tetap berpegang teguh terhadap apa yang di nantikan dan di harapkan.

.

.

Saudara-saudari, penantian yang tidak sia-sia hanya ada dalam Tuhan!

Jangan pernah berubah haluan dalam imanmu! Bersabarlah, bertekun dan pimpin diri sendiri untuk mencapai kehidupan kekal dan mulia itu

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

ORANG ROHANI

Ditulis Oleh : Sdr. Adiman Hulu

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Galatia 6:1-10

.

.

.

.

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan”

.

.

.

.

Kitab Galatia di tulis oleh rasul Paulus kepada orang-orang percaya yang ada di Galatia dengan tujuan tertentu. Salah satu yang menjadi tujuan rasul Paulus menulis kitab Galatia adalah untuk menegaskan kembali dengan jelas kepada orang-orang percaya di Galatia, bahwa mereka hidup bukan lagi oleh ikatan kepada hukum Taurat PL, melainkan mereka telah menerima Roh Kudus dan hidup rohani oleh iman kepada Yesus Kristus.

.

.

Menurut KBBI, rohani memiliki arti yaitu Roh. Rohani dalam bahasa Yunani berasal dari kata πνευματικος (pneumatikos), yang artinya Roh (dari Allah). Sehingga, orang rohani adalah orang yang di penuhi dan di atur oleh Roh Allah.

.

.

Orang rohani memiliki tugas yakni untuk memimpin orang ke jalan yang benar dengan lemah lembut (ayat nats). Tugas tersebut juga menjadi tugas setiap orang percaya saat ini, Iman percaya kepada Yesus Kristus adalah bukti kita di sebut orang rohani. Tetapi, penekanan yang paling utama ialah iman. Iman orang Kristen adalah  iman yang aktif, bukan iman yang pasif.

.

.

.

Dengan demikian, ada tiga poin yang harus diterapkan orang percaya, menurut pembacaan firman Tuhan pada hari ini, yang bisa dikatakan standar seseorang di sebut orang rohani (action dari iman yang aktif tersebut), antara lain:

.

.

  • Menerapkan Hukum Kristus (Ayat 2)

.

Sebagaimana hukum Kristus tertulis dalam Matius 22:37,39 ( Jawab Yesus kepadaya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap  hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” ). “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah : Kasihilah sesame manusia seperti dirimu sendiri”.

Kita sebagai orang percaya, hendaklah kita bisa mengasihi Tuhan Allah, mengasihi diri kita, mengasihi sesama dan juga bisa mengasihi musuh kita.

.

.

  • Mengajarkan Firman Tuhan (Ayat 6)

.

Artinya, seseorang dapat dikatakan rohani ketika ia mengajarkan kebenaran (firman Tuhan), baik itu di dalam keluarga, komunitas dan terlebih-lebih kepada orang yang belum mengenal kebenaran tersebut. Hendaklah kita sebagai orang percaya, mengajarkan firman Tuhan berulang-ulang, sebagaimana tertulis dalam kitab Ulangan 6:6-7, sebab itulah yang di kehendaki Tuhan dalam kehidupan setiap orang percaya.

.

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

.

.

  • Berbuat Baik (Ayat 9)

.

Dalam ayat ini dikatakan bahwa “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik”, artinya terus menerus dilakukan. Berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kia adalah hal yang biasa saja. Tetapi berbuat baik kepada semua orang, bahkan “yang membenci kita sekalipun”, itulah yang luar biasa. Sebab apabila perbuatan baik yang telah dilakukan itu didasari pada sikap hati yang benar, tentunya akan membawa pengaruh positif dan bisa menjadi sebuah kesaksian kepada orang lain.

.

.

“Jadilah terang, jangan ditempat yang terang. Jadilah terang, di tempat yang gelap. Jadilah garam, jangan ditengah lautan. Jadilah harapan, Jangan hanya berharap”

(Lirik lagu Glenn Fredly).

.

.

“STANDAR SESEORANG DISEBUT ORANG ROHANI ADALAH KETIKA IA MAMPU MENERAPKAN HUKUM KRISTUS DAN MAU MENGAJARKAN FIRMAN TUHAN KEPADA ORANG BANYAK, SERTA MAMPU BERBUAT BAIK KEPADA SEMUA ORANG”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

BUKAN SEKEDAR TEORI

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : 1 Yohanes 3:11-18

.

.

.

.

Banyak orang berteori tentang kasih namun seharusnya kasih sejati ditunjukkan dalam tindakan nyata, bukan teori semata. Alkitab sendiri berkata, “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18). Hukum yang terutama dalam Alkitab juga menegaskan bahwa “kasih” itu melibatkan keseluruhan hidup kita: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu … dan… kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39).

.

.

Namun, sering kali “menunjukkan kasih” kepada orang lain itu melelahkan dan sia-sia. Belum tentu “tindakan kasih” kita dihargai atau membawa dampak yang kita harapkan. Namun sebagai umat Tuhan Kita harus terus menunjukan kasih itu karena tanpa tindakan nyata, segala pembicaraan tentang kasih menjadi omong kosong belaka. Tindakan yang didasari oleh alasan-alasan yang keliru juga sama buruknya. Rasul Paulus menulis dalam 1 Korintus 13:3, “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku”. Sangat mungkin orang berbuat baik tanpa didasari kasih.

.

.

Kasih lebih dari sekadar tindakan, lebih dari sekadar keinginan-keinginan berbuat baik yang hanya bertahan sebentar. Alkitab mengajarkan banyak hal tentang kasih Allah, kasih yang sejati. Berikut ini tiga hal yang penting untuk Kita renungkan sebagai orang percaya:

.

.

1. Kasih berasal dari Allah (1 Yohanes 4:7)

Alkitab berkata, “Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1 Yohanes 4:7). “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:16). Kasih kepada Allah dan sesama adalah buah Roh yang dihasilkan ketika kita memberi diri dipimpin oleh-Nya (Galatia 5:22).

.

.

2. Kasih adalah alasan yang menggerakan Kita bertindak
(Yohanes 3 : 16)

.

 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, …” (Yohanes 3:16). Kasih menggerakkan Allah untuk mengaruniakan Anak-Nya, dengan tujuan “…supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Tindakan Allah didasarkan pada kasih-Nya yang tidak berubah dan kekal. Kasih Allah adalah alasan kita untuk berbuat baik kepada orang lain, mengasihi mereka supaya mereka juga dapat mengenal Allah dan memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Dia. Alasan lainnya akan membuat kita mengasihi ala kadarnya atau pada waktu-waktu tertentu saja.

.

.

3. Kasih mengalir dari sukacita mengenal Allah dan menaati Dia (Ibrani 12:2)

.

Mustahil menjadi orang yang penuh kasih di luar Allah, karena kasih bersumber dari Allah. Ketika kita tidak memiliki sukacita bersekutu dengan Allah, bagaimana mungkin kita memiliki kasih-Nya? Tuhan kita, Yesus Kristus tekun memikul salib, mengarahkan pandangan-Nya pada “sukacita yang disediakan bagi Dia”, sukacita menyelesaikan tugas yang diberikan Bapa-Nya (Ibrani 12:2). Tindakan kasih-Nya mengalir dari sukacita mengetahui bahwa Bapa-Nya berkenan terhadap tindakan-Nya itu! Betapa perlu kita memandang teladan Yesus ketika kasih kita menjadi lemah dan kebaikan yang kita tunjukkan terasa sia-sia (Ibrani 12:3).

.

.

Mari Kita sebagai orang percaya menerapkan dalam hidup Kita untuk terus mengasihi Dan kasih itu jangan hanya sebagai teori, namun harus didasari dengan kasih Kristus Dan di nyatakan dalam tindakan Kita setiap Hari. Tuhan Yesus memberkati

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

HIDUP KARENA DOA

Ditulis Oleh : Pdt. Joni, S.Th.

.

.

Seseorang yang memiliki kepastian keselamatan, yaitu keyakinan bahwa dia sudah menjadi anak Allah, pastilah rindu bertumbuh dalam kerohaniannya. Salah satu kuncinya adalah memupuk kehidupan berdoa yang disiplin. Berdoa artinya menciptakan komunikasi dua arah yang indah dengan Allah yang menjadi “Bapa” kita. Doa bukan sekedar meminta sesuatu atau mencari suatu jawaban, melainkan menciptakan suasana terbuka dimana Allah dapat hadir dan masuk dalam kehidupan kita. Dia ibarat sahabat kita yang hidup dan bergumul bersama dia. (Yoh. 15:14).

.

.

Kalau kita memiliki  disiplin doa, itu artinya kita sedang masuk  dan mengalami suasana yang “intim” dengan Allah. Itu juga berarti kita sedang memasuki pintu berkat dan anugerah Allah yang lebih besar dan berlimpah. Ada banyak Alasan mengapa kita harus memiliki disiplin doa. Seperti berikut ini :

.

.

  • Karena doa adalah kehendak Allah (1 Tes. 5:17-18)

.

Melalui doa Allah ingin mendidik kita untuk mengetahui kehendak-Nya, sekaligus berjalan dalam kehendak-Nya. Seringkali kita memohon sesuatu kepada Allah menurut kehendak atau kemauan atau keinginan “kedagingan” kita, padahal hal itu tidak sesuai dengan kehendak Allah atau Firman Allah. Tetapi melalui disiplin doa Allah akan menolong kita untuk mengerti kehendakNya, sehingga kita tidak lagi memaksakan kehendak kita kepada Allah.

.

.

  • Doa Adalah perintah Tuhan Yesus (Lukas 18:1)

.

Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus adalah menaati perintahNya (Yoh. 14:15). Dan salah satu perintahNya adalah berdoa dengan tekun. Melalui disiplin doa, Allah ingin mendidik kita menjadi anak-anakNya yang benar-benar mengasihi Allah dan sesama secara Nyata. (Lih. Matius 22:36-39)

.

.

  • Doa adalah senjata rohani untuk menaklukkan si jahat (Mat. 26:41; Luk. 10:17-18)

.

Melalui doa, Allah melatih kita untuk hidup berkemenangan. Setiap siasat dan pencobaan dari si Iblis, maupun setiap tantangan hidup dapat kita patahkan dengan senjata doa.

.

.

Melalui ketika hal tersebut diatas kita dapat belajar bahwa kita memiliki hak istimewa sebagai seorang anak Allah, kita diberikan kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung kepada Allah yang menjadi bapa kita. Komunikasi ini tidak terbatas dengan waktu, ruang, situasi dan kondisi.

.

.

Karena itu marilah kita setia dengan tekun hidup disiplin dalam doa, sebagai bukti pertumbuhan iman kita yang percaya kepada Allah yang sanggup menolong kita sesuai dengan kehendakNya. Sehingga kita menjadi pribadi-pribadi yang hidup karena doa kita kepada Allah. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Kisah kasih ku dengan Dia

Ditulis Oleh : Sdri. Anathalia Gabrielle Aguininda Koetin

.

.

Pembacaan Alkitab : Yesaya 43 : 4

.

.

.

.

Dengan langkah aku menyusuri derasnya hujan yang turun membasahi tanah. Hati ku tidak tahan untuk segera bertemu dengannya. Meskipun lupa membawa serta payung atau pun mantel sebagai pelindung tubuh, namun tekad ku untuk berjumpa di hari kasih sayang ini tidak pudar. Lampu-lampu jalan mengiringi setiap langkahku, bagaikan berada di sebuah pertunjukkan besar, ya pertunjukkan tentang perjuangan seorang wanita untuk menemui sang pemilik hati.

.

.

Sesampainya disebuah taman, ku letakkan tubuhku yang basah di suatu bangku. Menunggu dalam diam dan dinginnya hujan, akan kehadiran pemilik hati. Meski ditengah derasnya hujan yang turun, tubuh yang basah, serta dinginnya angin malam, namun secarik senyuman selalu mengiasi wajahku. Waktupun berlalu, menit berjalan ingga jam pun mulai beradu langkah. Dimanakah engkau? Tidakkah kau tahu diriku menunggumu saat ini? Apakah kau melupakan janjimu? Ataukah kau hanya mengulur waktu untuk memberikan yang terbaik sebagai hadiah? Apa kau pergi bersama yang lain?. Berbagai pertanyaan mulai menghiasi pikiranku. Rasa kecewa, marah, curiga, dan sedih bercampur menjadi satu.

.

.

Tepat pukul 23.00, aku memberanikan diriku untuk beranjak, beranjak dari dinginnya besi basah yang terbalut cat tempat ku meletakkan  tubuh ku. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, suatu pesan berbunyi di ponselku. Dengan gemetar, aku pun membuka pesan itu, sejenak tak bisa ku bayangkan apa yang terjadi. Namun yang pasti, semua kecurigaan itu hilang sepenuhnya, tergantikan dengan rasa kehilangan yang mendominasi ini. Ya, kekasihku telah pergi, pergi untuk selamanya, bukan karena melupakan janjinya untuk bertemu, bukan pula pergi untuk mencari yang lain. Tetapi, dia telah pergi, pergi untuk selamanya ketika hendak membawakan hadiah yang terbaik untukku, wanita yang sangat dihargainya, wanita yang sangat dicintainya. Pemilik hatiku, kini telah pergi bersama dengan semua kenangan indah dan telah menjadi hadiah terindah dalam hidupku.

.

.

Seringkali, kita sebagai orang Kristen berkata bahwa ‘Saya mengasihi Tuhan’, tetapi dalam praktik kehidupannya, kita justru mengecewakan Tuhan. Sekilas kisah diatas ingin menyampaikan pesan tentang bagaimana cerita kasih seorang wanita kepada seorang pria, dan pria tersebut juga sangat menghargai dan mencintai wanita itu, bahkan hingga maut yang memisahkan. Demikian pula dengan besarnya kasih Tuhan kepada kita semua.

.

.

Dalam Yesaya 43:4, ingin menyampaikan kepada kita semua tentang bagaimana bukti kasih Tuhan, penghargaan Tuhan atas setiap umat manusia. Bukti kasih ini bukan hanya sekedar ucapan, ataupun janji, melainkan perbuatan yang bahkan rela untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi semua umat manusia. Keberdosaan manusia tidak membuat Tuhan lari atau meninggalkan kita, melainkan Dia justru memberikan nyawa-Nya sebagai ganti dan penebusan dosa kita, sehingga kita (umat berdosa) tidak lagi terperangkap dalam jeratan maut.

.

.

Lalu, bagaimana cara kita agar dapat mewujudkan kisah kasih kita dengan Tuhan dalam kehidupan kita?

.

.

  • Realized that you are precious and His favorite

.

Menyadari bahwa kita berharga dan merupakan kesayangan-Nya, itu adalah hal terpenting bagi kita untuk dapat melangkah maju kepada step selanjutnya tentang kisah kasih kita kepada Tuhan. Keberhargaan, kemuliaan, dan kasih yang Tuhan berikan atas kehidupan kita memampukan kita menerima kehidupan kekal itu. sehingga, ketika kita senantiasa menyadari betapa pentingnya kehidupan kita di mata Tuhan, maka kita pun akan menghargai diri kita sendiri sebagaimana Tuhan Yesus menghargai kita.

.

.

  • Change your life and mindset

.

Mengubah cara pandang kita merupakan suatu langkah yang sulit, namun dapat menjadi penentu bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari kita. Ketika kita sadar betapa berharganya kita di mata Tuhan, maka pikiran dan kehidupan kita juga akan berubah. Berubah bukan berarti semudah membalikkan telaak tangan, tetapi berubah menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan. Hal terpenting ialah mau membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, sehingga kita dapat mengerti rencana-Nya dalam hidup kita.

.

.

  • Feel His Love and share it

.

Ketika sepasang kekasi merasakan suasana jatuh cinta setiap harinya, demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Ketika kita senantiasa membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, maka kasih itu akan terus membara dalam diri kita dan membuat kita ingin selalu berada dalam hadirat-Nya, serta berlanjut pada kerinduan kita agara semua orang juga dapat merasakan kasih itu. Inilah langkah yang tepat bagi kita untuk membagikannya kepada semua orang di sekeliling kita. Sehingga, bukan hanya kita saja yang dapat merasakannya, tetapi setiap umat manusia dan bangsa-bangsa juga turut merasakan besar dan hebatnya kisah kasih kita dengan Tuhan.

.

.

Melalui ketiga langkah ini, kita dapat membangun sebuah cerita indah tentang perjalanan kisah kasih kita dengan Tuhan, sampai kepada kekekalan nanti. Tuhan Yesus Menyertai.

.

.

“Share your love to each other, but don’t ever forget that you are loved by the Masterpiece of life, His name is Jesus Christ.”

Categories
Uncategorized

Melayani Tuhan atau Diri Sendiri?

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Pembacaan Alkitab : Roma 12:1-2

.

.

.

.

Pernahkah kita tahu makna dari Melayani Tuhan? Pelayanan adalah anugerah Allah. Dan melayani adalah kesempatan dan anugerah yang Tuhan berikan untuk kita. Karena siapakah kita sehingga kita layak melayani Allah? Karena itu pelayanan sekalipun melibatkan penyangkalan diri, tetapi itu adalah sebuah kehormatan dari Allah pada kita.

.

.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apa motivasi kita melayani Allah? Supaya Allah dimuliakan?  Atau Mungkin kita bisa berpikir begitu tetap faktanya kita seringkali tidak menyadari bahwa yang kita layani adalah diri kita sendiri bukan Tuhan. Bagaimana kita mengetahui hal itu? Jika kita melakukan tugas pelayanan dan tidak dihargai bagaimana perasaan kita? Jika kita memberikan sumbangan pada gereja dan tidak dihargai, bagaimana perasaan kita? Jika kita dikecewakan dalam pelayanan bahkan dicela dalam pelayanan kita, bagaimana perasaan kita? Saat kita marah dan kecewa, berarti kita masih melayani diri sendiri.

.

.

Kita bukanlah orang yang sudah sempurna. Siapapun kita terkadang masih melayani diri sendiri. Karena itu melalui renungan ini, kita harus memperbaiki motivasi kita yang kurang tepat dalam melayani Tuhan.

.

.

Ada dua hal yang perlu kita ketahui dalam memperbaiki motivasi kita dalam melayani Allah.

.

.

  1. Mengubah hidup kita (ay. 1)

    Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan pada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

    Pertama, tubuh kita milik Allah. Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor. 6:20). Tubuh kita berbicara tentang kehidupan kita. Artinya seluruh aspek kehidupan kita adalah milik Allah. Kesadaran bahwa diri kita milik Allah seharusnya memberi kita pengertian dalam hidup kita bahwa pelayanan bukan untuk menyenangkan diri kita melainkan menyenangkan Allah. Kita menempatkan Allah diatas ego kita sebagai alasan sesungguhnya dalam melayani Allah.

    Karena itu Allah meminta tubuh kita yang hidup (bukan lagi yang mati seperti korban dalam PL). Tuhan ingin kita melayani Allah dengan tubuh kita yang hidup. Itu jauh lebih mulia daripada kita sekedar mengatakan bahwa kita mau mati bagi Tuhan yang kita tidak tahu itu benar-benar kita lakukan atau tidak. Jika kita melayani Allah saja tidak mau, bagaimana kita bisa berlogika kita mau mati bagi Tuhan?

    Dalam melayani Allah, Allah menginginkan kekudusan dan kehidupan yang berkenan padaNya. Artinya, untuk memperbaiki motivasi kita, mari kita mengubah hidup kita dahulu. Kita mengarahkan diri pada kekudusan dan perkenaan Allah yang artinya kita hidup sesuai dengan kehendak Allah yaitu firmanNya. Karena jika kita tidak mengubah hidup kita, kita tidak akan pernah memiliki motivasi yang benar dalam melayani Allah.
  2. Mengubah pola pikir (ay. 2)

    Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Dalam KJV: But be ye transformed by the renewing of your mind. Terjemahan hurufiahnya adalah tetapi jadilah kamu diubahkan oleh pembaruan pikiranmu. Kata ‘berubahlah’ dalam bahasa Yunani memang pasif. Sehingga dalam KJV diartikan ‘diubahkan’ dan dalam terjemahan BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) menerjemahkan kalimat di atas sebagai berikut : Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru supaya kalian berubah. Artinya di sini paradoks (Dua hal yang kelihatannya bertentangan tetapi dua-duanya benar). Kita harus berubah tetapi di sisi lain, Allah yang mengubah kita.

    Selain itu kata ‘berubahlah’ dalam bahasa Yunani berbentuk present menunjukkan bahwa perubahan itu dilakukan secara terus menerus. Artinya kita bukan orang sempurna dan tidak akan langsung sempurna dalam perubahan itu. Kita berposes dalam perubahan kita seumur hidup kita.

    Tujuan dari pembaharuan pikiran adalah agar kita bisa membedakan mana kehendak Allah dan mana yang bukan. Artinya mengubah pola pikir kita menjadi seperti Allah. Sehingga keinginan kita sama dengan keinginan Allah. Bagaimana kita mengubah pola pikir kita? Dengan firman Allah yang akan terus membersihkan kita baik hidup kita juga motivasi kita dalam melayani Allah (Yoh. 15:3). Kita mengetahui bahwa perubahan dimulai dari merubah pola pikir kita. Dalam tulisannya tentang “Wawasan Dunia Kristen”, Pdt. Yakub Tri Handoko menuliskan bahwa perubahan pikiran merupakan perubahan radikal dan mendasar yang mencapai tingkat perubahan wawasan dunia. Dr. Bob Utley, seorang professor bidang hermeneutika menuliskan dalam tafsirannya bahwa orang percaya melihat kenyataan dalam cara yang berbeda secara menyeluruh karena pikiran mereka telah dimotori oleh Roh, pikiran yang ditebus, dipimpin oleh Roh menghasilkan suatu gaya hidup yang baru.

    Sehingga, perubahan pola pikir kita akan mempengaruhi motivasi kita dalam pelayanan. Perubahan itu dikerjakan oleh Allah tetapi kita harus berusaha berubah dan kita harus terus-menerus mengubah motivasi kita sampai kita mati karena akan selalu ada ego dalam setiap pelayanan kita.

.

.

Mari kita melihat motivasi pelayanan kita. Kita sedang melayani Allah atau diri kita sendiri? Kita semua tentu masih memiliki ego dalam pelayanan karena itu mari kita ubah dengan cara mengubah hidup kita sesuai dengan kehendak Allah dan pola pikir kita sesuai dengan pemikiran Allah yang bisa kita peroleh dengan terus menerus belajar Alkitab. Kedua perubahan itu harus kita lakukan terus menerus. Saya mengutip pernyataan Pdt. Yakub Tri Handoko dalam Tulisannya mengenai “Wawasan Dunia Kristen” sebagai berikut: Pembaharuan akal budi akan berdampak positif pada wawasan dunia Kristen, misalnya tujuan hidup (Roma 12:1) dan standar kebenaran (Roma 12:2). Beliau melanjutkan bahwa pada gilirannya dua hal tersebut akan mempengaruhi cara kita melayani sesama saudara seiman (Roma 12:8).

.

.

Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Kasih Kristus Kepada Orang Percaya

Ditulis Oleh: Dellis Zai

.

.

Nats Alkitab : 1 Yohanes 5:1-5

.

.

.

.

Kasih mungkin tidak asing lagi bagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Menurut KBBI kasih adalah perasaan, cinta, suka. Namun, kasih sering kali kita temukan kepada orang lain baik kepada kelurga, teman, sahabat, dan pacar. Tetapi judul perenungan kita “KASIH KRISTUS KEPADA ORANG PERCAYA”. Pasti semua orang ingin memiliki Kasih Kristus didalam kehidupannya sehari-hari, tetapi yang menjadi pertanyaan bagi kita. sudahkah kita mengasihi Kristus didalam kehidupan kita ? atau sudahkah kita menyebar luaskan kasih kristus kepada orang lain?. jika kita melihat kasih Kristus didalam kehidupan kita, mungkin sangat luar biasa. Dimana, ia rela mati dikayu salib, dan menebus dosa-dosa kita. Itulah yang disebut Kasih Kristus.

.

.

Ada banyak hal yang menjadi tugas kita untuk mengasihi Kristus didalam kehiduan kita ialah:

.

.

1. Melakukan perintah-Nya ( Ayat 2 & 3)  

.

 Di point pertama ini merupakan tugas tanggung jawab kita sebagai orang yang percaya kepada  Tuhan, dimana kita harus melakukan perintahnya atau meneladani sifat Kristus bagi kehidupan kita sehari-hari. Memang bukan hanya sebatas kita percaya kepada Dia, namun ada banyak hal yang kita lakukan yaitu taat, setia, dan butuh komitmen untuk melakukan perintahnya. Kita harus benar-benar menjadi saksinya ditengah banyak orang dan menyebar luaskan kerajaan-Nya.

.

.

2. Kemenangan Kristus akan dunia ( Ayat 4)

.

Point ini menjelaskan bagi kita dimana Kristus telah menang untuk melawan dunia ini, dan sehingga kita sebagai orang yang percaya telah menang bersama dengan Kristus. Kemenangan disini menjelasakan kepada kita, dimana Tuhan telah memerdekakan kita dan telah membayar lunas dosa kita melalui darah-Nya sendiri. Tetapi, bukan dalam arti kita bebas untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, namun kita harus menang untuk melawan keinginan daging kita yaitu hawa nafsu, hidup dalam dosa, dll.

.

.

3. kepercayaan kita ( Ayat 5)

.

Kepercayaan merupakan suatu kebutuhan dasar manusia untuk melakukan segala sesuatu. Tetapi, ada banyak orang sekarang dalam melakukan segala sesuatu masih bersungut-sungut tidak percaya untuk melakukannya. Dengan demikian, percaya bukan dalam arti kita beriman namun dengan kepercayaan kita harus mengawali dengan Do’a terlebih dahulu. Maka Tuhan  akan menolong, memperlengkapi kita dengan berbagai macam walaupun pekerjaan kita sangat berat, sulit mengerjakannya, sehingga terasa ringan ketika kita membangun relasi dengan Tuha.

.

.

Dalam melukan kasih jangan pernah bersungut-sungut, tetapi lakukan lah dengan setulus hati. Sama seperti Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email