Categories
Uncategorized

KESETIAAN MENGIKUT KRISTUS

Ditulis Oleh : Sdr. Adiman Hulu

.

.

Pembacaan Alkitab : Lukas 16 : 10 – 18

.

.

.

.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”  Lukas 16:10

.

.

.

.

Hal yang paling diharapkan oleh setiap pasangan dalam sebuah hubungan yang mereka jalani adalah wujud dari kesetiaan. Menurut KBBI, setia berarti berpegang teguh, patut, taat, terhadap suatu janji atau pendirian. Kesetiaan tidak dapat dilihat jika segala sesuatu berjalan dengan baik. Kesetiaan akan terlihat ketika kita mengalami suatu keadaan yang tidak baik-baik saja dalam kehidupan kita.

.

.

Mewujudkan kesetiaan kepada pasangan bukanlah suatu hal yang salah. Namun perlu untuk kita ketahui bahwa, kita sebagai orang percaya juga diharapkan bisa untuk mewujudkan kesetiaan kita dalam mengikut Kristus, (ayat nats). Mengikut Kristus memang bukanlah sesuatu hal yang mudah, sebab ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24).

.

.

Sekalipun mengikut Kristus bukanlah suatu hal yang mudah, namun ketika kita taat dan setia dalam mengikut Kristus, kita akan di mampukan dalam menghadapi situasi-situasi yang begitu sulit dalam kehidupan kita. “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimuhatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ul 31:6).

.

.

Perenungan firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa, ada tiga poin penting yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, dalam mewujudkan kesetiaan kita mengikut Kristus. Antara lain:

.

.

  • Melayani Tuhan Dengan Kesungguhan Hati (Ayat 10-12)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol 3:23). Kiranya ayat ini menjadi pegangan setiap kita orang percaya dalam melayani Tuhan. Janganlah kita memandang besar atau kecilnya suatu pelayanan, tetapi hendaklah kita fokus kepada Tuhan sebagai objek yang kita layani.

.

.

  • Tidak Mendua Hati (Ayat 13-15)

Yang dimaksud dengan mendua hati dalam hal ini ialah menerapkan praktik penyembahan berhala. Saat ini orang-orang Kristen tidaklah menerapkan kehidupan menyembah berhala, seperti menyembah patung, batu dan lain-lain. Namun, tanpa mereka sadari, banyak dari mereka menyembah berhala-berhala modern. Contohnya: uang, jabatan, kekuasaan, popularitas, prestasi/pencapaian, kesuksesan, status sosial, penampilan fisik, dan lain sebagainya.

“Segala yang baik bisa menjadi berhala, bila kita jadikan sebagai yang utama”. Untuk itu, prioritaskanlah Tuhan dalam kehidupan kita.

.

.

  • Kesetiaan Dalam Mengikut Kristus, Tidaklah Sia-Sia (Ayat 16-18)

Mengikut Kristus bukanlah hal yang mudah, tetapi itu semua akan terbayar jika kita benar-benar setia dalam mengikut-Nya. Mengikut Kristus ada pengharapan, yaitu jaminan keselamatan (hidup kekal).

.

.

“JANGAN TAKUT TERHADAP APA YANG HARUS ENGKAU DERITA! SESUNGGUHNYA IBLIS AKAN MELEMPARKAN ORANG DARI ANTARA KAMU KE DALAM PENJARA SUPAYA KAMU DICOBAI DAN KAMU AKAN BEROLEH KESUSAHAN SELAMA SEPULUH HARI. HENDAKLAH ENGKAU SETIA SAMPAI MATI, DAN AKU AKAN MENGARUNIAKAN KEPADAMU MAHKOTA KEHIDUPAN”

WAHYU 2:10
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

APAKAH TUHAN TUTUP MATA?

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 91:1-16

.

.

.

.

“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai Dia dalam kesesakan aku akan meluputkannya dan memuliakannya”.

.

Mazmur 91:15

.

.

.

.

Dalam perjalaan kekampus Jhon mengalami kecelakaan dalam berkendara dan dirawat dirumah sakit untuk beberapa waktu. Setelah melewati pengobatan akhirnya Jhon keluar dari rumah sakit, kecelakaan yang jhon alami membuat Jhon tidak dapat berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Ayah Jhon berusaha membuat anaknya itu terus semangat menjalani hari-harinya mesipun hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk di jalani. Setelah Jhon berada dirumah kehidupannya berjalan seperti kehidupan sebelumnya, bukan seperti dirumah sakit yang selalu di layani oleh perawat rumah sakit. Jhon harus melakukan semua kegiatannya mengandalkan tangannya untuk mendorong kursi roda yang dia gunakan, Jhon yang dari kamarnya berusaha bangun lalu duduk di kursi roda dan berusaha mendoronya sampai meja makan. Saat itu Jhon sangat kesal dengan keadaan yang dia alami, karena semua seakan berbeda seperti sebelumnya. Ayah Jhon melihat anaknya yang selalu berusaha melakukan semua kegiatan itu sendiri.

.

.

Setelah selesai makan Jhon kembali kekamar dan berusaha untuk naik ketempat tidur, ketika Jhon berusaha kembali ketempat tidurnya jhon mengalami kesulitan karena kedua tanggannya lelah, hal itu membuat Jhon sangat sedih dan marah dengan dirinya sendiri. Tetapi ayahnya datang membantu Jhon untuk naik dan akhirnya Jhon bisa kembali duduk d tempat tidurnya. Saat itu Jhon menangis dan berkata kepada ayahnya “Apakah Ayah tidak peduli dengan Jhon, kenapa ayah membiarkan Jhon turun dari tempat tidur, berusaha duduk dikursi roda, mendorongnya hingga kemeja makan dan kembali lagi ketempat tidur. Bukankah ayah melihat Jhon tapi kenapa ayah sama sekali tidak membantu Jhon?” Jhon berbicara penuh dengan kemarahan dan kekesalan kepada ayahnya. Dengan lembut ayah Jhon menjawab setiap pertanyaan Jhon “Benar, Ayah melihat Jhon melakukan semuanya sendirian, Ayah berusaha membuat Jhon untuk lebih kuat. Sekarang Jhon harus terbiasa dengan hidup seperti saat ini, Ayah sudah melakukan apa yang ayah bisa lakukan untuk membantu Jhon. Saat Jhon di Rumah Sakit ayah memindahkan meja makan lebih dekat dengan kamar Jhon, Ayah merapikah setiap ruangan dan memindahkan barang-barang yang menghalangi jalan untuk Jhon, dan Ayah berusaha dengan cepat membantu Jhon disaat Jhon benar-benar tidak mampu lagi seperti sekarang, Ayah tau Jhon sudah berusaha namun karena kelelahan Jhon tidak mampu lagi naik ketempat tidur saat itu ayah berusaha untuk membantu Jhon”. Mendengar penjelasan ayahnya Jhon kembali memeluk ayahnya dan merasa bersalah karena Beranggapan yang tidak sesuai kenyataannya. Bukan Ayahnya yang tidak peduli tetapi Jhon yang belum memahami cara Ayahnya untuk membantu dia.

.

.

Bukankah hal seperti ini sering kali kita alami sebagi anak-anak Tuhan. disaat kita mengalami masa-masa sulit, kita merasa Tuhan seakan-anak tutup mata dan tidak peduli dengan segala sesuatu yang kita alami. Tanpa kita sadari bahwa Tuhan memiliki caranya sendiri menolong setiap anak-anaknya. Disaat kita mengalami kesulitan ada beberapa hal yang Tuhan ajarkan:

.

.

  1. Tuhan ingin kita berusaha (Mazmur 91:3-5; 1 Kor. 10:13)

    Tuhan tidak menginginkan anak-anaknya menjadi anak-anak gampangan tetapi menjadi anak-anak yang tegar, kuat dan mampu menghadapi berbagai keadaan. Tuhan ingin melihat kita terus berusaha, dan Tuhan tidak memanjakan kita meskipun kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Tuhan mengetahui batas kemampuan setiap anak-anaknya, sehingga ketika anak-anakNya mengalami kesulitan Tuhan tetap ada dan setia bahkan menyediakan jalan keluar sehingga kesulitan tersebut dapat ditanggung. Di dalam kita berusaha melewati setiap keadaan yang ada tetap Tuhan yang menjadi tempat perlindungan kita.
  2. Tuhan ingin kita memahami cara-cara-Nya menolong kita (Mamur 91:6-13)

    Ayah Jhon memang tidak mendorong kursi roda anaknya, tidak menggendongnya menuju meja makan, akan tetapi dia melakukan hal-hal yang kelihatannya sederhana namun hal itu sangat membantu Jhon. Tuhanpun demikian Ia memiliki cara-Nya sendiri untuk menolong setiap anak-anaknya yang mengalami masa-masa sulit. Jika saat ini kita sedang ada dalam masa sulit itu, mari kita mencoba untuk memahami bahwa Tuhan selalu memiliki cara yang seakan tidak mampu untuk kita mengerti tapi yakinlah Tuhan selalu punya cara, yang memampukan kita melewati setiap masalah dan pergumulan yang ada. Dalam ayat 11 “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga enkau disegala jalanmu”.
  3. Tuhan ingin kita bersyukur dalam setiap keadaan (Mazmur 91:14-16)

    Bersyukur dalam keadaan baik itu adalah hal yang mudah untuk kita lakukan namun bagaimana dengan kondisi sebaliknya, mampukah kita beryukur ketika kita dalam masa-masa yang sangat susah untuk kita jalani. Disaat Jhon mengalami kecelakaan, dan harus menggunakan kursi roda apakah dengan mudah Jhon menerima keadaan yang ada?, hal yang demikian pasti sangat sulit untuk di syukuri. Namun Tuhan ingin anak-anak-Nya tetap bersyukur dalam setiap keadaan, susah maupun senang, sulit maupun mudah. Tuhan ingin hati kita tetap melekat kepada-Nya, dan selalu berseru karena Tuhan yang akan menyertai setiap anak-anaknya dalam kesesakan.

.

.

Jadi Tuhan tidak pernah tutup mata, Tuhan selalu peduli dengan keadaan yang terjadi dalam setiap kehidupan anak-anak-Nya. Tuhan hanya ingin kita terus berusaha, memahami cara-caranya, dan selalu bersyukur dalam menghadipi setiap keadaan yang ada. Tuhan adalah Bapa yang setia, dan ketika kita mengandalkan Dia maka apapun yang kita alami pasti kita mampu menanggungnya. Hingga pada akhirnya kita melihat keselamatan dari pada-Nya

.

.

“Dengan panjang umur akan kukenyangkan dia, dan akan kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku”

Mazmur 91:16

.

.

Tuhan Yesus memberkati.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Jaminan keselamatan

Ditulis Oleh: Ev. Almerof Pemburu, S.Th.

.

.

.

.

Yohanes 14:6

“kata Yesus kepadanya, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.

.

.

.

.

Setiap manusia pasti ingin memiliki jaminan keselamatan dalam hidup, dan banyak orang berusaha keras dengan melakukan kebaikan dan amal untuk mendapatkan keselamatan. Tetapi dalam Firman Tuhan mencatat Keselamatan adalah sebuah Anugerah dan pemberian Allah, bukan hasil usaha dan amal manusia. Agama adalah usaha manusia untuk mencapai Allah (melalui amal,dll) tapi anugerah adalah usaha Allah mencapai manusia (Yoh. 15:16). Anugerah keselamatan adalah pemberian Allah kepada orang yang tidak layak menerimanya. Perbuatan baik bukan syarat, tapi bukti keselamatan.

.

.

Yohanes 14:6 memiliki makna penting bagi kita semua sebagai umat Kristen, karena ayat ini menjelaskan kedudukan Tuhan Yesus sebagai jalan dan kebenaran. Jalan hidup dan kebenaran yang disediakan Kristus akan mengarahkan kita untuk memperoleh perkenanan Yesus Kristus dan memenuhi persyaratan untuk memasuki kerajaan surga. Kehadiran Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan kebenaran bagi umat manusia menjadi jaminan keselamatan yang diberikan oleh Allah untuk orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16). Untuk itu, sebagai orang-orang yang sudah menadapat jaminan keselamatan, apakah kita tidak perlu melakukan sesuatu? Tentu tidak, ada hal yang perlu kita lakukan dalam kehidupan kita:

.

.

  1. Tetaplah kerjakan keselamatanmu (Filipi 2:12)

    Beberapa orang mengajarkan tentang keselamatan bisa hilang sering kali menggunakan ayat ini untuk mendapatkan dukungan dari pandangan mereka. Ayat ini dianggap seakan-akan Paulus mengajarkan bahwa keselamatan adalah sesuatu yang pada akhirnya dapat  diperoleh lewat usaha sendiri atau dengan kata lain keselamatan adalah upah dari mengukit Yesus.

    Jika kita melihat frase nya, kata “kerjakanlah” yang dipakai Paulus adalah kata kerja Yunani “katergazomai”. Paulus menggunakan kata kerja “katergazomai” sebanyak 20 kali dalam surat nya dan tidak satu pun yang menggemukakan gagasan mendapatkan sesuatu berdasarkan kebaikan atau jasa dan perbuatan. Artinya mengerjakan keselamatan adalah tetap hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan melakukan apa yang harusnya dilakukan layaknnya orang-orang yang di pilih dan diselamatkan.
  2. Tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah (Ibrani 10:25)

    Poin kedua untuk kita sebagai umat yang telah mendapatkan jaminan keselamatan adalah dengan tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang ada. Ini penting karna iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan Firman Tuhan. Artinya selain membaca, kita juga perlu untuk mendengar firman Tuhan. Selain itu, pertemuan-pertemuan ibadah juga menunjukan ikatan kita dengan saudara seiman sebagai bagian dari orang-orang yang mendapatkan jaminan keselamatan dari Tuhan. Ada banyak makna dari sebuah peribadahan, selain tetap bersatu dan berkumpul dengan saudara seiman, disitu juga kita bisa saling menguatkan dan mengingatkan dan tetap terkoneksi dengan Tuhan yang memberikan jaminan keselamatan itu. Maka kita sebagai umat yang mendapatkan jaminan keselamatan dituntut untuk tetap ikut dalam pertemuan-pertemuan ibadah.

Dari dua poin diatas, kita melihat bahwa jaminan keselamatan yang Tuhan berikan akan menuntun kita pada tindakan-tindakan yang tetap terkoneksi dan memuliakan Tuhan. Karna tujuan akhir kita sebagai ciptaan Tuhan adalah untuk menjadi penyembah-penyembah Tuhan.

Amin, Tuhan Yesus memberkati.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Yang Tidak Dipilih

Ditulis oleh : Sdri. Ria Marissabell

.

.

Pembacaan Alkitab : Kejadian 29 : 15-35

.

.

.

.

Dalam kehidupan bersama dengan orang lain, mungkin kita pernah merasakan “tidak terlihat”, “tidak dianggap”, ataupun bahkan jadi “pilihan terakhir”. Baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan, pergaulan, bahkan mungkin di gereja sekalipun. Perasaan menjadi yang “terasing” seperti ini biasanya disebabkan oleh dua hal, yaitu pikiran kita sendiri dan lingkungan yang memang memperlakukan seperti itu. Perasaan terasing seperti ini memang membuat kita terkadang tidak akan nyaman berlama-lama berada di lingkungan itu, bahkan perasaan semacam ini mungkin akan terus melekat di pikiran kita, meskipun kita sudah tidak berada di lingkungan tersebut.

.

.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita diingatkan kembali kepada kisah Yakub, Lea, dan Rahel. Dimana Yakub memilih Rahel, anak Laban, untuk menjadi istrinya sebagai upah dari kerja kerasnya di rumah Laban, tetapi di tipu oleh Laban dan Lea lah yang diberikan kepadanya untuk menjadi istrinya. Yakub tidak memilih Lea, namun iya harus menerima Lea menjadi istrinya dengan “terpaksa”, sampai akhirnya ia mendapatkan Rahel untuk menjadi istrinya juga. Lea tahu bahwa Yakub lebih mengasihi Rahel, ia bukanlah orang yang dipilih Yakub, ia hidup dalam kesedihan dan kesengsaraan batin karena kurangnya kasih Yakub kepadanya. Namun, Lea tidak hidup kekurangan pengharapan kepada Tuhan. Ia membawa kesedihan dan kesengsaraannya kepada Tuhan, dan ia mengucap syukur akan apa yang diperbuat Tuhan dalam hidupnya.

.

.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah hidup Lea, perempuan yang bukan merupakan pemeran utama, antara lain:

.

  1. Respon di tengah kesengsaraan

    Lea tampaknya memiliki kerinduan untuk mendapatkan perhatian yang sama seperti yang didapatkan Rahel dari Yakub, dan kurangnya kasih dari suaminya merupakan penderitaan baginya (ay. 32). Namun dalam keadaan seperti itu, Lea tidak mencela atau mengutuki Yakub, ia tetap berharap dan menantikan kasih yang penuh dari suaminya. Selain itu, nama-nama yang diberikan Lea untuk anak-anaknya menunjukkan kesadaran dan rasa syukurnya bahwa anak-anak yang ada padanya adalah berkat Tuhan dalam kesengsaraan Lea. Ketika ia memberi nama Ruben, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian Tuhan kepada kesengsaraannya (ay.32). Kemudian ia menamai anak keduanya Simeon, karena Lea percaya bahwa anak ini adalah berkat yang diberikan Tuhan sebab Tuhan mendengar ia tidak dicintai oleh suaminya (ay.33). Anak ketiganya diberi nama Lewi, sebab Lea tidak kehilangan pengharapan akan hubungan yang lebih erat dengan suaminya (ay.34). Dan anak terakhir yang dilahirkannya diberi nama Yehuda, yang berarti “pujian”, sebagai pujian syukur yang ia naikkan kepada Allah akan belas kasihan dan rahmat-Nya (ay.35).

    Dari respon Lea kita dapat belajar untuk tidak mencela dan mengutuki orang-orang yang membuat kita berada dalam keadaan “terasing”, tetapi justru tetap menunjukkan kasih kita kepada mereka. Dari respon Lea juga kita dapat belajar untuk menyerahkan pergumulan kita kepada Tuhan, dan tidak kehilangan pengharapan akan lawatan-Nya di tengah kesengsaraan, serta tidak lupa untuk mengucap syukur atas rancangan dan belas kasihan-Nya.
  2. Tidak dipilih manusia tetapi dipilih Tuhan

    Lea memang tidak dipilih Yakub, namun Lea tetap dipilih Tuhan. Sangatlah menarik bahwa Allah memilih wanita yang kurang dicintai untuk mendatangkan garis keturunan Mesias (band. Kej.29:35, Mat.1:2). Yehuda, anak ke keempatnya, menjadi nama satu suku, lalu bangsa, yang dari pada keturunannyalah Yesus Kristus Sang Juruselamat lahir kedalam dunia sebagai manusia. Hal ini menunjukkan kedaulatan Allah yang melampaui segala keadaan. Mungkin dengan keberadaan kita sebagai  “yang terasing” atau “yang terpaksa dipilih” dalam sebuah lingkungan justru dapat digunakan Tuhan untuk menjadi sarana pembawa berkat Tuhan bagi komunitas atau lingkungan tersebut secara luar biasa.

.

.

Dari kisah ini, kita dapat melihat dan belajar bahwa label yang diberikan manusia tidak pernah mengubah rancangan yang ditetapkan Tuhan dalam hidup kita. Kita dipilih Tuhan untuk menggenapi rancangan-Nya melalui tujuan yang diberikan-Nya kepada pribadi lepas pribadi. Tinggal bagaimana respon kita dalam mengikuti alur cerita-Nya Tuhan, hidup dalam pengharapan? Atau hidup kehilangan pengharapan? kita yang pilih.

.

.

Tuhan Yesus memberkati!

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Jangan Jemu Berbuat Baik

Ditulis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

.

.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

.

.

.

.

Mengapa kita harus berbuat baik? Mengapa kita harus menaati Allah? Mengapa kita harus mengampuni orang yang bersalah? Mengapa kita harus mendoakan orang yang menganiaya kita? Mungkin dua pertanyaan awal masih cukup diterima dibanding dua pernyataan akhir walaupun semuanya ada di firman Tuhan. Berbuat baik bukan hanya sekedar menolong orang lain tetapi mampu mendoakan orang yang jahat pada kita. Kita bisa mendoakan orang jahat agar bertobat. Tetapi bagaimana jika itu adalah orang yang berbuat jahat pada kita padahal kita selalu berbuat baik padanya?

.

.

Konsep ‘perbuatan baik’ begitu melekat dalam kehidupan manusia. Dalam agama, konsep ‘perbuatan baik’ bertujuan untuk bisa mendapatkan sorga dan juga untuk mendapatkan karma yang baik. Sehingga ‘peruatan baik’ lahir dari manusia dan untuk kepentingan manusia. Bagaimana dengan ‘perbuatan baik’ dalam kekristenan?

  1. Perbuatan baik lahir dari Allah

    Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus

    Dalam bacaan kita, rasul Paulus menempatkan perbuatan baik sesudah membahas bahwa kita sudah diselamatkan (Ef. 2:8-10). Artinya posisi dari perbuatan baik terletak pada orang-orang yang sudah diselamatkan. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa perbuatan baik dilakukan oleh orang-orang yang sudah diselamatkan. Regenerasi merupakan titik awal untuk kita diselamatkan (Yoh. 3:3-5). Perhatikan dalam Efesus 2:4-5 dimana kita yang tadinya mati secara rohani (ay. 1) dihidupkan kembali oleh Allah secara rohani. Inilah yang disebut dengan kelahiran kembali. Kita diciptakan kembali oleh Allah di dalam Kristus (ay. 10). Sehingga kita menjadi manusi baru. Itu sebabnya keselamtan itu murni hanya karena anugerah melalui iman karena pada dasarnya manusia itu mati secara rohani. Karena itu perbuatan baik dan kelahiran kembali adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Gula pasti manis. Garam pasti asin. Orang yang lahir kembali pasti berbuat baik.

    Karena itu perbuatan baik yang berkenan pada Allah harus lahir dari Allah sendiri bukan dari manusia. Perbuatan baik di luar Kristus tidak akan pernah berkenan pada Allah karena semuanya bercampur dengan dosa (Ibrani 11:6).
  2. Perbuatan baik itu untuk Allah.

    Yang dipersiapkan Allah sebelumnya

    Perbuatan baik memang eksis setelah kita lahir baru. Tetapi Allah sudah merencanakan sejak sebelumnya yaitu sebelum dunia dijadikan agar kita berbuat baik. Karena itu perbuatan baik adalah bagian dari rencana Allah yang besar. Keselamatan bukan tujuan akhir Allah bagi kita, sukacita sorga dan dunia bukan tujuan akhir Allah bagi kita tetapi kemuliaan-Nyalah yang menjadi tujuan akhir segala sesuatu termasuk keselamatan dan perbuatan baik kita (Roma. 11:36). Dalam pertanyaan pertema Katekismus Singkat Westminster dijelaskan bahwa Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.

    Karena itu perbuatan baik sudah dirancang Allah sejak kekal untuk kemuliaan namaNya. Itulah tujuan kita berbuat baik. Ada upah tertentu dari setiap perbuatan baik kita. Tuhan memperhatikan itu. Tetapi tujuan utama kita berbuat baik adalah untuk kemuliaan Allah. Lakukan segala sesuatu seperti untuk Kristus (Kol. 3:23). Ini merupakan rencana Allah yang besar.

    Bagaimana denga kita? Apa motivasi kita dalam melakukan perbuatan baik. Apakah untuk kemuliaan Allah? Atau ada sesuatu yang kita harapkan dari perbuatan baik kita? Mendapatkan upah sorga? Kita sama dengan agama lain. Mendapatkan karma yang baik? Kita sama dengan agama lain. Kita berbuat baik bukan untuk mendapatkan surge atau mempertahankan keselamatan. Tujuan perbuatan baik jauh lebih mulia dari itu yaitu untuk kemuliaan Allah. Mari, kita merubah motivasi kita dalam perbuatan baik kita.

.

.

Karena itu konsep perbuatan baik dunia dan kekristenan itu berbeda jauh. Bagi dunia perbuatan baik itu berasal dari manusia dan untuk manusia sedangkan dalam kekristenan, itu berasal dari Allah dan untuk Allah. Mungkin kita memeriksa perbuatan baik kita sejauh ini yang belum semulia itu, kita sedang diproses oleh Tuhan. Saat berbuat baik, kita tidak dihargai. Saat berbuat baik, tidak dibalas. Saat kita berbuat baik kita malah dihina. Saat berbuat baik, kita malah megalami kerugian. Saat berbuat baik kita malah mengalami kekurangan, saat berbuat baik kita malah dipersalahkan oleh orang lain. Orang lain menyakiti kita, ayo ampuni. Mungkin itu berat bagi kita tetapi itulah kehidupan kita yang sudah lahir baru. Itu semua adalah proses pemurnian motivasi kita yang dikerjakan oleh Allah karena walaupun kita sudah lahir baru, kita belum sempurna termasuk motivasi kita yang belum murni. Jadi, jangan pernah jemu berbuat baik apapun yang terjadi. Jika hari ini motivasi kita belum benar-benar murni, kita doakan agar terus dimurnikan oleh Allah. Karena Allah bekerja melalui penderitaan kita untuk kebaikan kita suapya kita semakin serupa dengan Kristus. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

TEMPAT YANG UTAMA

Ditulis Oleh : Sdri. Seventhina Harefa

.

.

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”

(Lukas 14:11)

.

.

Keagamaan dalam masyarakat Yahudi terbagi atas beberapa golongan seperti golongan kelompok orang Farisi, kelompok Ahli taurat, kelompok orang Zelot, kelompok Sanhendrin dll. Setiap golongan menganggap bahwa golongan-nyalah yang paling benar dibandingkan dengan golongan yang lain. Misalnya orang Farisi, menganggap bahwa mereka adalah kelompok yang benar-benar konservatif terhadap ajaran kitab taurat.

.

.

Kebudayaan  yang berkembang dalam kalangan Yahudi salah satunya, yaitu sifat menonjolkan diri di depan orang lain supaya di puji dan di sanjung. Mereka ingin menunjukkan kerohanian supaya dipuji, ingin berdiri paling depan di perkumpulan ibadah/acara tertentu supaya dihargai dan duduk berbondong-bondong di kursi paling depan supaya terpandang dan di hormati. Tidak dapat dipungkiri bahwa meraih posisi pertama, memperoleh penghargaan tertinggi, dan menjadi yang utama adalah impian kebanyakan orang dan tidak hanya dalam kebudayaan Yahudi tetapi dalam kehidupan kita di masa kini. Tanpa disadari itu adalah suatu hasrat yang membawa kita masuk ke dalam dosa kesombongan.

.

.

Perumpamaan Tuhan Yesus dalam Luk.14:7-11, merupakan suatu teguran yang tegas. Menyadarkan kita supaya mengubah prespektif  kita tentang tempat yang utama. Tempat utama dalam prespektif duniawi dan dalam pandangan Yesus jelas berbeda. Tuhan Yesus mengatakan bahwa barangsiapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan. Ayat ini memiliki makna bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan tidak perlu meninggikan diri atau menyombongkan diri dengan potensi yang kita miliki karena kesombongan itu hanya akan membuat kita tidak disukai, di rendahkan bahkan di cela. Tetapi ketika potensi yang kita miliki di aplikasikan seperti ilmu padi, maka tanpa harus menonjolkan diri di depan orang banyakpun, kita akan di hargai, di sukai bahkan akan memperoleh tempat yang utama itu.

.

.

Tempat yang utama (posisi terdepan/tempat terhormat) adalah suatu puncak pencapaian kebanyakan orang dalam usaha yang dilakukannya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa tempat yang utama bukanlah sekedar berada di tempat yang terhormat namun mereka yang rendah hati dan tidak sombong.

.

.

  1. Rendah Hati. Sifat rendah hati akan membuat kita mampu menahan amarah, mampu menghadapi situasi dihina dan direndahkan sekalipun. Ketika kita rendah hati maka celaan banyak orang dengan kesalahan yang tidak kita lakukan dapat kita hadapi dengan baik. Sikap ini akan membawa kita meraih tempat yang utama dalam kehidupan sehari-hari dan juga berkenan bagi Tuhan. Kita juga perlu memahami bahwa rendah hati tentu berbeda dengan rendah diri. Rendah hati adalah sikap yang menghasil tindakan yang baik, murah hati, lapang dada terhadap situasi apapun sedangkan rendah diri adalah suatu sikap insecure yang menghasilkan sikap buruk yang merugikan diri sendiri. Sebagai anak Tuhan marilah kita bersikap rendah hati.
  2. Tidak sombong. Ketika seseorang merasa bangga atas prestasi yang sudah di raih adalah hal yang wajar. Namun jangan sampai berlebihan karena itu akan membawa kita menjadi pribadi yang sombong. Orang yang sombong di benci Tuhan dan akan dipermalukan Tuhan. Kesombongan hanya akan membuat kita, kehilangan orang-orang yang mengasihi kita.

.

.

Saudara-saudari, marilah rendah hati dan tidak sombong supaya kita dapat mencapai tempat yang utama seperti yang di ajarkan oleh Tuhan Yesus. Kerendahan hati yang kita miliki, membuat kita dapat menjalani hari-hari kita lebih sukacita dan di sukai banyak orang.

.

.

“Hendaklah sikap rendah hati dan tidak sombong seperti yang diajarkan Tuhan Yesus memperbaharui kehidupan kita”

.

.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

MEMBERIKAN YANG TERBAIK

Ditulis Oleh : Sdri. Lesnia Lombu, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : 2 Korintus 8:2-8

.

.

.

.

Motivasi seseorang dalam hal memberi sangatlah beragam. Untuk itu sebaiknya kita sebagi orang percaya harus memeriksa hati kita disaat memberi, apakah kita memberi sudah berdasarkan kebenaran atau memberi karena motivasi-motivasi lainnya.

.

.

Sebagai anak-anak Tuhan hal memberi bukan lagi hal baru untuk kita dengar bahkan untuk kita lakukan, namun memberi sudah menjadi gaya hidup kita sebagi orang percaya. dalam Firman Tuhan pada saat ini mengingatkan kita kembali, sudahkah kita menjadi pribadi yang melakukan sesuai dengan tema “Memberikan yang terbaik” untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita pahami mengenai bagaimana pemberian yang tebaik?

.

.

  1. Pemberian dengan kualitas dan hati yang tulus (Ayt. 2-3)

    Jemaat Makedonia memberikan teladan yang luar biasa, dalam hal sukacita dalam memberika yang terbaik. Ayat 2 Paulus memberikan kesaksian tentang keadaan jemaat Makedonia yang saat itu mengalami penderitaan dan dicobai dengan berat. Tetapi keadaan yang demikian tidak melunturkan kemurahan jemaat Makedonia pada saat itu sehingga paulus mengatakan “Meskipun mereka sangat miskin, namun kaya dalam kemurahan”. Dalam hal memberi Jemaat Makedoni telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan paulus mengatakan Jemaat memberi melampaui kemamuan mereka. Hal tersebut jemaat lakukan karena mereka memberi pemberian dengan kualitas dan hati yang tulus.  
  2. Memberi bukan karena paksaan namun dengan kerelaan hati (Ayt. 4)

    Zaman sekarang banyak orang yang hanya senang menerima, dan tidak mudah untuk memberi. Melihat situasi dan kondisi yang saat ini tergolong dalam masa kesulitan, cenderung orang tidak mudah untuk memberi namun nyaman hidup dalam menerima. Berbeda halnya dengan Jemaat Makedonia pada saat itu dalam ayt. 4 Paulus menjelaskan bahwa Jemaat memiliki inisiatif sendiri untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus, mereka melakukan bukan karena perintah, atau paksaan dari siapapun tetapi Rasul Paulus mengatakan bahwa “Dengan kerelaan sendiri”. ini adalah sebuah tantangan yang mendorong kita sebagai Jemaat Tuhan pada masa kini untuk melihat kembali pada diri kita sendiri, apakah kita memberi karena satu paksaan atau sudahkah kita memiliki inisiatif sendiri mengambil bagian dalam hal memberi yang tebaik dengan kerelaan hati?.
  3. Memberi dengan iman, kasih dan syukur (Ayt. 5-7)

    Kita bukan lagi orang yang tidak mengerti apa itu iman, kasih, dan ucapan syukur. sebagai orang percayaya kita pastinya memilikiiman, hidup dalam kasih dan menjala hidup dengan mengucap syukur. Mengapa Jemaat Makedonia mampu melakukan hal ini dalam situasi yang seakan tidak mudah untuk dijalani? ternyata Jemaat pada saat itumemiliki rahasia hidup yaitu “Mempersembahkan diri mereka pertama-tama kepada Allah”. ini adalah kunci kemampuan jemaat mampu melakukan sesuatu diluar kemampuan mereka, dan saat ini kita juga sebagai jemaat Tuhan harus memiliki kunci hidup ini, supaya kita mampu memberikan yang terbaik sekalipun dalam kondisi yang sulit.

.

.

Banyak orang disekeliling kita membutuhkan pelayanan kasih, sebagai orang percaya jangan sampai kita menutup mata dengan hal ini. dalam Amsal 28:27 “siapa memberi kepada oang miskin tidakakan kekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki”. Jika Jemaat Makedonia mampu memberikan pemberian yang terbaik, kita juga sebagai Jemaat Tuhan pada saat ini pasti mampu melakukannya dalam perjalanan kehidupan kita setiap hari. Orang yang senang memberi tidak akan kekurangan dalam hidupnya namun selalu merasa cukup dan benar-benar hidup dalam kecukupan karena selalu ada rasa syukur.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

JAWABAN DOA YANG TIDAK SESUAI HARAPAN

Ditulis Oleh : Pdt. Joni, S.Th.

.

.

.

.

Habakuk 2 : 4

“Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya”

.

.

.

.

.

.

Pernahkah saudara bertanya : Dimana keadilan Allah? Mengapa orang berdosa tidak dihukum? Jika pernah, saudara sama dengan nabi Habakuk. Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru sangat menghantui Habakuk karena ia melihat penduduk Yehuda melakukan kejahatan rohani dan sosial, namun Allah tidak menghukum mereka. Bahkan ketika Habakuk berseru kepada Tuhan, ia malah mendapatkan jawaban yang mencengangkan. Allah justru menghukum Yehuda melalui orang-orang kasdim yang terkenal dengan keperkasaan dan ketangkasan yang tiada banding saat itu, bangsa kasdim yang dengan sombong akan melibas semua musuh mereka, termasuk bangsa Yehuda.

.

.

Ketidaksetiaan bangsa Yehuda kepada Tuhan, dengan memperlihatkan kejahatan mereka, yang penuh dengan kekerasan dan mencari keuntungan pribadi, bahkan tidak peduli dengan sesama dimana mereka hidup dalam kesombongan. Kenyataan ini menjadi pergumulan nabi Habakuk dimana Tuhan tidak segera menghukum Yehuda, sehingga ia mempertanyakan kesetiaan dan keadilan Allah. Disinilah Allah membangkitkan orang kasdim yang garang, ganas menakutkan dan tanpa belas kasihan untuk menindas ataupun memberi pelajaran atas bangsa Yehuda, tetapi hal ini tidak sesuai dengan haparan nabi habakuk.

.

.

Sekalipun demikian nabi Habakuk tidak putus asa, dia terus bergumul menantikan jawaban Tuhan atas pergumulannya, hingga akhirnya ia mendapatkan jawaban bahwa semua itu akan mendapat penghukuman sesuai waktu yang ditentukan Tuhan. Namun satu hal yang menjadi pengutan bagi nabi Habakuk, bahwa orang yang benar akan hidup oleh percayanya. Bagaimana dengan saudara, apakah yang menjadi pergumulan saudara saat ini? Adakah saudara datang kepada Tuhan dan meminta jawaban dari Tuhan? Apakah saudara tetap berdoa sekalipun jawaban pergumulan saudara tidak sesuai dengan harapan saudara? Adakah saudara tetap hidup dalam kebenaran dengan setia percaya kepada Tuhan.

.

.

Marilah kita belajar dari  pengalaman nabi Habakuk, sekalipun jawaban doanya tidak sesuai harapannya, namun ia senantiasa setia berdoa, hidup bergantung kepada Allah dengan tetap percaya bahwa jawaban doa itu sesuai dengan waktu yang ditentukan Tuhan. Sebagaimana dalam pengkhotbah 3:11a bahwa “Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya,”. Amin. Tuhan Yesus Memberkati.  

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Pelayanan dalam Kemustahilan

Ditullis Oleh : Pdt. Erik Kristovel, S.Th.

.

.

Pembacaan Alkitab : (Yeh. 3:1-11)

.

.

.

.

Akan tetapi kaum Israel tidak mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku, karena seluruh kaum Israel berkepala batu dan bertegar hati (Yeh. 3:7)

.

.

.

.

Apa yang ada di dalam pikiran kita saat kita melayani tetapi orang-orang menolak kita? Apa yang kita pikirkan saat kita melayani tetapi orang-orang yang kita layani dikuasai oleh kekerasan hati? Bacaan kita saat ini menggambarkan tentang bangsa yang dikatakan tegar tengkuk (Kel. 32:9). Nabi Yehezkiel akan memberitakan pesan Tuhan kepada bangsa yang tidak akan mendengarkanNya (ay. 7).

.

.

Situasi ini tentu membuat kita belajar pada hakekatnya manusia tidak mencintai Tuhan dan membenci kebenaran. Tidak ada seorangpun yang mencari Allah (Rm. 3:11). Manusia secara hakekat telah mati dalam dosa (Ef. 2:1). Manusia tidak mampu melepaskan diri dari dosa karena diperbudak oleh dosa (Yoh. 8:34). Rasul Paulus mengakui bahwa tidak mungkin manusia bisa melepaskan diri dari tubuh maut (Roma 7:23-24). Karena itu, jika kita berbicara tentang pelayanan, itu adalah kemustahilan bagi manusia. Karena pada dasarnya manusia tidak mungkin bertobat.

.

.

Jika kita memperhatikan bacaan kita pada saat ini, dalam kemahatahuan Allah bahwa Yehezkiel tidak akan didengarkan, Allah tetap menyuruh nabi Yehezkiel untuk memberitakan pesan-Nya. Ada 3 hal yang perlu kita ketahui dari bacaan kita pada saat ini.

.

.

  1. Berisi sebelum beraksi (ay. 1-3). Sebelum kita memberitakan Injil, kita harus lebih dahulu mengenal Allah melalui firman-Nya. Jika kita tidak mengenal Allah, kita akan memberitakan pesan Tuhan yang salah pada jemaat. Karena itu sang nabi diperintahkan untuk memakan kitab. Jika kita bawa ke konteks kita, kita harus mengerti kitab suci. Kitab suci tidak hanya berbicara tentang janji dan berkat Tuhan tetapi juga teguran dan dosa. Tentu saja itu tidak enak. Tetapi jika kita mencintai Allah dan firmanNya, kita akan menyukai apapun isi firman Allah. Semangat dan kerinduan yang dalam melayani Allah itu sangat baik, tetapi jika kita akan menyampaikan pesan Allah, mari kita lebih dahulu memperdalam pemahaman kita tentang firman Allah.
  2. Setia. Nabi Yehezkiel melayani Allah tetapi tidak didengarkan oleh bangsa Israel (ay. 4-7). Menyampaikan pesan Allah tetapi tidak didengarkan bisa menimbulkan kekecewaan. Tetapi Tuhan tidak berkata bahwa semua orang akan mendengarkan firman Tuhan. Malah sebaliknya. Artinya yang perlu kita lakukan adalah tetap setia melayani. Berapa banyak orang yang sudah bertobat dalam pelayanan kita? Satu atau dua? Atau malah tidak ada? Jangan menyerah. Tuhan ingin kita setia dalam melayani Dia. Apakah kita ditolak? Apakah orang tidak menyukai pelayanan kita? Tuhan ingin kita tetap setia melayani. Penolakan orang bisa beralasan dan bisa tidak. Karena itu yang paling penting adalah kita terus belajar berdasarkan poin pertama dan setia sampai akhir.
  3. Tuhan yang memampukan (ay. 8-11). Ditolak itu pasti. Diabaikan itu bisa saja terjadi. Tetapi dalam pelayanan kita, Tuhan tidak membiarkan kita. Dibidang apapun pelayanan kita, kita pasti diperlengkapi dan diberikan kekuatan dalam menghadapi tantangan. Tuhan berfirman pada nabi Yehezkiel bahwa Tuhan akan meneguhkan hatinya seperti kerasnya batu intan yang lebih keras daripada batu biasa. Artinya begini, sekeras-kerasnya manusia, ketidak mungkinan adanya pertobatan, akan tetap kalah dengan anugerah Allah. Rasul Paulus dengan tepat  mengatakan bahwa pencobaan tidak akan melebihi kekuatan kita karena Tuhan yang memberi kekuatan (1 Kor. 10:13). Karena itu, jangan takut melayani Tuhan. Jangan takut menghadapi kemustahilan. Itu bukan urusan kita. Tuhan hanya ingin kita tetap setia melayani dan Tuhan yang memberikan kemampuan.

.

.

Sebagai Pelayan Tuhan kita perlu menyadari bahwa Pertobatan itu anugerah Allah. Roh Kudus yang menginsafkan kita akan dosa (Yoh. 16:8); Roh kudus yang melahirkan kita kembali (Yoh. 3:3-6) dari kematian kita secara rohani (Ef. 1:1). Karena itu pertobatan bukan hanya sekedar orang mendengarkan dan mereka mendapat pilihan. Tetapi Allah sendiri yang menarik orang kepada pertobatan (Yoh. 6:44). Mengapa ditarik? Karena pada hakikatnya manusia tidak mau. Ditarik dan bukan didorong. Artinya ada perlawanan terhadap anugerah Allah karena itu ini pekerjaan mustahil tetapi tidak mustahil bagi Allah. Hanya Allah yang mampu memberikan pertobatan. Kita hanya alat. Kita tidak perlu sombong jika banyak orang bertobat melalui pelayanan kita dan rendah diri jika hanya sedikit orang yang mengalami pertobatan. Sekali lagi, kita hanya alat Allah. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Selebihnya, serahkan pada Allah yang mahakuasa. Tuhan memberkati kita. Amin.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Categories
Uncategorized

Percaya Untuk Melayani  

Ditulis Oleh : Sdr. Delis Zai

.

.

Pembacaan Alkitab : Filipi 1:27-30

.

.

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan  saja untuk  percaya kepada kristus, melainakn menderita utnuk Dia.

Filipi 1:29

.

.

.

.

Percaya menurut KBBI yaitu meyakini bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Percaya adalah bukanlah kata yang baru lagi untuk di dengar, tetapi percaya merupakan suatu keberanian untuk melakukan segala sesuatu terlebih-lebih dalam suatu pekerjaan. Namun, kepercayaan untuk melayani disini suatu hal kepercayaan kita untuk melayani. Memang, dalam percaya untuk melayani, banyak hal yang kita temukan di dalam kehidupan kita atau yang disebut keragu-raguan. Sesuai dengan Thema bahwa “percaya untuk melayani”. Tetapi, bagaimana cara kita harus percaya untuk melayani.

.

.

  1. Berpegang teguh kepada Kristus  (ayat 27).

    Arinya kita harus setia atau taat dalam melayani kristus, memang dalam pelayanan ada banyak hal yang kita temui yaitu penderitaa, pergumulan, dll. Dalam situasi yang kita alami tersebut, jangan kita pernah minder  hanya gara-gara banyak pergumulan. Namun, harus berpegang teguh kepada kristus. Karena dalam alkitab mengatakan Mat 10:38 barangsiapa tidak memikul salibnya dan megikuti Aku, ia tidak layak bagiku. Ketika kita melewati semua rintangan yang kita alami, ada suatu berkat yang kita terima dari Dia yaitu Damai Sejahtera.
  2. Memperoleh kasih karunia (ayat 29).

    Artinya kita telah memperoleh kasih Kristus didalam kehidupan kita, dimana Tuhan rela mati bagi kita untuk menanggung dosa-dosa kita, rela disalibkan diatas kayu salib. Lalu bagaimana kita memperoleh kasih karunia dari Tuhan itu? Yaitu harus mengasihi sesama, meneladani perintah Kristus, menjadi saksi kristus di tengah-tengah banyak orang, menjadi berkat.
  3. Beroleh hidup yang kekal (ayat 30).

    Artinya hidup yang kekal adalah merupakan perjalanan kita untuk mengenal Yesus Kristus didalam kehidupan kita sehari-hari. Memang, hubungan kita dengan Tuhan itu hanay sebatas Do’a. Lalu apakah kita sudah mengenal Kristus di dalam kehidupan kita sehari-hari (coba kita renungkan didalam kehidupan kita). Jika kita sudah mengenal Kristus didalam kehidupan kita. Maka, janganlah kita hidup didalam dosa lagi artinya kita sudah memperoleh hidup yang kekal didalam Kristus.

.

.

Lalukanlah pelayananmu dengan penuh kepercayaan, dengan membutuhkan kesetiaan, komitmen dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email